JAKARTA - Penjualan mobil listrik di Eropa turun 6 persen tahun lalu dibandingkan torehan tahun sebelumnya.
Di tengah kondisi pasar EV yang tidak menentu, produsen mobil di Eropa harus membayar denda jika rata-rata emisi karbon dioksida di seluruh jajarannya melebihi batas yang telah ditetapkan mulai tahun ini. Hal tersebut merupakan langkah pertama dari beberapa langkah yang dikenal sebagai “European Green Deal”.
Kebijakan tersebut diberlakukan demi mengurangi emisi gas rumah kaca setidaknya sebesar 55 persen pada 2030 yang diharapkan dapat menghilangkan 100 persen polusi udara pada tahun 2050 mendatang.
Ini merupakan peraturan yang sama secara efektif melarang penjualan mobil bertenaga bensin terbaru mulai 2035 mendatang demi membuka jalan bagi EV masa depan. Namun, kebijakan ini menimbulkan kontroversi sendiri dari pemain otomotif seperti Mercedes-Benz.
CEO Mercedes-Benz, Ola Kallenius telah mengirimkan surat terbuka kepada European Commission dan Parlemen Eropa untuk menyuarakan dihentikannya denda yang akan datang.
“Industri otomotif khususnya perlu mengetahui cara memitigasi risiko ketidakpatuhan yang signifikan,” kata Kallenius dikutip dari InsideEVs, Senin, 20 Januari.
Pria yang juga menjabat sebagai President European Automobile Manufacturers Association (ACEA) ini, menambahkan denda tersebut akan merugikan industri dan uang tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan penelitian dan pengembangan untuk EV terbaru yang lebih terjangkau.
“Hukuman berat bagi ketidakpatuhan terhadap CO2 ini dapat dialihkan ke dana yang diperlukan untuk kebutuhan penelitian dan pengembangan serta investasi lainnya,” tambah Kallenius.
Kallenius berpendapat bahwa kebijakan European Green Deal harus ditinjau ulang dan dapat disesuaikan agar regulasi yang ditetapkan tidak terlalu kaku dan lebih fleksibel.
“Kesepakatan ini harus ditinjau ulang dan diselaraskan kembali agar tidak terlalu kaku dan lebih fleksibel, sehingga dapat mengubah dekarbonisasi industri otomotif menjadi model bisnis yang lebih ramah lingkungan dan menguntungkan,” jelas Kallenius.
BACA JUGA:
Pria berdarah Swedia ini menyebut hadirnya lebih banyak insentif dapat menjadi solusi untuk meningkatkan penjualan EV di Eropa serta adanya kerja sama dengan perusahaan energi, operator telekomunikasi, dan pihak lainnya.
Meskipun demikian, Kallenius berpendapat bahwa pabrikan di Eropa masih setuju dengan rencana dekarbonisasi di tahun 2050 serta peralihan ke transportasi dan mobilitas tanpa emisi.
“Industri otomotif UE tetap berkomitmen terhadap tujuan netralitas iklim pada tahun 2050 serta peralihan ke transportasi dan mobilitas tanpa emisi. Namun, strategi dekarbonisasi pada sektor otomotif harus menciptakan pertumbuhan ekonomi dan daya saing, bukan mengekangnya,” terang Kallenius.
Mulai tahun ini, tingkat rata-rata emisi di seluruh kendaraan berpenumpang harus lebih rendah dari 95 g/km atau turun dari 116 g/km. Sementara, kendaraan komersial ringan harus berada di bawah 147 g/km.
Meskipun demikian, batasan tersebut dapat bervariasi tergantung pada berat rata-rata mobil yang terjual pada tahun 2025, serta tambahan yang diperoleh dari penjualan kendaraan tanpa maupun rendah emisi.