JAKARTA – Memori hari ini, enam tahun yang lalu, 6 November 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menegaskan bahwa jadi guru lebih berat daripada menteri. Ia menganggap tugas guru luar biasa sulit karena harus berhadapan dengan murid dari berbagai latar belakang.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepincut dengan kiprah Nadiem di dunia bisnis dan teknologi. Narasi itu membuat Jokowi yakin Nadiem bisa bawa perubahan. Jokowi pun mengangkatnya jadi Mendikbud.
Presiden punya andil besar dalam memilih sosok profesional yang akan duduk di kursi menteri. Namun, pilihan itu tentunya tak mudah. Ambil contoh Jokowi. Presiden Indonesia itu harus meluangkan banyak waktu mencari dan menerima masukan calon menteri dari segenap rakyat Indonesia.
Ia juga belajar dari periode pertama pemerintahannya era 2014-2019. Jokowi pun jadi hati-hati memilih menteri pada era kekuasaannya yang baru 2020-2024. Rekomendasi menteri bejibun. Ada yang berasal dari masukan partai politik. Ada pula yang berasal eksperimennya sendiri.
Kondisi itu hadir kala Jokowi digadang-gadang akan mengangkat Nadiem Makarim sebagai menteri. Posisi Nadiem jadi menteri belum jelas bidangnya. Banyak orang menganggap Nadiem cocok diangkat jadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora). Namun, Jokowi berkata lain.
Ia malahan mengangkat Nadiem jadi Mendikbud pada 23 Oktober 2019. Eksperimen itu dikecam banyak pihak. Nadiem dianggap tak pernah berkecimpung dalam dunia pendidikan. Ia tak pernah paham bagaimana perkembangan dan kemajuan pendidikan Indonesia.
Istimewanya Jokowi punya jawaban sendiri. Jokowi menganggap Nadiem sebagai sosok yang tepat karena dapat mengawinkan antara teknologi dan dunia pendidikan. Kemajuan teknologi di mata Jokowi dapat jadi jawaban supaya pendidikan Indonesia berkembang pesat.
Nadiem tak gentar dengan tantangan Jokowi. Ia siap dengan posisi barunya. Ia mencoba mempelajari lebih dalam terkait pendidikan di Indonesia.
"Bayangkan mengelola sekolah, mengelola pelajar, manajemen guru sebanyak itu, dan dituntut oleh sebuah standar yang sama. Kita diberi peluang setelah ada yang namanya teknologi, yang namanya aplikasi sistem yang bisa membuat loncatan. Sehingga yang dulu dirasa tidak mungkin sekarang mungkin. Oleh sebab itu dipilih Mas Nadiem Makarim," ujar Nadiem sebagaimana dikutip laman kompas.com, 24 Oktober 2019.
Nadiem jadi bekerja keras memahami seluk-beluk pendidikan Indonesia. Ia merasakan sendiri bahwa memahami dunia pendidikan Indonesia itu tak mudah. Ia jadi menyadari pekerjaan sebagai guru sulitnya bukan main.
BACA JUGA:
Nadiem bahkan menganggap pekerjaan sebagai guru lebih berat dibanding jadi menteri. Narasi itu dikemukakan Nadiem ke Komisi X DPR di Senayan, Jakarta pada 6 November 2019. Guru dalam pandangan Nadiem punya tugas bejibun. Guru harus mendidik keluarga dan muridnya dari berbagai latar belakang.
Guru juga diharuskan mampu mengajar dengan baik. Kondisi itu membuat peran guru amat besar bagi pembangunan generasi muda penerus bangsa. Suatu narasi yang membuat Nadiem paham jadi guru lebih berat daripada menteri.
“Kalau bicara dengan guru-guru, sudah tiba-tiba jelas bahwa ini adalah satu tugas tersulit di negara kita, menjadi guru. Saya bisa bilang menjadi menteri mungkin lebih mudah daripada jadi guru. Bayangkan semua murid dalam kelas punya sosial ekonomi berbeda, punya kepribadian berbeda.”
“Murid punya pola belajar berbeda, punya orangtua berbeda, dan lain lain. Tapi guru harus memastikan dengan resource yang minim saya pastikan pembelajaran itu terjadi. Jadi kompleksitas tugas guru luar biasa," ujar Nadiem sebagaimana dikutip laman sindonews.com, 6 November 2019.