Bagikan:

JAKARTA – Pendiri JHL Group, Jerry Hermawan Lo, mengusulkan agar mobil hybrid mendapat perlakuan istimewa yang setara dengan mobil listrik murni. Usulan ini ia sampaikan dalam momen peluncuran produksi lokal BAIC BJ40 Plus di Purwakarta, Jawa Barat, baru-baru ini.

Melalui perusahaannya PT JHL International Otomotif (JIO), agen pemegang merek BAIC di Indonesia, Jerry berharap pemerintah memberikan insentif seperti pelat nomor berbingkai biru dan pembebasan dari aturan ganjil-genap untuk mobil hybrid. Menurutnya, langkah ini bisa mendorong masyarakat untuk beralih ke kendaraan yang lebih ramah lingkungan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada listrik.

"Ini sedikit usul, kalau bisa mobil hybrid dihilangkan ganjil-genapnya dan diberi pelat biru seperti mobil listrik. Supaya ada daya saing dan minat masyarakat juga makin tinggi," ujarnya.

Jerry juga menyoroti bahwa mobil full listrik belum tentu menjadi solusi ideal di semua kondisi, terutama untuk medan berat atau daerah pegunungan seperti tempat operasional BJ40. Ia menilai, dalam situasi darurat ketika kendaraan kehabisan daya, kehadiran mesin pembakaran di mobil hybrid bisa menjadi penyelamat.

"Mobil listrik memang bagus, tapi kalau semuanya harus full listrik, terutama di wilayah pegunungan, bisa repot kalau tiba-tiba kehabisan daya. Jadi saya berharap di kota-kota besar, mobil hybrid bisa dibebaskan dari ganjil-genap," jelasnya.

Sebagai bagian dari strategi elektrifikasi BAIC di Indonesia, JIO juga bersiap menghadirkan model hybrid ke pasar nasional. Salah satunya adalah BAIC BJ30 Hybrid, yang rencananya akan dirakit secara lokal di fasilitas Handal Purwakarta dan meluncur tahun ini.

Jerry memastikan bahwa peluncuran BJ40 Plus hanyalah langkah awal.

“Momen bersejarah ini tidak akan berhenti di BJ40 Plus saja. Tahun-tahun mendatang, akan hadir model seperti BJ30 hybrid, BJ40, dan BJ41—semoga semuanya bisa segera diproduksi di Purwakarta,” pungkasnya.