JAKARTA - Emma Raducanu menderita kekalahan memalukan dari Iga Swiatek di Babak Ketiga Australia Open 2025, Sabtu, 18 Januari 2025.
Raducanu hanya mampu menang satu gim melawan unggulan kedua Iga Swiatek dalam kekalahan telak 1-6 dan 0-6 di Rod Laver Arena.
Kekalahan itu menyamai catatan yang dideritanya dari Elena Rybakina pada WTA Tour di Sydney tiga tahun lalu.
Dalam catatan pertemuan, kekalahan Raducanu itu menjadi yang ke-11 kali secara beruntun saat berjumpa Swiatek.
"Saya pikir pertandingan ini membuat saya tahu bahwa saya harus bermain dengan sangat baik."
"Saya pikir hari ini, pujian untuk Iga, ia bermain tenis dengan baik. Namun, saya pikir dia bermain dengan baik dan saya tidak bermain dengan baik. Kombinasi itu mungkin tidak bagus dan berakibat pada hari ini."
"Skornya jelas sangat buruk. Saya merasa seperti melihat ke belakang dan tahu persis apa yang perlu saya lakukan. Saya menganggapnya sebagai umpan balik," kata Raducanu.
Tidak Ada Alasan Cedera Punggung
Setelah datang ke turnamen tanpa pertandingan pemanasan dan menderita kejang punggung--yang kambuh lagi selama kemenangannya di Putaran Kedua Australia Open 2025 atas Amanda Anisimova--penampilan Putaran Ketiga tak ada alasan cedera lagi bagi Raducanu.
Namun, dia menyoroti servisnya sebagai masalah utama yang perlu diperbaiki jika ia ingin mendekati pemain top.
BACA JUGA:
Servisnya dipatahkan 16 kali oleh Swiatek dalam enam set dan melakukan 24 kesalahan.
"Tiga minggu lalu ketika saya berada di Auckland, saya melakukan rehabilitasi kolam renang."
"Saya pikir berada di lapangan tenis, bermain, dan berkompetisi adalah sesuatu yang harus saya syukuri."
"Saya mulai memukul bola saat saya datang ke sini 18 hari yang lalu. Saya harus mengambil sisi positif bahwa saya mampu mengalahkan dua lawan teratas di dua ronde pertama."
"Namun, saya pikir hari ini, tidak ada alasan untuk punggung atau fisik. Saya pikir hal yang ingin saya tingkatkan adalah servis."
"Dalam dua pertandingan pertama, saya berhasil melawan dua pemain level atas karena saya mampu bertahan dan bergerak, menggunakan sisa permainan saya."
"Jika saya tidak mampu mempertahankan servis atau mendikte, saya merasa hal itu akan memengaruhi sisa permainan saya," kata petenis berusia 22 tahun itu, satu-satunya atlet Inggris yang mencapai 32 besar Australia Open 2025.
Swiatek sangat lambat saat melakukan servis sehingga ia diberi pelanggaran waktu sebelum pertandingan dimulai.
Namun, setelah itu petenis Polandia tersebut lebih nyaman dalam kondisi panas dan cerah yang membuatnya semakin kuat dalam melakukan pukulan keras.
Raducanu kemudian bertahan dengan baik untuk mempertahankan servis di permainan pembukanya. Hanya saja, pukulan backhand, yang biasanya menjadi salah satu andalannya, juga mulai melemah.
Situasi itu dimanfaatkan dengan baik oleh Swiatek. Unggalan kedua itu menutup laga dengan kemenangan meyakinkan.
Sementara itu, Raducanu tampak tidak sabar untuk keluar lapangan setelah kekalahan telak dalam pertandingan yang berlangsung 70 menit.
Selepas laga, dia bangga dengan caranya menangani pertandingan meskipun skornya buruk. Ia bersemangat untuk segera kembali berlatih dengan turnamen berikutnya yang dijadwalkan di Singapura.
"Saya pikir salah satu tujuan saya untuk tahun ini adalah untuk tetap konsisten, terus maju."
"Tim saya mungkin akan memberi tahu saya untuk santai saja. Saya merasa memiliki hal-hal yang cukup bagus untuk dikerjakan dan diberi masukan."
"Saya mungkin hanya ingin melakukannya sesegera mungkin. Saya merasa berbicara dari tempat yang cukup rasional. Saya tidak terlalu emosional dalam hal apa pun."
"Saya harus mengambil sisi positifnya, saya mampu mengalahkan dua lawan teratas minggu ini. Saya punya banyak hal yang harus dikerjakan."
"Ini turnamen pertama tahun ini dan awal yang solid. Ini musim yang panjang di depan," kata Raducanu.