Bagikan:

JAKARTA - Harry Kane telah mengkonfirmasi para pemain Inggris mengadakan pertemuan untuk membahas tanggapan mereka terhadap kemungkinan pelecehan rasis di Serbia.

Sang kapten lebih lanjut mengatakan mereka akan mengikuti protokol UEFA jika sebuah insiden muncul selama Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa pada Rabu, 10 September 2025, dini hari WIB, di Beograd.

"Kami mengadakan pertemuan dan kami membahas protokol dari sudut pandang UEFA. Saya tidak berpikir kami ingin membahasnya terlalu banyak. Fokus kami ialah kepada permainan. Fokus kami ialah mencoba mengalahkan Serbia."

"Kami sedang memikirkan sepak bola, permainan, seperti yang dikeluarkan Federasi Sepak Bola Serbia, ialah tentang menikmati, menghormati, menikmati permainan, dan kami berharap itulah masalahnya besok," ujar Kane yang juga menyinggung pernyataan resmi Federasi Sepak Bola Serbia, dilansir ESPN.

Federasi Sepak Bola Serbia (FSS) mengeluarkan pernyataan yang memohon kepada para suporter mereka untuk perilaku baik setelah serangkaian masalah yang menyebabkan denda berjumlah lebih dari 700.000 euro (sekira Rp13,5 miliar) dalam lima tahun terakhir untuk berbagai perilaku, penghinaan, dan diskriminasi yang diarahkan dari tribun selama pertandingan tim nasional dan pilihan lainnya.

Ketika kedua tim bertemu di Euro 2024, UEFA menyelidiki tuduhan nyanyian diskriminatif oleh suporter Serbia meskipun tidak ada keluhan pada saat itu datang dari Inggris.

Karena rekam jejak Serbia itu, 15 persen dari Stadion Rajiko Mitic akan ditutup saat menjamu Inggris untuk Kualifikasi Piala Dunia 2026.

"Kami masih berada di bawah pemantauan khusus UEFA. Setiap reaksi, penghinaan, atau insiden yang tidak pantas dapat membuat kami membayar sangat mahal dalam jalur ke putran final Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada."

"Itulah alasan saya dengan tulus dan serius memanggi para suporter, mari kita bersorak dari hati, tapi biarkan itu adil," bunyi pernyataan Sekretaris Jenderal FSS, Branko Radujko.

Kane sudah tak asing dengan pelecehan yang dialami rekan-rekan setimnya. Dia merupakan kapten pada Oktober 2019 ketika Inggris menderita pelecehan rasis di Bulgaria.

Tak heran, ia pun langsung disorot mengenai potensi pelecehan rasis melawan Serbia dan dihujani pertanyaan apakah dia siap untuk melepas para pemain di Serbia.

"Kami siap melakukan apa yang diizinkan oleh protokol UEFA. Ini adalah hal-hal yang sulit dibicarakan sekarang karena kami tidak tahu apakah itu akan terjadi atau tidak."

"Namun, pada akhirnya, seperti yang saya katakan, kami siap. Kami berdiskusi sebagai kelompok sehingga jika dalam acara tersebut terjadi, kami akan siap untuk melakukan apa yang diperlukan," tutur Kane lagi.

Dukungan serupa mengalir dari pelatih Thomas Tuchel. Pelatih asal Jerman itu juga tak mau terlalu membahas soal pernyataan yang dikeluarkan FSS.

"Saya tidak (berbicara dengan para pemain tentang hal itu), tetapi orang-orang yang bertanggung jawab di FA berbicara dengan kami tentang hal itu."

"Kami sadar. Tetap saja, saya selalu percaya pada kebaikan. Saya selalu percaya bahwa kami akan memiliki kompetisi olahraga tingkat tinggi dan merayakan olahraga untuk apa itu."

"Kami sadar akan protokol, tetapi saya tidak ingin menempatkan fokus besar pada itu karena saya percaya pada keindahan olahraga dan keindahan permainan. Kami dapat memiliki pertandingan yang penuh hormat dan emosional besok," ujar Tuchel.

Protokol tiga langkah UEFA ketika diskriminasi terjadi selama permainan ialah menghentikan permainan dengan peringatan publik, kemudian menangguhkan pertandingan untuk jangka waktu tertentu, dan pertandingan dapat ditinggalkan jika situasinya tidak berubah.