Bagikan:

JAKARTA – Setelah penantian panjang dan drama politik di balik layar, raksasa mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla, akhirnya resmi memulai penjualan kendaraannya di Arab Saudi pada Rabu 9 April 2025. Langkah ini menandai babak baru dalam peta persaingan kendaraan listrik (EV) di kerajaan kaya minyak tersebut.

Namun, debut Tesla diwarnai tantangan signifikan, terutama terkait minimnya infrastruktur pengisian daya. Bayangkan, di sepanjang jalur utama timur-barat sepanjang 900 kilometer yang menghubungkan ibu kota Riyadh dan kota suci Mekah, tidak ditemukan satu pun stasiun pengisian daya untuk mobil listrik.

Data dari analis Telemetry, Sam Abuelsamid, menunjukkan betapa kecilnya pasar EV di Arab Saudi saat ini. Penjualan mobil listrik di seluruh kerajaan hanya mencapai 2.000 unit pada tahun lalu, jumlah yang bahkan lebih sedikit dari penjualan harian rata-rata Tesla.

Dilaporkan Reuters, dikutip Kamis, 10 April, Tesla sebelumnya kesulitan menembus pasar Arab Saudi akibat perselisihan antara CEO Elon Musk dan Public Investment Fund (PIF), dana kekayaan negara Arab Saudi yang sangat berpengaruh, sejak tahun 2018.

Kini, lanskap politik yang berubah memberikan angin segar bagi Musk. Hubungan antara Riyadh dan Musk dikabarkan membaik sejak keterlibatan aktifnya dalam kampanye pemilihan Presiden AS Donald Trump dan posisinya di pemerintahan Trump. Kunjungan kenegaraan Trump ke Arab Saudi dalam beberapa minggu mendatang, yang merupakan perjalanan luar negeri pertamanya, diprediksi akan menjadi momentum penting.

"Banyak pebisnis yang berpikir bagaimana memposisikan perusahaan mereka menjelang kunjungan Presiden Trump ke Teluk," ujar Robert Mogielnicki, seorang sarjana senior di Arab Gulf States Institute di Washington. 

"Saya menduga Tesla ingin menancapkan benderanya kuat-kuat di pasar Saudi sebelum kunjungan Presiden Trump dan kemudian mencoba memanfaatkan momentum setelahnya," tambahnya.

Tantangan Berat di Depan Mata

Selain minimnya infrastruktur pengisian daya, Tesla juga akan menghadapi tantangan lain di Arab Saudi. Suhu musim panas yang ekstrem, yang dapat mencapai lebih dari 50 derajat Celsius, berpotensi menguras baterai EV lebih cepat.

Data dari Statista yang diolah oleh Electromaps menunjukkan bahwa hingga tahun 2024, Arab Saudi hanya memiliki 101 stasiun pengisian daya EV, jauh tertinggal dari Uni Emirat Arab (UEA) yang memiliki 261 stasiun meskipun populasinya hanya sepertiga dari Arab Saudi. Sebagian besar stasiun pengisian daya pun terkonsentrasi di kota-kota besar, membuat perjalanan jarak jauh melintasi jalan raya gurun menjadi tidak praktis.

"Saya pikir pengisian daya mungkin menjadi salah satu, jika bukan yang utama, poin kekhawatiran," kata Carlos Montenegro, General Manager BYD di Arab Saudi. 

Ia menambahkan bahwa pengemudi di Arab Saudi cenderung menempuh jarak yang lebih jauh setiap tahunnya dibandingkan pasar lain. Fakta bahwa sekitar 70 persen mobil BYD yang terjual di Arab Saudi adalah model hybrid, bukan EV murni, juga menjadi indikasi tantangan ini.

Kekhawatiran serupa diungkapkan oleh Fahd Abdulrahman, seorang warga Saudi yang sedang melihat-lihat mobil di showroom BYD Riyadh.

 "Saya banyak mengemudi, rata-rata lebih dari 50.000 km per tahun. Saya khawatir EV tidak akan cocok untuk itu," ujarnya.

Meskipun demikian, Riyadh memiliki rencana pengembangan infrastruktur EV yang sangat ambisius. Pemerintah menargetkan adopsi EV mencapai 30 persen pada tahun 2030. Untuk mencapai target ini, mereka telah membentuk Electric Vehicle Infrastructure Company yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah pengisi daya menjadi 5.000 unit pada tahun 2030, 50 kali lipat dari jumlah saat ini.