Bagikan:

JAKARTA - Maroko telah memutuskan untuk mengajukan banding atas putusan yang mengakibatkan denda sebesar 415.000 dolar AS dan larangan bermain karena kekacauan di final Piala Afrika 2025.

Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) bulan lalu mendenda tuan rumah dan Senegal atas kerusuhan pada final di Ibu Kota Maroko, 19 Januari 2026.

Senegal memenangi pertandingan 1-0 setelah perpanjangan waktu dan memutuskan untuk tidak mengajukan banding atas putusan tersebut.

Federasi Sepak Bola Maroko (FRMF) dan pemain Ismael Saibari dikenai denda total 415.000 dolar AS. Saibari dan seorang rekan setimnya juga dilarang bermain.

Selama final di Rabat itu, anak-anak gawang mencoba merebut handuk milik kiper Senegal Edouard Mendy, tampaknya untuk mengalihkan perhatiannya, sebuah insiden yang menyebabkan denda 200.000 dolar AS bagi tuan rumah.

Maroko menganggap sanksi CAF tidak proporsional dengan insiden tersebut.

"Mengingat ketidaksesuaian sanksi ini dengan skala dan tingkat keparahan insiden, FRMF telah memutuskan untuk mengajukan banding atas keputusan ini," kata FRMF dalam sebuah pernyataan.

Final tersebut diwarnai oleh aksi para pemain Senegal yang meninggalkan lapangan sebagai protes atas penalti pada injury time dan upaya para suporter untuk menyerbu lapangan.

Pendukung tim tamu yang marah melemparkan kursi dan bentrok dengan petugas keamanan. Delapan belas orang menunggu persidangan atas tuduhan hooliganisme.

CAF mendenda Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) dan pelatih Pape Thiaw dengan total 715.000 dolar AS. Mereka juga memberikan sanksi kepada Thiaw larangan mendampingi tim dan larangan kepada dua pemain lainnya.

Larangan bermain hanya berlaku untuk pertandingan dalam koridor Afrika, bukan Piala Dunia yang akan dimulai pada Juni 2026, yang mana Senegal dan Maroko telah lolos kualifikasi.

Setelah final yang penuh gejolak, ketegangan berpindah dari lapangan ke media sosial. Di Maroko, kelompok hak asasi manusia memperingatkan terhadap peningkatan apa yang mereka sebut "ujaran kebencian terhadap penduduk sub-Sahara".

Sebagai tanggapan, para pejabat dari Maroko dan Senegal menyerukan ketenangan serta berupaya untuk menegaskan kembali hubungan ekonomi dan diplomatik negara mereka.