Bagikan:

JAKARTA – LSM Indonesia Peduli Olahraga (IPO) mempertanyakan transparansi keberadaan dana donasi yang diperoleh Indonesian Olympian Association (IOA) sejumlah Rp2,5 miliar. IPO berpandangan bahwa penggunaan dana yang seharusnya disalurkan untuk membantu atlet yang memerlukan dukungan dalam hal finansial, ternyata tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Kasus ini mencuat setelah mantan petinju amatir nasional asal Bali, juara Asian Games 1990 Beijing, Pino Bahari mengalami kecelakaan sepeda motor di Denpasar pada 13 April lalu. Pino mengalami luka parah, sehingga harus menjalani operasi dan perawatan di rumah sakit yang dikabarkan menghabiskan biaya Rp200 juta.

“IPO berpendapat bahwa IOA yang dikomandani Yayuk Basuki, Taufik Hidayat, dan Ling Ling Agustin, tidak peduli terhadap nasib atlet Indonesia yang berprestasi internasional. Padahal dari lelang amal pada Selasa 22 Juli 2025 yang juga dihadiri Menpora saat itu, Dito Ariotedjo, diperoleh dana segar mencapai Rp2,5 miliar,” ujar Ketua IPO, Erwiyantoro.

“Menurut mereka, dana yang terkumpul rencananya digunakan untuk membantu atlet berprestasi nasional maupun internasional yang mengalami kesulitan. Juga untuk mendanai program pengembangan atlet muda lintas cabang, melalui naungan IOA. Namun saat Pino Bahari mengalami musibah, justru tidak ada perhatian dari IOA. Lantas dana Rp2,5 miliar itu kemana?” ujar Erwiyantoro lagi.

Pino saat ini dikabarkan sudah keluar dari rumah sakit, namun masih tetap memerlukan perawatan untuk benar-benar pulih. Pino yang saat ini berusia 53 tahun adalah putra sulung mendiang pelatih tinju nasional, Daniel Bahari.

Pino menjadi juara Asian Games 1990 setelah mengalahkan petinju Mongolia, Altangerel Bandiin dalam final di kelas menengah (75 kg). Dia merupakan petinju Indonesia terakhir yang berhasil meraih emas di ajang Asian Games, setelah sebelumnya Wiem Gommies meraih emas kelas menengah di Asian Games Bangkok 1970 dan 1978.