Bagikan:

JAKARTA - Kabar mengejutkan datang dari industri alat musik dunia, setelah produsen legendaris asal Jerman, Höfner, resmi dinyatakan pailit.

Perusahaan yang memproduksi bass ikonis berbentuk biola yang melekat pada Paul McCartney tersebut tengah berada di ujung tanduk, setelah mengajukan permohonan kepailitan di Pengadilan Negeri Fürth, Jerman.

Langkah hukum ini menandai babak kelam bagi perusahaan yang telah mewarnai sejarah musik rock ‘n’ roll selama lebih dari satu abad.

Berdasarkan dokumen resmi pengadilan, proses hukum ini dimulai untuk mengamankan aset perusahaan dari risiko kerugian yang lebih besar.

"Untuk melindungi aset debitur dari perubahan yang merugikan, prosiding insolvensi awal akan diperintahkan pada 10 Desember 2025, pukul 17.05," bunyi pernyataan dalam berkas pengadilan, dikutip No Treble, Jumat, 19 Desember.

Masalah finansial yang membelit Karl Höfner GmbH & Co. KG sebenarnya bukan rahasia baru di internal perusahaan. Seorang mantan karyawan senior mengungkap bahwa perusahaan telah berjuang melawan kesulitan keuangan dalam beberapa waktu terakhir.

Saat ini, Dr. Hubert Ampferl telah ditunjuk sebagai administrator insolvensi untuk menata ulang utang perusahaan. Dalam kurun waktu tiga bulan ke depan, ia memikul tanggung jawab besar untuk mencari investor baru atau solusi strategis demi menyelamatkan kelangsungan hidup pabrikan ini.

Perjalanan Höfner sendiri merupakan sejarah panjang yang dimulai sejak 1887 oleh Karl Höfner di Schönbach, yang kini dikenal sebagai wilayah Luby di Republik Ceko.

Pasca-Perang Dunia II, operasional mereka terpaksa berpindah ke Jerman Barat. Puncak kejayaan mereka terjadi pada medio 1950-an lewat peluncuran bass elektrik semi-hollow Höfner 500/1.

Instrumen tersebut kemudian mendunia dan dijuluki sebagai "Beatle Bass" setelah Paul McCartney menggunakannya secara konsisten bersama The Beatles—menjadikannya salah satu instrumen paling dikenali di planet bumi.

Krisis ini sebenarnya bukan kali pertama bagi Höfner dalam urusan restrukturisasi korporasi. Pada tahun 1994, mereka sempat menjadi bagian dari Boosey & Hawkes Group dan memindahkan markas besarnya dari Bubenreuth ke Hagenau.

Kepemilikan perusahaan pun terus berpindah tangan, mulai dari Music Group pada 2003, hingga akhirnya jatuh ke tangan Klaus Schöller pada 2004.

Kini, para pecinta musik dan kolektor instrumen di seluruh dunia hanya bisa menunggu apakah sang legenda mampu bangkit kembali atau justru benar-benar berakhir menjadi sejarah.