PAPUA - Peran mama-mama kampung di Papua tak hanya terbatas pada urusan rumah tangga, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Para perempuan ini menjaga ekosistem pesisir agar tetap lestari, sekaligus memastikan sumber penghidupan tetap tersedia bagi generasi berikutnya. Seperti halnya di Kampung Enggros atau Injros, Kota Jayapura, keberadaan hutan bakau menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari para perempuan. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, mama-mama di sana biasanya menuju kawasan bakau untuk mencari ikan, udang, kepiting, hingga kerang. Aktivitas tersebut menjadikan hutan bakau sebagai sumber penghidupan sekaligus ruang sosial bagi mereka. Kampung yang terletak di Teluk Youtefa itu dihuni ratusan kepala keluarga dan hanya dapat dijangkau dengan perjalanan darat hingga pesisir, lalu dilanjutkan menggunakan perahu motor sekitar 10 menit menyusuri kawasan bakau. Di dalam kampung, sebagian wilayah hanya bisa diakses dengan berjalan kaki atau menggunakan perahu kecil. Salah satu sosok yang aktif menggerakkan pelestarian hutan bakau adalah Petronela Merauje. Ia secara konsisten mengajak para perempuan di kampungnya untuk menjaga dan menanam kembali bakau di sepanjang pesisir. Baginya, hutan bakau bukan hanya pelindung alami dari abrasi, tetapi juga sumber ekonomi bagi mama-mama yang menggantungkan hidup dari hasil laut. Selain itu, kawasan tersebut menjadi ruang interaksi sosial yang khas bagi perempuan Enggros. "Bahkan di tempat itulah terkadang kita bercerita hingga tertawa lebar tanpa takut ada yang mendengar selain kami,” ujarnya, seperti dikutip ANTARA, Selasa, 31 Maret. Menariknya, hutan bakau di Enggros merupakan ruang khusus perempuan. Kaum pria tidak diperkenankan masuk, sehingga kawasan ini menjadi tempat yang aman bagi mama-mama untuk bekerja sekaligus berbagi cerita.
Semangat menjaga hutan bakau juga didorong oleh keinginan agar tradisi ini tetap hidup. Para perempuan berharap anak-cucu mereka masih bisa merasakan manfaat dan melanjutkan kebiasaan mencari hasil laut di kawasan tersebut. "Agar anak-anak perempuan kami nantinya masih bisa melanjutkan tradisi mencari hasil laut di dalam hutan bakau,” kata Petronela. Upaya pelestarian dilakukan dengan menanam kembali bibit bakau yang diperoleh secara mandiri. Biji-biji bakau dikumpulkan, disemai dalam polibag, lalu ditanam kembali setelah tumbuh tunas. Cara ini dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan kawasan pesisir tetap hijau dan produktif. Selain menjaga lingkungan, hutan bakau juga menjadi ruang pembelajaran budaya. Guru Besar Antropologi Universitas Cenderawasih, Fredrik Sokoy, menyebut kawasan ini sebagai “ton weyat”, yang berarti ajakan menuju hutan bakau ruang khusus perempuan untuk belajar nilai-nilai kehidupan. Di tempat ini, perempuan tidak hanya mencari hasil laut, tetapi juga mewariskan nilai kebersamaan, tanggung jawab, hingga sopan santun kepada generasi muda. Upaya mama-mama Enggros menjaga hutan bakau menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal mampu menjaga keseimbangan antara lingkungan, budaya, dan kehidupan sosial. Keberlanjutan kawasan ini pun diharapkan tetap terjaga agar manfaatnya bisa dirasakan hingga masa depan.BACA JUGA: