Bagikan:

JAKARTA – Seperti biasa sabtu sore di kawasan Kemang identik dengan deru mesin kendaraan dan hiruk-pikuk kaum urban. Namun, di balik dinding Deheng House, suasana terasa sangat berbeda. Semerbak hidangan ikan asam-manis, ayam teriyaki, sapi lada hitam, menyeruak. Ada juga sup jagung, sambal, acar serta kerupuk, dan pudding berpadu di udara. Kondisi ini bersaing dengan gelak tawa yang pecah setiap kali sebuah memori lama diceritakan kembali.

Sore itu, 18 April, bukan sekadar acara halalbihalal biasa. Bagi Anwar Fuady dan puluhan artis yang hadir, ini adalah momentum untuk "pulang" ke keluarga besar mereka: New Arnas (Artis Nasional).

Jembatan Dua Generasi

Melihat kerumunan itu seperti melihat linimasa sejarah hiburan Indonesia yang hidup. Di satu sudut, kita bisa melihat keanggunan abadi Widyawati dan Marini Soeryosoemarno yang sedang asyik berbincang. Di sudut lain, ada energi muda yang berbaur tanpa sekat. Tak ada senioritas yang kaku; yang ada hanyalah rasa rindu yang tuntas dibayar dengan pelukan dan jabat tangan erat.

Widyawati, Niniek L Kariem dan Marini Soerjosoemarno dan beberapa artis yang hadir. (Edy VOI)
Widyawati, Niniek L Kariem, Nourma Yunita, Diah Permatasari dan beberapa artis yang hadir. (Edy VOI)

Anwar Fuady, sang aktor kawakan yang sore itu bertindak sebagai tuan rumah, tampak tak berhenti tersenyum. Mengenakan keramahan khas Palembang, ia memastikan setiap tamu—mulai dari Jelly Tobing, Roy Marten, hingga wajah-wajah yang lebih muda seperti Tessa Kaunang—merasa sedang berada di rumah sendiri.

"Kita ingin suasana yang rileks, yang bikin bahagia. Lewat momen Idulfitri ini, kita pererat lagi silaturahmi. Lihat saja, mereka datang dengan happy, bernyanyi, dan menari," ujar Anwar dengan mata berbinar usai acara.

"Diplomasi" Jenaka dan Goyang Jempol

Puncak kehangatan terjadi saat panggung kecil di tengah ruangan mulai bergetar. Dewi Perssik, sang biduanita asal Jawa Timur, memecah suasana dengan Terajana dan Seperti Mati Lampu. Suasana yang tadinya santai berubah menjadi pesta kecil yang enerjik.

Dewi Motik Pramono dan Rinna Hassim dan beberapa tartis yang ahdir. (IST)
Dewi Motik Pramono dan Rinna Hassim dan beberapa tartis yang ahdir. (IST)

Namun, momen paling manusiawi justru muncul lewat kelakar Anwar Fuady. Saat Dewi hendak turun panggung setelah dua lagu, Anwar menahannya dengan gaya candaan yang melegenda.

"Ini permintaan seluruh rakyat Indonesia dan Rakyat Iran!" seru Anwar dengan wajah serius yang dibuat-buat. Sontak, seluruh ruangan pecah oleh tawa. Tak ada yang bisa menahan tawa melihat aksi "diplomasi" jenaka sang Ketua Umum tersebut.

Dewi Perssik pun tak berkutik. Sambil tertawa kecil, ia melanjutkan penampilannya lewat lagu Kopi Dangdut dan Pamer Bojo. Di sana, kita melihat para aktor watak, penyanyi legendaris, hingga presenter kondang, semuanya melepas atribut "bintang" mereka. Mereka sekadar menjadi sahabat lama yang asyik bergoyang jempol mengikuti irama.

Lebih dari Sekadar Seremonial

Bagi mereka yang hadir—bahkan yang jauh-jauh datang dari Surabaya seperti Ervinna—pertemuan ini adalah bahan bakar semangat di tengah rutinitas dunia hiburan yang melelahkan.

Anwar Fuady diampingi Dude Herlino, Sharah Vi, Wiwiet Tatung, dan Noruma Yunita memberkan keterangan usai acara. (Edy VOI)
Anwar Fuady diampingi Dude Herlino, Wiwiet Tatung, Sharah Vi dan Noruma Yunita memberikan keterangan pers usai acara. (Edy VOI)

Saat mentari perlahan turun di ufuk Jakarta Selatan, Anwar Fuady berdiri memandangi rekan-rekannya yang masih enggan beranjak. Baginya, keberhasilan acara ini bukan diukur dari kemewahan hidangannya, melainkan dari tulusnya tawa yang terdengar sepanjang sore.

"Alhamdulillah, ini jadi ajang kangen-kangenan. Semoga di kesempatan berikutnya kita bisa kembali seperti ini," tutupnya sederhana.

Sore itu, Deheng House bukan sekadar tempat pertemuan. Ia menjadi saksi bahwa di balik gemerlap lampu panggung, persahabatan para seniman ini adalah ikatan yang tak lekang dimakan usia.