Bagikan:

JAKARTA – Penggunaan DeepSeek, model Kecerdasan Buatan (AI) yang populer selama sebulan terakhir, menyebabkan kekhawatiran di beberapa negara. Bahkan, pesaing ChatGPT mulai dilarang oleh pemerintah.

Sejauh ini, pihak yang melarang penggunaan DeepSeek adalah pemerintah AS, Italia, dan Australia. Mereka khawatir dengan keamanan data dan potensi tereskposnya informasi sensitif ke China. Akan tetapi, pemblokiran ini tidak akan berjalan dengan mudah.

Menurut pakar teknologi di Tenable, perusahaan keamanan siber yang memanfaatkan AI, pemblokiran akses ke DeepSeek tidak seperti membatasi situs web atau aplikasi seluler. Model AI ini masih bisa dijalankan melalui cloud atau diintegrasikan ke aplikasi.

"Melarang akses ke situs web dan aplikasi seluler DeepSeek mudah saja. Namun, karena DeepSeek LLM sendiri bersifat open-source, memblokir akses ke sana tidak semudah itu, karena dapat dijalankan secara lokal di perangkat," kata Insinyur Penelitian Staf Senior Tenable Satnam Narang.

Maka dari itu, Narang meyakini bahwa larangan ini tidak akan diterapkan dengan mudah. Meski dilarang di perangkat pemerintahan demi melindungi data sensitif negara, model AI ini masih bisa diakses di perangkat pribadi.

Namun, di sisi lain Narang memahami kekhawatiran pemerintah. Menurutnya, DeepSeek memiliki fitur keamanan yang kurang baik sehingga paparan informasi sensitif sangat mungkin terjadi. Hal ini terbukti dengan bocornya data Deepsek beberapa pekan lalu.

"Aspek lain yang mengkhawatirkan dari DeepSeek bukan hanya paparan informasi sensitif, tetapi juga kurangnya fitur keamanan pada model tersebut, karena dapat digunakan untuk tujuan yang merugikan atau jahat," ungkap Narang dalam keterangan yang VOI terima.