YOGYAKARTA - Tantrum sering kali membuat orang tua refleks mencari “jalan pintas”, salah satunya dengan mengalihkan perhatian anak. Seperti yang sedang tren, misalnya memanggil nama “Jessica” untuk memecah perhatian anak yang sedang menangis dan harapannya bisa diam. Padahal, cara menghadapi anak tantrum tidak selalu tentang menghentikan tangisan secepat mungkin, tetapi membantu anak memahami emosinya.
Dalam dunia parenting anak, momen tantrum justru bisa menjadi kesempatan belajar yang penting. Memahami alasan mengapa Anda sebaiknya tidak langsung mengalihkan perhatian saat anak tantrum akan membantu membangun fondasi emosional yang lebih sehat.
1. Anak perlu belajar mengenali emosinya
Saat anak tantrum, sebenarnya ia sedang mengalami emosi yang besar dan belum mampu mengelolanya. Jika Anda langsung mengalihkan perhatian, anak kehilangan kesempatan untuk mengenali apa yang sedang ia rasakan. Emosi seperti marah, kecewa, atau frustrasi jadi terasa asing baginya. Dengan membiarkan proses ini terjadi, Anda membantu anak memahami “bahasa” emosinya sendiri.

2. Mengalihkan perhatian bisa menghindari masalah, bukan menyelesaikan
Mengalihkan perhatian memang terlihat efektif karena anak berhenti menangis. Namun, akar masalahnya sering kali tetap ada dan belum terselesaikan. Anak jadi terbiasa menghindari perasaan tidak nyaman, bukan menghadapinya. Dalam jangka panjang, dilansir Modern Parent, Rabu, 15 April, hal ini bisa membuat anak kesulitan mengelola emosi ketika menghadapi situasi serupa.
3. Anak butuh divalidasi, bukan dialihkan
Di tengah tantrum, yang paling dibutuhkan anak adalah rasa dipahami. Ketika Anda mengalihkan perhatian, pesan yang diterima anak bisa jadi “perasaanmu tidak penting.” Sebaliknya, jika Anda hadir dan mengakui emosinya, anak merasa aman. Validasi sederhana seperti “Anda sedang marah, ya?” bisa memberi dampak besar pada perkembangan emosinya.
4. Tantrum adalah cara anak berkomunikasi
Anak, terutama yang masih kecil, belum memiliki kemampuan verbal yang matang. Tantrum sering menjadi cara mereka menyampaikan kebutuhan atau ketidaknyamanan. Jika Anda langsung mengalihkan perhatian, sinyal ini bisa terlewat. Dengan memberi ruang, Anda bisa lebih memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan anak.
BACA JUGA:
5. Mengajarkan regulasi emosi yang sehat
Menghadapi emosi bukanlah keterampilan yang muncul begitu saja, melainkan perlu dilatih sejak dini. Saat Anda mendampingi anak melalui tantrum tanpa mengalihkan perhatian, Anda sedang mengajarkan cara menenangkan diri. Anak belajar bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi tetap bisa dikendalikan. Ini menjadi bekal penting hingga ia dewasa nanti.
6. Membantu membangun hubungan yang lebih kuat
Respons Anda saat anak tantrum sangat memengaruhi kualitas hubungan yang terjalin. Ketika Anda hadir dengan tenang dan empati, anak merasa diterima apa adanya. Hal ini membangun kepercayaan dan kedekatan emosional yang kuat. Anak pun lebih nyaman untuk terbuka kepada Anda di berbagai situasi.
Menghadapi anak tantrum memang tidak mudah, tetapi penting untuk diingat bahwa ini adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Cara menghadapi tantrum yang tepat bukan dengan mengalihkan perhatian, melainkan dengan mendampingi dan memahami emosi anak. Dengan pendekatan yang lebih sabar dan penuh empati, Anda tidak hanya meredakan situasi, tetapi juga membantu anak belajar mengelola emosinya dengan lebih baik. Pada akhirnya, pola asuh seperti ini akan membentuk anak yang lebih kuat secara emosional dan mampu menghadapi berbagai tantangan hidup.