Bagikan:

JAKARTA - Sutradara Teddy Soeria Atmadja menjadi kreator untuk serial orisinal Netflix berjudul Luka Makan Cinta. Ia mengungkap sebenarnya serial ini awalnya diproyeksi menjadi film layar lebar.

“Sebenarnya cerita ini awalnya didesain film layar lebar, feature film tapi setelah saya lihat, saya coba desain bentuknya lebih ke series. Setelah dipecah ke 8 episode, the story getting interesting. Ceritanya tentang ibu dan anak yang belum connect. That dynamic buat saya menarik ditambah lagi setting di sebuah dapur restoran yang mereka kelola dan it adds to the flavor,” kata Teddy Soeria Atmadja dalam konferensi pers di Jakarta Pusat pada Rabu, 15 April.

Tidak hanya keluarga, Teddy juga berfokus dengan sisi kuliner dan dunia fine dining yang akan menyorot makanan Indonesia dalam sajian yang berbeda.

“Setelah nonton Luka Makan Cinta, it’s about human connection antara ibu dan anak laki dan perempuan. Very much human connect tapi karena universe yang kita bangun di sebuah restoran fancy dengan plating menarik,” lanjutnya.

Salah satu aspek yang diharapkan kreator agar penonton bisa menyorotnya adalah sajian artistik yang datang dari makanan dalam serial ini. Terutama serial Luka Makan Cinta berlatar restoran fine dining yang dikelola oleh seorang ibu dan anak.

“Mempersiapkan dapurnya beda jadi harus belajar motong bebek tapi the way you hold the knife itu ada caranya. Dari kameraman, tim artistik, itu tim preparation dan kameraman, saya harus tau angle makanan itu diambil dari mana,” lanjut Teddy.

“Selain persiapan kru, selama kita syuting, kita didampingi food stylist agar kelihatan tidak segar atau cara motongnya salah, dia bisa bantu ambil angle dari sini,” jelas Teddy lagi.

Serial “Luka Makan Cinta” menceritakan Luka (Mawar Eva), anak dari pemilik Umah Rasa - Sari (Sha Ine Febriyanti) yang berharap jabatan head chef jatuh kepadanya. Semuanya berubah setelah Dennis (Deva Mahenra) mengambil alih head chef restoran Umah Rasa.

Berjumlah 8 episode, serial Luka Makan Cinta bisa disaksikan di Netflix.