JAKARTA - Jaecoo produsen otomotif asal China sudah memiliki line up mobil yang tergolong lengkap di pasar otomotif Indonesia, ada versi ICE, Super Hybrid System (SHS) J7 dan J8 dan EV murni, dari model J5 EV.
Saat ini, versi EV dari J5 memang cukup diminati, bahkan antrean mengeluar dengan pesanan telah mencapai ribuan unit. Namun, model lainnya ternyata juga cukup diminati terutama Super Hybrid System (SHS).
"Saat ini kita ada tiga line up yang memang lengkap, dan untuk penerimaan market sekarang saling melengkapi dan maraknya permintaan J5 EV membantu mendongkrak model lain, beriringan saling tinggi peminat," kata Marketing Jaecoo Indonesia, M. Ilham Pratama, saat ditemui di Kemayoran, Jumat, 13 Januari.
Menurutnya saat ini EV sudah ada market khusus, dan untuk SHS sendiri market ingin eksperience berbeda. Misalnya di dalam kota ingin menggunakan EV murni dan berpergian jauh membutuhkan range panjang.
"Tapi tetap SHS itu menawarkan efisensi tinggi dan pasarnya beragam. Ada contoh di Bandung, itu ada yang ingin menggunakan EV di dalam kota, di Makassar juga sama," tambahnya.
BACA JUGA:
Cocok untuk mudik
Periode mudik Lebaran yang semakin dekat mendorong perhatian masyarakat pada kesiapan kendaraan untuk perjalanan lintas provinsi dengan durasi
panjang dan kondisi lalu lintas yang sulit diprediksi. Kebutuhan akan kendaraan yang hemat bensin, fleksibel tanpa harus sering antre di SPKLU, serta tetap nyaman di tengah kemacetan membuat teknologi hybrid generasi baru semakin relevan.
Pendekatan Super Hybrid System (SHS) pada lini SUV elektrifikasi JAECOO diposisikan sebagai solusi praktis agar mudik tetap tenang tanpa dihantui rasa khawatir kehabisan daya (range anxiety). Apalagi mengingat karakter mudik di Indonesia yang identik dengan kombinasi tol Trans Jawa maupun Sumatera, kemacetan panjang di arteri, serta jalur menanjak dengan ritme berkendara yang berubah-ubah.
Head of Product JAECOO Indonesia, Ryan Ferdiean Tirto, menyampaikan bahwa sistem SHS memang dirancang untuk menyesuaikan penggunaan mesin dan motor listrik secara otomatis sesuai kondisi jalan.
"Pola kerja adaptif ini membantu kendaraan tetap responsif saat menyalip, namun tetap irit saat merayap di tengah kemacetan. Ini sangat pas untuk karakter mudik kita yang jaraknya bisa ratusan kilometer,” jelasnya Ryan.