Bagikan:

JAKARTA - Dunia seni yang mahal ternyata tidak selalu kebal dari tipu-tipu. Sepasang ayah dan anak asal New Jersey mengaku bersalah menjual lukisan palsu yang diklaim sebagai karya Pablo Picasso, Banksy, Andy Warhol, dan sejumlah seniman besar lain.

Melansir laporan The Guardian, Rabu, 30 April, Erwin Bankowski, 50 tahun, dan putrinya, Karolina Bankowska, 26 tahun, menjalankan skema pemalsuan selama bertahun-tahun. Jaksa federal menyebut keduanya memesan sedikitnya 200 karya palsu kepada seorang seniman di Polandia.

Nilai penipuannya mencapai sedikitnya 2 juta dolar AS. Salah satu karya palsu paling mahal diklaim sebagai karya Richard Mayhew dan terjual lewat balai lelang DuMouchelles pada Oktober lalu seharga 160.000 dolar AS.

DuMouchelles menyatakan telah bekerja sama dengan otoritas federal, tetapi tidak berwenang membahas penjualan itu lebih jauh. Balai lelang lain yang disebut menjadi sasaran, termasuk Bonhams, Phillips, Freeman’s, dan Antique Arena, menolak berkomentar atau tidak menjawab permintaan keterangan.

Di pengadilan New York, Selasa, ayah dan anak itu meminta maaf. Mereka menghadapi kemungkinan hukuman lebih dari tiga tahun penjara, restitusi 1,9 juta dolar AS, dan kemungkinan deportasi ke Polandia.

Bankowska mengatakan kepada hakim, “perbuatan saya salah dan saya bersalah”. Pengacaranya, Todd Spodek, menyebut kliennya telah menaruh lebih dari 1 juta dolar AS dalam rekening eskro.

Erwin Bankowski juga meminta maaf melalui penerjemah bahasa Polandia. Pengacaranya, Jeffrey Chabrowe, mengatakan kliennya “dengan sangat menyesal telah membuat keputusan buruk dalam upaya menafkahi keluarganya”.

Keduanya merupakan warga Polandia yang tinggal di New Jersey. Mereka menghadapi dakwaan konspirasi penipuan elektronik dan memberikan keterangan palsu terkait barang produksi penduduk asli Amerika. Dakwaan terakhir terkait peniruan karya seniman Luiseño, Fritz Scholder.

Jaksa AS Joseph Nocella Jr menyebut keduanya selama bertahun-tahun berpura-pura sebagai penjual seni rupa. Padahal, mereka “menjual kebohongan di atas kanvas” kepada kolektor yang tidak curiga.

Masih menurut laporan The Guardian, karya palsu itu banyak meniru karya yang kurang dikenal dari seniman besar dan produktif. Cara ini membuat lukisan terlihat masuk akal yakni tidak terlalu populer, tetapi cukup punya nama untuk dilelang mahal.

Skema itu dimulai pada 2020. Jaksa menyebut ayah dan anak tersebut memesan lukisan palsu dari seniman Polandia yang tidak disebut namanya. Mereka juga memakai kertas antik dan cap galeri palsu. Nama galeri yang digunakan dipilih dari galeri lama yang sudah tutup.

Namun, kejanggalan mulai terlihat. Pada Maret 2023, perwakilan seniman Raimonds Staprans mengetahui lukisan palsu berjudul Triple Boats dijual oleh sebuah balai lelang. Beberapa hari setelah balai lelang dihubungi, lukisan itu tetap terjual seharga 60.000 dolar AS, kata jaksa.

Pakar kejahatan seni dari City University of New York, Erin Thompson, menyebut kasus ini bukan hal aneh di pasar seni. “Satu-satunya hal yang tidak biasa dari kasus ini adalah para pemalsunya tertangkap,” ujarnya.

Thompson juga menemukan kejanggalan lain. Cap galeri di belakang karya Wyeth palsu, misalnya, mencantumkan tahun 1976, tetapi memakai nomor alamat zonasi yang sudah tidak digunakan sejak 1962.

Kasus ini menunjukkan betapa mahalnya harga sebuah nama di pasar seni. Sekali cap, cerita asal-usul, dan nama besar terlihat meyakinkan, lukisan palsu pun bisa melenggang sampai balai lelang ternama.