Idulfitri pada dasarnya adalah ajakan untuk kembali. Kembali jernih setelah sebulan menahan diri. Kembali rendah hati setelah sebulan mengendalikan hasrat. Kembali membuka hati lewat maaf yang diminta dan maaf yang diberikan. Karena itu, Lebaran tidak hanya dirayakan di masjid atau di meja makan. Lebaran hidup dalam pelukan keluarga, dalam pertemuan dengan orang tua, saudara, dan kerabat yang lama tak bersua.
Di situlah mudik menjadi lebih dari sekadar perjalanan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di laman resminya mengingatkan, mudik memiliki makna sosial yang kuat yakni menjaga relasi keluarga dan ikatan kekerabatan. Karena itu, ketika orang pulang, yang mereka bawa bukan hanya tas dan oleh-oleh. Mereka juga membawa rindu, ingatan, dan keinginan untuk memulihkan hubungan yang mungkin sempat renggang.
Tahun ini, arus pulang itu sangat besar. Kementerian Perhubungan memproyeksikan pergerakan masyarakat selama masa Lebaran 2026 mencapai 143,91 juta orang, setara 50,60 persen penduduk Indonesia. Angka-angka itu menunjukkan betapa kuat dorongan manusia untuk pulang, bahkan ketika keadaan sedang tidak ringan. Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, mudik tetap dijalani. Itu menandakan bahwa bagi banyak orang, pulang bukan sekadar tradisi, melainkan kebutuhan batin.
Presiden Prabowo Subianto juga menangkap makna momen itu lewat simbol kehadiran. Pada 21 Maret 2026, ia melaksanakan salat Idulfitri di Masjid Darussalam, Aceh Tamiang, bersama warga. Diketahui warga Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat belum lama ditimpa bencana. Setelah itu, ia kembali ke Jakarta dan menggelar griya Idulfitri di Istana Negara. Kehadiran pemimpin di tengah warga, lalu keterbukaan Istana bagi rakyat, memberi pesan bahwa negara tidak boleh terasa jauh pada hari yang sarat makna kebersamaan ini.
BACA JUGA:
Namun, nilai Idulfitri sesungguhnya tidak berhenti pada simbol. Nilainya justru lahir dari kedalaman makna. Setelah sebulan berpuasa, orang diajak menahan diri dari sikap berlebih-lebihan. Setelah sebulan menundukkan ego, menahan diri dari hawa dan nafsu. Setelah sebulan menata batin, orang pulang untuk menyambung hubungan yang putus, menghapus ganjalan, dan memulai kembali dengan hati yang lebih lapang.
Karena itu, Lebaran juga bisa menjadi cermin bagi negara. Negara perlu belajar “kembali” seperti manusia yang mudik. Kembali ke yang pokok, kembali ke kebutuhan rakyat, dan kembali ke akal sehat dalam mengelola anggaran.
Pelajaran itu terasa makin penting karena Lebaran tahun ini datang saat situasi global sedang tidak menentu. Pemerintah memang menyiapkan berbagai langkah untuk membantu masyarakat selama mudik. Namun pada saat yang sama, Indonesia juga menghadapi tekanan eksternal akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Di tengah gejolak itu, harga minyak dunia melonjak dan risiko terhadap ekonomi dalam negeri ikut membesar.
Pemerintah memang menyiapkan beberapa langkah untuk efisiensi. Namun, kata efisiensi tidak cukup dipahami sebagai istilah fiskal. Efisiensi adalah sikap moral. Ia menuntut negara membedakan mana yang esensial dan mana yang hanya pelengkap. Mana yang benar-benar dibutuhkan rakyat dan mana yang hanya menghabiskan anggaran tanpa manfaat besar. Di tengah harga energi yang rawan naik, ongkos logistik yang bisa terdorong, dan daya beli yang belum sepenuhnya pulih, setiap rupiah belanja negara seharusnya diarahkan ke hal yang paling berguna bagi masyarakat luas.
Mudik memberi pesan yang dalam. Orang pulang bukan karena hidup sedang mudah. Justru karena hidup sedang berat, orang ingin kembali ke sumber kekuatan paling awal yaitu keluarga. Di sini negara semestinya belajar hal yang sama. Dalam masa sulit, yang harus dirapikan pertama-tama adalah prioritas. Yang harus dijaga adalah kekuatan dasar yang menopang hidup rakyat.
Idulfitri mengajarkan bahwa kemenangan bukan soal kemeriahan. Kemenangan adalah kemampuan menahan diri. Bagi negara, menahan diri itu bernama efisiensi. Memangkas yang tidak perlu, mengutamakan yang perlu, dan memastikan rakyat merasakan hasilnya.
Pada akhirnya, rakyat tidak hanya membutuhkan negara yang hadir saat Lebaran. Rakyat membutuhkan negara yang, setelah semua ucapan maaf selesai diucapkan, tetap bekerja dengan hemat, jernih, dan setia pada kepentingan orang banyak.
Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin.