Bagikan:

JAKARTA - Sejak headphone dan headset bluetooth menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, muncul kekhawatiran baru, apakah perangkat nirkabel yang menempel dekat kepala ini bisa meningkatkan risiko kanker otak?

Isu ini sering beredar di media sosial dan forum kesehatan, membuat banyak orang bertanya-tanya apakah kebiasaan mendengarkan musik atau menerima panggilan lewat bluetooth itu berbahaya.

Untuk menjawabnya, kita perlu memahami dulu jenis radiasi yang dipancarkan perangkat ini dan bagaimana pengaruhnya terhadap tubuh manusia.

Radiasi secara umum dibagi menjadi dua kelompok besar yakniradiasi pengiondanradiasi non-pengion.

Radiasi pengion adalah jenis berenergi tinggi yang bisa merusak sel dan DNA. Contohnya sinar-X, sinar gamma, dan radiasi dari terapi kanker tertentu. Paparan dalam dosis besar diketahui dapat meningkatkan risiko kanker.

Sebaliknya, perangkat seperti ponsel, Wi-Fi, dan headphone Bluetooth memancarkanradiasi non-pengiondalam bentuk gelombang radiofrekuensi. Energinya jauh lebih rendah.

"Radiasi non-pengion tidak memiliki energi yang cukup kuat untuk merusak DNA secara langsung, sehingga secara biologis risikonya jauh lebih kecil dibanding radiasi pengion," ucap Dr Jon Glass MD, ahli neurologi, dikutip dari laman Jefferson Health.

Beberapa penelitian menunjukkan daya pancar Bluetooth jauh lebih lemah dibandingkan ponsel yang ditempelkan langsung ke telinga saat menelepon.

Kekhawatiran muncul karena headphone Bluetooth digunakan dekat dengan otak dan sering dipakai dalam waktu lama. Namun hingga kini, bukti ilmiah yang menunjukkan kaitan langsung dengan kanker otakbelum ditemukan.

"Sampai saat ini, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan penggunaan perangkat bluetooth meningkatkan risiko tumor otak.Jika memang ada risiko yang signifikan, komunitas medis pasti sudah mengeluarkan peringatan resmi.Artinya, berdasarkan pengetahuan medis saat ini, penggunaan headphone bluetooth dalam batas wajar dianggap aman dari sisi risiko kanker," kata Dr Glass.

Menariknya, para ahli justru lebih khawatir soalkerusakan pendengaranakibat penggunaan headphone dengan volume terlalu tinggi dan durasi lama.Masalah yang lebih sering ditemui bukan tumor otak, melainkan gangguan pendengaran karena paparan suara keras terus-menerus. Jadi, bukan radiasinya yang paling perlu dikhawatirkan, melainkan kebiasaan mendengarkan audio dengan volume maksimal.

Hingga sekarang, penyebab pasti sebagian besar kanker otak masih belum diketahui. Namun ada beberapa faktor risiko yang sudah dikenali, seperti:

- Paparanradiasi pengion dosis tinggidi masa lalu (misalnya terapi radiasi untuk kanker lain)

- Faktor genetik tertentu

- Riwayat keluarga dengan beberapa jenis kanker

Di luar itu, sebagian besar kasus muncul tanpa penyebab yang jelas.

Jika tujuannya menghindari kanker otak, belum ada alasan medis kuat untuk berhenti menggunakan headphone bluetooth. Mengurangi pemakaian boleh saja sebagai langkah kehati-hatian pribadi, tetapi itu bukan kewajiban dari sisi kesehatan.

Hal yang lebih penting adalah menjaga volume di bawah 60 persen, beri jeda setelah penggunaan lama, hindari tidur sambil memakai earbud. Teknologi ini dirancang dengan standar keamanan yang ketat. Selama digunakan secara wajar, Anda bisa tetap menikmati musik, podcast, atau panggilan telepon tanpa perlu dihantui ketakutan berlebihan.