Bagikan:

JAKARTA – Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) VIII 2025 di Nusa Tenggara Barat (NTB) semakin memperkuat Gili Trawangan sebagai destinasi sport tourism yang siap menyatukan olahraga, keindahan alam, dan ekonomi lokal dalam satu gelaran.

Salah satu pusat perhatian adalah Wah Resort Gili Trawangan, yang tampil sebagai venue utama untuk cabang olahraga stand up paddle (SUP) dan memancing rekreasi (APRI).

Berada tepat di tepi pantai, Wah Resort bukan sekadar arena lomba. Venue ini juga memadukan kesiapan teknis, panorama tropis, dan fasilitas berkelas yang memberi pengalaman berbeda bagi peserta maupun penonton.

Dari area start/finis yang luas, akses langsung ke laut, hingga layanan akomodasi dan jamuan tamu VIP, Wah Resort membuktikan standar event sport tourism yang layak diadu di panggung internasional.

Venue beachfront ini bukan sekadar lokasi lomba melainkan juga menjadi simbol sinergi antara pariwisata, olahraga, dan ekonomi. Tempat ini punya lokasi strategis sehingga memudahkan transisi dari darat ke laut bagi atlet serta panitia.

"Peserta harus cepat beradaptasi dengan kondisi ombak Gili Trawangan menjadi tantangan utama," ujar Herianto, penanggung jawab Inorga SUP Fornas VIII.

Wasit dalam lomba Inorga stand up paddle, Andi Yulianto, mengatakan bahwa venue ini pun sudah dipenuhi dengan berbagai fasilitas yang cukup baik.

"Menurut saya dari kegiatan olahraga stand up paddle, cukup lancar, fasilitas yang di sediakan sudah cukup memfasilitasi lomba. Begitu juga venue (Wah Resort) sangat sesuai dan indah sekali untuk diadakan olahraga ini," kata dia.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa karakter pantai, ombak, dan masyarakatnya sangat mendukung.

"Saya rasa ini salah satu venue yang paling sesuai untuk diadakan lomba kelas International yang biasa Sup Id (Stand Up Paddle Indonesia) adakan di beberapa daerah Indonesia sebelumnya," tutur dia.

Selain venue utama, beberapa akomodasi di Gili Trawangan turut mendukung ekosistem event, seperti Frii Resort Gili Trawangan, yang terletak di sisi barat pulau. Tempat ini dikenal dengan taman tropis rimbun dan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler dari beachfront.

Kemudian ada juga Jambuluwuk Oceano Gili Trawangan Resort. Ini adalah resor dengan desain tropis unik berbentuk lumbung, memiliki pantai pribadi, serta fasilitas snorkeling dan live music.

Selain memperkuat Gili Trawangan sebagai destinasi sport tourism, Fornas VIII juga menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat.

Tercatat perputaran uang NTB selama Fornas VIII diperkirakan mencapai Rp100–130 miliar. Itu berasal dari sektor akomodasi, transportasi, UMKM, kuliner, hingga destinasi wisata Gili Trawangan.

Okupansi hotel di Lombok dan sekitar Gili juga melonjak hingga 90 persen atau lebih, bahkan full booked sejak H-10 event. Adapun permintaan transportasi laut seperti fast boat naik hingga 200 persen.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menyatakan bahwa mereka memiliki persiapan yang sangat matang untuk menyambut pesta olahraga masyarakat dua tahunan tersebut.

"Kami tidak hanya menyiapkan venue dan fasilitas, yang kami siapkan adalah senyuman masyarakat, keramahan budaya, dan semangat pelayanan terbaik," ucap dia.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa NTB sangat siap untuk gelaran-gelaran internasional lainnya setelah keberhasilan menggelar Fornas VIII 2025 yang diikuti oleh puluhan ribu peserta.

"Percayalah apa yang kami lakukan ini, kami menciptakan fondasi kuat buat NTB ke depan menjadi salah satu destinasi yang favorit untuk event-event internasional, termasuk multievent," kata dia.

Pulau Gili Trawangan di NTB merupakan destinasi wisata unggulan. Kawasan tersebut punya pantai eksotis sehingga sebagaian besar masyarakatnya mengandalkan sektor wisata sebagai penopang ekonomi mereka.

Pulau eksotis seluas kurang lebih 340 hektar dengan garis pantai sekitar 7,5 km itu menawarkan pasir putih halus, laut biru jernih, serta panorama sunrise dan sunset yang memukau. Selain itu, terumbu karang yang kaya akan penyu dan ikan tropis menjadikannya surga snorkeling dan diving.

Gili Trawangan tercatat bebas dari kendaraan bermotor sehingga memberi suasana santai dan ramah lingkungan.

Transportasi yang diizinkan di pulau tersebut adalah sepeda dan cidomo (alat transportasi tradisional khas Lombok yang ditarik kuda, mirip dengan delman atau andong di Jawa, tapi menggunakan roda mobil bekas). Opsi lainnya ialah dengan berjalan kaki.

Akomodasinya pun beragam, dari homestay sederhana hingga resor mewah tepi pantai. Malam hari, kafe dan restoran tepi pantai ramai dengan sajian seafood segar dan hiburan musik, menjadikan Gili Trawangan sebuah destinasi liburan yang tak terlupakan.