JAKARTA - Band pendatang baru asal Bandung, Sembilan Tera, resmi menandai perjalanannya di industri musik independen dengan meluncurkan extended play (EP) atau album mini perdana bertajuk “Sementara Itu”.
Unit yang memadukan unsur musik emosional dengan balutan instrumen yang variatif ini mencoba mendobrak dengan menyuarakan keresahan, rasa kehilangan, hingga kehampaan yang selama ini kerap dipendam rapat oleh banyak orang.
Terbentuk sejak Juni 2025, Sembilan Tera digawangi oleh Eza (vokal), Aditya (gitar), Ricky (bass), Taufik (kibor), Angga (trombone), dan Arie Axara (drum).
Keenam personel bukanlah wajah baru di skena musik lokal, mengingat rekam jejak mereka yang panjang sebagai musisi reguler dari panggung kafe ke panggung lainnya ,sebelum akhirnya memutuskan untuk membangun identitas orisinal melalui proyek kolektif ini.
Adapun lewat EP “Sementara Itu”, Sembilan Tera menyuguhkan lima trek yang saling berkesinambungan, yakni “Luruh”, “Pergi”, “Akhir Cerita”, “Jujur Pada Luka”, serta lagu utama yang berjudul sama dengan tajuk album.
Seluruh materi tersebut lahir dari buah pemikiran Arie Axara yang menangkap fenomena sosial tentang fase hidup manusia yang sering kali terasa menggantung dan penuh dengan ketidakpastian.
Arie mengatakan, proses kreatif album ini merupakan hasil kristalisasi dari pengalaman pribadi serta pengamatan tajam terhadap dinamika audiens yang mereka temui saat tampil. Menurutnya, banyak individu yang tampak bahagia secara visual di depan publik, namun sebenarnya sedang bergelut dengan kelelahan mental yang luar biasa di balik layar.
BACA JUGA:
“Kami tidak ingin membuat lagu yang sekadar enak didengar. Kami ingin membuat lagu yang bisa menemani orang-orang ketika sedang merasa paling sendiri,” ujar Arie Axara dalam keterangan, Senin, 11 Mei.
Secara musikal, Sembilan Tera sengaja menonjolkan nuansa emosional sebagai identitas utama. Mereka memilih untuk tidak memoles karya mereka agar terdengar sempurna secara teknis, melainkan lebih mengedepankan kejujuran lirik dan aransemen yang mampu merepresentasikan sisi rapuh manusia.
“Kadang orang terlalu sibuk terlihat kuat sampai lupa jujur dengan dirinya sendiri. Lewat ‘Sementara Itu’, kami cuma ingin bilang bahwa merasa hancur itu manusiawi,” lanjut Arie.
Melalui debut ini, Sembilan Tera tidak berambisi untuk memenangkan selera pasar secara masif. Fokus utama mereka adalah menciptakan relevansi bagi para pendengar yang sedang berada di titik nadir. Mereka berharap musik yang dihasilkan dapat menjadi teman bagi siapa saja yang ingin mengakui rasa sakitnya tanpa perlu merasa dihakimi atau dipaksa untuk berpura-pura kuat.
Langkah awal ini menjadi pembuktian bagi Sembilan Tera bahwa musik independen di Indonesia masih memiliki ruang luas bagi tema-tema yang bersifat personal dan psikologis. Dengan lirik yang lugas dan dekat dengan realitas emosional generasi muda saat ini, “Sementara Itu” diharapkan mampu menjadi jembatan bagi pendengar yang merindukan karya musik yang jujur, mentah, dan penuh makna.
“Kalau nantinya ada satu orang saja yang merasa ditemani setelah mendengar lagu-lagu kami, itu sudah lebih dari cukup,” pungkas Arie.