Bagikan:

YOGYAKARTA - Ramadan selalu menjadi momen istimewa bagi keluarga. Anak-anak biasanya ikut antusias melihat orang tua bangun sahur dan menunggu waktu berbuka puasa. Tak sedikit dari mereka yang mulai ingin mencoba berpuasa seperti orangtua mereka.

Tentu saja, semangat ini membanggakan. Orang tua mana yang tidak terharu melihat anaknya ingin belajar beribadah sejak dini. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran terkait kesehatan dan kesiapan fisik mereka. Lantas, kapan sebenarnya anak boleh berlatih puasa? Dilansir dari berbagai sumber, berikut penjelasannya.

Usia Ideal Anak Mulai Berlatih Puasa dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Perlu dipahami sejak awal bahwa puasa belum diwajibkan bagi anak sampai mereka mencapai usia balig. Artinya, sebelum masa remaja, anak tidak berdosa jika tidak berpuasa. Meski begitu, melatih mereka sejak dini tetap dianjurkan agar terbiasa dan tidak kaget saat nantinya diwajibkan berpuasa.

Dalam pandangan para ulama, usia sepuluh tahun sering disebut sebagai usia anak mulai puasa penuh. Hal ini dianalogikan dengan perintah salat pada usia yang sama, karena keduanya termasuk rukun Islam. Namun puasa lebih berat dibanding salat, sehingga orangtua harus benar-benar memperhatikan kesiapan anak.

Setiap anak memiliki kondisi fisik yang berbeda. Ada yang kuat dan mampu menahan lapar dengan baik, ada pula yang mudah lemas. Karena itu, usia bukan satu-satunya ukuran, orangtua perlu memperhatikan kemampuan tubuh anaknya.

Teladan dari generasi awal Islam menunjukkan pendekatan yang lembut. Anak-anak yang sudah mampu diajak berpuasa, sementara yang belum kuat tidak dipaksa. Jika ada yang menangis, perhatian mereka dialihkan agar tetap semangat menjalankan ibadah.

Orangtua bisa mulai mengajarkan anak berpuasa mulai usia tujuh tahun ke atas. Penelitian menunjukkan di usia ini, risiko gangguan serius akibat puasa mulai lebih jarang ditemukan. Namun orangtua tetap harus memperhatikan kondisi tubuh anak.

Puasa memengaruhi pola makan, pola tidur, dan metabolisme tubuh. Pada anak-anak, perubahan ini bisa berdampak pada kesehatan mereka. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah hipoglikemia.

Hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah turun di bawah normal sehingga tubuh kekurangan energi. Anak bisa mengalaminya jika tidak mendapat asupan cukup atau melakukan aktivitas berlebihan saat berpuasa.

Cadangan gula dalam tubuh anak umumnya lebih sedikit dibanding orang dewasa. Ditambah lagi, metabolisme mereka cenderung lebih cepat sehingga energi lebih cepat habis. Karena itu, risiko hipoglikemia pada anak saat puasa tidak boleh dianggap sepele.

Gejalanya bisa berupa wajah pucat, tubuh lemas, sulit berkonsentrasi, hingga mengantuk berlebihan. Dalam kondisi berat, hipoglikemia dapat menyebabkan penurunan kesadaran, kejang, bahkan berdampak serius pada otak. Inilah alasan mengapa anak di bawah tujuh tahun belum boleh dilatih berpuasa.

Jika Ayah dan Bunda ingin mulai melatih anak berpuasa, lakukan secara bertahap. Tidak perlu langsung satu hari penuh, cukup mulai dengan setengah hari atau sekitar enam hingga delapan jam. Setelah itu, durasinya bisa ditingkatkan perlahan sesuai kemampuan anak.

Perhatikan menu sahur mereka. Hindari memaksa anak makan dalam jumlah besar hanya agar kuat puasa. Lebih baik sajikan makanan kaya serat dan protein agar rasa kenyang bertahan lebih lama.

Kebutuhan cairan juga harus terpenuhi. Biasakan anak minum cukup air putih saat sahur dan berbuka. Kurangi minuman tinggi gula karena dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat turun kembali.

Selain, hindari anak dari aktivitas fisik yang terlalu berat. Olahraga intens seperti sepak bola di bawah terik matahari bisa membuat tubuh cepat kehilangan cairan. Arahkan mereka pada kegiatan ringan dan menyenangkan di dalam rumah.

Dukungan emosional juga tak kalah penting. Di awal latihan, anak mungkin lebih sensitif dan mudah mengeluh lapar atau haus. Orangtua perlu sabar dan tidak meremehkan kondisi tubuh mereka.

Memberikan pujian atau hadiah kecil bisa menjadi penyemangat. Anak-anak biasanya merasa bangga ketika usahanya dihargai. Semangat ini akan membuat mereka lebih percaya diri menjalani puasa berikutnya.

Selain pembahasan kapan anak boleh berlatih puasa, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!