JAKARTA - Gempa dan Tsunami Flores mengejutkan seisi Indonesia. Petaka yang muncul di Bulan Desember 1992 merenggut banyak korban jiwa. Bencana itu porak-porandakan sebagian besar Pulau Flores – utamanya Kota Maumere di Kabupaten Sikka.
Banyak bangunan hancur lebur. Belum lagi banyak wilayah yang terisolir karena akses jalanan yang rusak. Soeharto dan Orde Baru bergerak cepat. Mereka kemudian menetapkan status bencana Flores sebagai bencana nasional yang pertama kali di Indonesia.
Petaka bencana gempa besar dan tsunami jadi hal yang paling ditakutkan terjadi di Indonesia. Kondisi itu karena orang-orang tak hanya bertahan dari gempa besar, tapi juga dari gelombang besar yang hampir mencapai 36 meter.
Narasi itu kejadian di Pulau Flores pada 12 Desember 1992. Bencana gempa dan tsunami buat sebagian besar Pulau Flores luluh lantak. Semuanya karena gempa berkekuatan 7.5 Skala Richter (SR) dan tsunami menghantam. Empat kabupaten pun merasakan amuk bencana – Sikka, Ngada, Ende, dan Flores Timur.
Mereka yang meninggal dunia mencapai dua ribuan jiwa. Belasan ribu rumah hancur. Belum lagi banyak sekolah, kantor hingga tempat ibadah yang rusak parah. Kegiatan ekonomi nyaris mati. Warga Flores sibuk menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.

Kawasan yang paling parah adalah Kota Maumere. Kota yang berada di dalam Kabupaten Sikka itu menyumpang korban paling banyak: 1.100 orang meninggal dunia. Ratusan lainnya menderita luka parah.
Kondisi itu membuat rumah sakit di Maumere membludak. Mereka yang jadi korban tak bisa ditampung sepenuhnya di dalam rumah sakit. Beberapa banyak yang ditempatkan di lorong rumah sakit. Pemandangan itu membuat Maumere bak kota mati.
Kondisi yang sama terjadi pula di pulau kecil di sekitar Maumere macam Pulau Babi dan Pulau Pamana Besar. Dua pulau dengan populasi mencapai 2 ribuan orang mampu disapu bersih Tsunami. Kondisi itu memunculkan kepanikan di mana-mana.
“Maumere agaknya menderita paling parah. Sekitar 1.100 penduduk yang meninggal berasal dari daerah nelayan miskin itu. Dan ratusan lainnya menderita luka parah. Sampai-sampai rumah sakit di Maumere terpaksa membaringkan pasien yang bejibun di lorong-lorong bangsal,” ungkap Toriq Hadad dalam tulisannya di majalah tempo berjudulKiamat di Siang Hari(1992).
Bencana Nasional
Berita gempa besar dan Tsunami Flores menyebar ke mana-mana. Pemerintah Soeharto dan Orde Baru (Orba) segera merespons dengan mengambil tindakan cepat. Bantuan segera dikirimkan. Presiden Soeharto langsung menetapkan bencana gempa besar dan Tsunami Flores sebagai bencana nasional.
Penetapan itu tertuang dalam surat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 66 Tahun 1992 tentang Penetapan Bencana Alam di Flores sebagai Bencana Nasional pada 16 Desember 1992. Atau tak lama setelah bencana terjadi.
Keputusan itu membuat gempa dan Tsunami Flores jadi penetapan Bencana Nasional pertama di Indonesia. Mandat dari status Bencana Nasional bawa energi positif bagi penanggulangan bencana di Flores. Presiden Soeharto meminta jajaran fokus dalam upaya penanggulangan bencana.

Semuanya terkait alokasi anggaran besar, komando, hingga urusan sumber daya untuk penanggulan. Keputusan itu disambut dengan suka cita oleh segenap rakyat Indonesia. Keputusan itu membuat segenap rakyat melupakan gonjang-ganjing politik nasional untuk bersatu membantu korban bencana.
Alhasil, bantuan mulai berdatangan dari dalam dan luar negeri ke Flores. Tokoh besar dunia juga untuk mengungkap rasa bela sungkawanya atas bencana di Flores. Soeharto dan jajarannya juga memantau langsung ke Pulau Flores pada 23 Desember 1992.
Soeharto yang datang bersama istrinya, Siti Hartinah (Ibu Tien) melihat sendiri daya rusak dari tsunami. Ia menyaksikan kesedihan korban bencana yang ditinggalkan keluarganya.
BACA JUGA:
Ia menyaksikan pula banyak bangunan rusak parah. Ia pun segera melihat bagaimana kerja sama antar lembaga negara bersatu dalam upaya penanggulangan bencana Flores.
“Bantuan dari Australia sampai dikirim dengan pesawat khusus. Pernyataan prihatin atas bencana yang memilukan hati ini berdatangan dari mana-mana, termasuk dari Paus Yohanes Paulus Il. Pernyataan yang sama juga datang dari Putra Mahkota Kerajaan Yordania El Hasan Ibnu Talal. Raja Arab Saudi Fahd Bin Abdul Azis menyampaikan doa agar para korban yang meninggal dunia mendapat rahmat dari Allah.”
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam Indonesia agar mengumpukan dana kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang terkena musibah di Flores. Pengurus Pusat Muhammadiyah malah segera mengirim tim bantuan kemanusiaan yang terdiri dari tiga dokter dan enam perawat dengan peralatan dan obat-obatan - ke daerah gempa itu,” ujar Wahyudi Muryadi dan kawan-kawan dalam tulisannya di majalah Tempo berjudulBencana dan Bantuan di Pulau Bunga(1992).