YOGYAKARTA – Penyebaran virus Bundibugyo (BBDV) sedang menjadi perhatian global setelah organisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkannya sebagai wabah darurat kesehatan glibal (Public Health Emergency of Internatonal Concern/PHEIC). Strain ini dapat menyebabkan penyakit ebola (sejenis demam berdarah) yang mematikan.
Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun obat yang dapat mencegah atau mengobati BDBV. Perawatan yang dilakukan hanya bersifat suportif untuk meningkatkan peluang bertahan hidup.
Oleh sebab itu, penting untuk mengenal bundibugyo yang jadi penyebab ebola agar kita dapat mewaspadai penyebarannya.
Mengenal Bundibugyo
Menyadur laman resmi WHO, Bundibugyo Virus merupakan salah satu spesies dari genus Orthoebolavirus yang jadi penyebab penyakit Bundibugyo Virus Disease (BVD), jenis penyakit Ebola yang parah dan sering kali fatal.
Bundibugyo termasuk penyakit zoonosis. Kelelawar buah diduga menjadi reservoir alami virus ini. Infeksi pada manusia pertama kali terjadi melalui kontak dekat dengan darah atau sekresi satwa liar yang terinfeksi, seperti kelelawar atau primata non-manusia.
Cara Penularan Bundibugyo
Setelah menginfeksi manusia, virus menyebar antarmanusia melalui:
- Kontak langsung dengan darah, sekresi, organ, atau cairan tubuh penderita
- Permukaan benda yang terkontaminasi
- Praktik pemakaman yang tidak aman (kontak langsung dengan jenazah)
Penularan sangat cepat meningkat di fasilitas kesehatan jika pencegahan dan pengendalian infeksi (infection and prevention control/IPC) tidak memadai. Virus ini tidak menular melalui udara seperti flu atau melalui air.
BACA JUGA:
Gejala dan Masa Inkubasi Virus Bundibugyo
Masa inkubasi Bundibugyo berkisar antara 2 hingga 21 hari. Seseorang biasanya tidak menular sebelum gejala muncul.
Gejala awal bersifat tidak spesifik, sehingga sering sulit dibedakan dengan penyakit demam lainnya seperti malaria:
- Demam
- Kelelahan berat
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Sakit tenggorokan
Gejala kemudian dapat berkembang menjadi muntah, diare, disfungsi organ, dan perdarahan (pada kasus berat).
Tingkat Kematian Bundibugyo
Menurut catatan historis, tingkat fatalitas kasus Bundibugyo berkisar antara 30-50 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan strain Zaire ebolavirus yang dapat mencapai 70–90 persen. Meski demikian, karena belum ada vaksin maupun terapi spesifik yang disetujui, penyakit ini tetap menjadi ancaman serius.
Pencegahan dan Pengendalian Virus Bundibugyo
Saat ini belum tersedia vaksin atau pengobatan khusus untuk Bundibugyo. Oleh karena itu, pengendalian wabah sangat bergantung pada:
- Deteksi dini dan isolasi pasien
- Pelacakan kontak erat
- Pemakaman yang aman
- Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang ketat oleh tenaga kesehatan
- Keterlibatan aktif masyarakat
Diagnosis pasti hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium (PCR atau tes antigen/antibodi).
Demikian penjelasan tentang virus Bundibugyo yang jadi penyebab penyakit ebola. Semoga informasi di atas bisa membuat pembaca lebih mengenal Bundibugyo. Dapatakan update berita menarik lainnya dengan mengunjungi laman VOI.id.