Bagikan:

YOGYAKARTA - Fenomena El Nino Godzilla diprediksi akan membuat cuaca semakin panas di sejumlah negara pada musim kemarau tahun ini. Di Indonesia, fenomena ini diperkirakan terjadi antara April hingga Oktober. Fenomena ini menjadi perhatian publik karena dampaknya bisa lebih besar dari El Nino biasa, terutama bagi sektor pertanian dan ketersediaan air.

Lantas, apa itu El Nino Godzilla dan apa saja dampak yang bisa ditimbulkan? Dilansir dari berbagai sumber, berikut pembahasannya.

Apa Itu El Nino Godzilla?

Secara umum, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. Istilah El Nino sendiri berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak laki-laki”, yang awalnya digunakan oleh nelayan di Peru untuk menandai arus laut hangat menjelang Natal.

Menurut BMKG, El Nino dapat menyebabkan dampak yang berbeda di setiap wilayah dunia. Di Amerika Selatan seperti Peru, fenomena ini justru meningkatkan curah hujan. Sementara itu, Indonesia biasanya mengalami kondisi lebih kering dengan penurunan curah hujan.

Istilah El Nino Godzilla sendiri merupakan sebutan populer untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas yang jauh lebih kuat dibanding El Nino biasa. Nama ini Istilah ini dipopulerkan oleh klimatolog NASA, Bill Patzert, pada 2015 untuk menggambarkan fenomena El Nino 2015-2016 yang merupakan El Nino terkuat dalam sejarah modern.

El Nino dengan intensitas tinggi terjadi ketika pemanasan suhu laut di Pasifik meluas dan jauh melebihi suhu normal. Kondisi ini memicu perubahan besar pada sirkulasi atmosfer global. Akibatnya, pola hujan berubah drastis, termasuk berkurangnya hujan di wilayah tropis seperti Indonesia.

Fenomena ini sangat berpengaruh pada sektor pertanian, terutama yang membutuhkan air dalam jumlah besar. Selain itu, kurangnya pasokan air juga bisa berdampak penurunan hasil panen.

Selain sektor pertanian, kekeringan berkepanjangan juga dapat mengganggu pasokan air bersih bagi masyarakat. Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat akibat kondisi yang lebih kering.

Wilayah Berpotensi Terdampak El Nino

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi dampak El Nino pada 2026 tidak akan merata di seluruh Indonesia. Sejumlah wilayah diprediksi mengalami kekeringan, sementara wilayah lainnya diguyur hujan. Hal ini disebabkan perbedaan kondisi atmosfer dan laut masing-masing wilayah.

Menurut BRIN, beberapa wilayah yang paling rentan mengalami kekeringan yakni:

  • Pulau Jawa
  • Bali
  • Nusa Tenggara

Sementara itu, wilayah yang diperkirakan akan mengalami curah hujan tinggi yakni:

  • Sulawesi
  • Halmahera
  • Maluku

Dengan demikian, dampak El Nino di Indonesia tidak seragam di setiap wilayah. Karena itu, strategi mitigasi harus disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG agar lebih siap menghadapi perubahan cuaca ekstrem.

Selain pembahasan di atas, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!