Bagikan:

JAKARTA – Produsen otomotif asal Jepang mulai mengalihkan fokus produksi mobil dan pabrik barunya ke India. Hal ini sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan pada China yang semakin menantang secara bisnis.

Toyota Motor Corporation, Honda Motor Co., Ltd., dan Suzuki Motor Corporation dikabarkan menyiapkan investasi lebih dari 11 miliar dolar AS, atau sekitar Rp180 triliun, untuk menjadikan India sebagai pusat produksi mobil sekaligus basis ekspor global.

Toyota dan Suzuki sendiri merupakan pemimpin pasar India dengan pangsa hampir 40 persen. Toyota berencana memperluas kapasitas produksinya di India hingga lebih dari satu juta unit per tahun.

Sementara itu, Suzuki menargetkan peningkatan kapasitas produksi dari 2,5 juta menjadi 4 juta unit. Honda pun akan memanfaatkan fasilitas di India sebagai basis produksi dan ekspor untuk salah satu mobil listriknya yang akan diluncurkan pada 2027.

Langkah besar ini didorong oleh sejumlah faktor. Selain biaya tenaga kerja yang lebih rendah, India kini menawarkan kualitas manufaktur yang semakin kompetitif serta dukungan kuat dari pemerintah melalui berbagai insentif industri.

Di sisi lain, kondisi pasar China yang semakin ketat akibat perang harga dan ekspansi agresif produsen lokal membuat produsen Jepang mencari alternatif yang lebih stabil. Pemerintah India juga berperan penting dengan memperketat pembatasan investasi dari China, sehingga membuka peluang lebih besar bagi perusahaan Jepang untuk memperkuat posisinya.

Toyota menargetkan pangsa pasar mobil penumpang di India naik dari sekitar delapan persen menjadi sepuluh persen pada akhir dekade ini. Meski begitu, para analis menilai India tetap menjadi pasar yang penuh tantangan. Beberapa produsen global sebelumnya tidak berhasil di negara tersebut karena selera pasar yang unik dan persaingan harga yang ketat.

Perang harga yang brutal antar produsen kendaraan listrik China telah menyulitkan mereka untuk meraih keuntungan di negeri Tirai Bambu tersebut. Parahnya lagi, produsen mobil China kini berekspansi ke luar negeri dan merebut pangsa pasar dari para pesaing Jepang di Asia Tenggara.

"India adalah pilihan yang baik sebagai pasar pengganti China," kata analis otomotif di Pelham Smithers Associates di London Julie Boote, seperti dilansir dari Reuters, Jumat 7 November.

"Untuk saat ini, Jepang menganggapnya sebagai pasar yang jauh lebih baik karena mereka tidak perlu berurusan dengan pesaing China," tambahnya.

Para eksekutif mengatakan, daya tarik lainnya termasuk peningkatan kualitas barang-barang manufaktur India dan insentif dari pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi. Toyota dan Suzuki masing-masing memegang kepemilikan mayoritas atas unit mereka di India. Honda memiliki 100% bisnisnya di sana.

Saat produsen mobil Jepang meningkatkan investasi di India, mereka mulai kehilangan minat terhadap China: investasi langsung di sektor transportasi China mengalami penurunan 83 persen selama periode yang sama, menjadi 46 miliar yen tahun lalu.