Bagikan:

JAKARTA - Dunia hiburan kembali diselimuti duka dengan kepergian selebgram, Lula Lahfah. Ia ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa di dalam unit apartemennya setelah sempat tidak bisa dihubungi.

Ayah dari almarhum, Muhammad Feros, mengungkapkan kronologi penemuan yang menyedihkan tersebut. Menurutnya, kecurigaan muncul saat Lula tidak memberikan kabar hingga siang hari.

"Ya, sudah cuma, ya, hari itu sampai siang enggak ada kabar gitu," ujar Feros di TPU Raw Terate, Jakarta Timur, Sabtu, 24 Januari 2026.

Karena tidak ada respons, pihak keluarga yang diwakili oleh asisten rumah tangga meminta bantuan pengelola apartemen. Pintu unit pun terpaksa dibuka secara paksa.

"Sampai akhirnya pembantu minta untuk buka pintu. Baru pihak apartemen buka gitu," lanjutnya.

Saat pintu berhasil dibuka, Lula ditemukan dalam kondisi yang sudah tidak lagi bernyawa. Feros menduga kuat bahwa penyebab kematian putrinya karena sakit yang dideritanya.

Hal ini sekaligus membantah terkait isu yang menyebutkan kalau Lula Lahfah meninggal dunia akibat overdosis.

"Iya, saya kira sakit," katanya.

Almarhum diketahui memiliki riwayat penyakit gerd dan pembengkakan usus yang sering kambuh. Penyakit inilah yang membuatnya sempat dirawat di rumah sakit pada awal Tahun Baru.

"Ya, semua tahulah pas Tahun Baru dia enggak ini 'kan, dia di rumah sakit," kata Feros.

Muhammad Feros juga mengungkapkan bahwa Lula tidak pernah mengeluh atau curhat mengenai penyakitnya kepada keluarga.

"Enggak pernah, dia enggak pernah curhat. Dia keluhnya sama teman-temannya, teman dekatnya. Dia bilang sakit banget," kata Feros.

Fakta ini sendiri baru diketahui oleh keluarga setelah Lula tiada. Mereka mendengar cerita tersebut dari teman-teman almarhum yang datang melayat.

"Kita juga tahu dari teman-temannya, teman dekat dia aja. Gitu. Ya, itu aja yang kita sesali," lanjutnya.

Feros merasa bila saja mereka mengetahui seberapa parah rasa sakit yang diderita putrinya, mereka pasti akan mengambil tindakan.

"Kalau kita tahu, mungkin kita suruh dia berobat mungkin, ya," katanya.

Mereka bisa saja membawanya berobat ke tempat yang lebih baik, baik di dalam maupun di luar negeri. Namun, sifat tertutup dari almarhum membuat mereka tidak memiliki kesempatan itu.

Sikap almarhum yang memilih untuk menahan rasa sakitnya sendirian ini menjadi sebuah teka-teki yang menyakitkan bagi keluarga.

"Kenapa dia enggak gitu?" sesalnya.