Bagikan:

YOGYAKARTA - Setelah kepergian Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, suasana duka di Keraton Surakarta berubah menjadi sebuah babak baru mengenai siapa yang akan melanjutkan tahta kerajaan. Di tengah spekulasi dan kabar mengenai Gusti Purbaya yang mengklaim diri sebagai PB XIV, muncul nama yang tak kalah penting, yaitu KPGA Tedjowulan.

Nama Tedjowulan sudah lama dikenal di kalangan publik Solo, namun kali ini perannya kembali mencuri perhatian setelah ia ditunjuk sebagai pelaksana tugas (Plt) Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Langkah ini bukan tanpa alasan. Bambang Ary Wibowo, juru bicara KPGA Tedjowulan, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil karena Tedjowulan adalah adik kandung dari Pakubuwono XIII dan menjabat sebagai Maha Menteri, yang merupakan jabatan tertinggi kedua setelah raja.

Selain itu, posisi Tedjowulan juga diperkuat oleh Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 430 Tahun 2017, yang menyatakan bahwa PB XIII bekerja sama dengan Tedjowulan dalam menjalankan keraton sebagai penghubung antara keraton dan pemerintah. “Dengan dasar inilah beliau kini menjalankan tugasnya sebagai pelaksana harian atau Plt Keraton Surakarta,” jelas Bambang.

Profil KPGA Tedjowulan

Tedjowulan bukanlah sosok yang asing di dunia keraton. Ia lahir di Surakarta pada 3 Agustus 1954 dengan nama kecil Soerjo Soetedjo. Sebagai putra kelima dari Pakubuwono XII, Tedjowulan kini berusia 71 tahun dan telah lama dikenal di kalangan pemerhati budaya Jawa. Sebelum aktif dalam lingkungan keraton, Tedjowulan memiliki latar belakang yang unik, yakni berkarier di dunia militer. Ia adalah purnawirawan TNI AD dengan pangkat Kolonel Infanteri, yang pernah bertugas di Kodam Siliwangi dan Mabes TNI Jakarta.

Setelah pensiun dari militer, Tedjowulan lebih banyak menggeluti bidang budaya dan adat. Sebagai Maha Menteri, ia dikenal tegas namun selalu mengutamakan harmoni, dua sifat yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan di lingkungan keraton.

Jejak Karier yang Penuh Dinamika

Namun, perjalanan karier KPGA Tedjowulan tidak selalu mulus. Pasca wafatnya PB XII pada tahun 2004, Keraton Surakarta sempat mengalami perpecahan. Kedua kelompok pendukung yang berbeda masing-masing mendukung Tedjowulan dan kakaknya, KGPH Hangabehi, sebagai PB XIII. Hal ini menimbulkan dualisme kepemimpinan yang berlangsung selama delapan tahun.

Pada tahun 2012, setelah rekonsiliasi besar yang melibatkan pemerintah, akhirnya Hangabehi diakui sebagai PB XIII, sementara Tedjowulan diangkat sebagai Maha Menteri. Sejak saat itu, hubungan antara keduanya mulai mencair, dengan Tedjowulan sering tampil dalam acara adat dan menjadi tangan kanan PB XIII dalam urusan pemerintahan serta komunikasi dengan pihak luar.

KPGA Tedjowulan dan Tanggung Jawab Besar Setelah Wafatnya PB XIII

Kini, setelah wafatnya PB XIII, Tedjowulan kembali berada di pusat perhatian. Kali ini, ia tidak berusaha merebut tahta, melainkan bertanggung jawab untuk menjaga agar roda kepemimpinan tetap berjalan dengan baik dan tanpa kisruh. KPGA Tedjowulan menegaskan bahwa tugasnya adalah administratif dan bukan perebutan kekuasaan. "Beliau tidak bicara soal siapa yang berhak jadi raja. Mandat ini administratif, bukan perebutan kekuasaan," ujar Bambang, juru bicaranya.

Tedjowulan sendiri menilai bahwa pengangkatan raja yang baru sebaiknya dilakukan melalui musyawarah keluarga besar keraton, bukan deklarasi sepihak. "Keraton ini milik seluruh trah PB I sampai PB XIII. Jadi harus disepakati bersama, bukan hanya satu pihak," kata Tedjowulan.

Ia juga menyayangkan keputusan Gusti Purbaya yang mengikrarkan dirinya sebagai PB XIV di hadapan jenazah ayahandanya. "Ini belum 40 hari, bahkan jenazah belum diberangkatkan, kok sudah diikrarkan. Itu sangat disayangkan," ujarnya.

Sikap Tenang dan Tegas dalam Menjaga Kedamaian

Saat prosesi adat berlangsung di dalam keraton, Tedjowulan memilih untuk menunggu di Loji Gandrung, tempat persemayaman terakhir PB XIII. Keputusan ini diambilnya sebagai bentuk kehati-hatian untuk menghindari gesekan yang bisa muncul akibat situasi yang sensitif. Bagi Tedjowulan, menjaga ketenangan di masa duka jauh lebih penting daripada memperdebatkan siapa yang berhak atas mahkota.

Tedjowulan juga menegaskan bahwa pemerintah memiliki dasar hukum untuk memastikan stabilitas di lingkungan keraton. "Kalau terus ribut, nanti bisa diambil alih pemerintah. Saya hadir untuk menjaga ketertiban dan menjembatani komunikasi," kata Tedjowulan.

Sikapnya yang tenang, namun tegas, membuat KPGA Tedjowulan dihormati banyak pihak. Di tengah tarik-menarik dua kutub kekuasaan, Tedjowulan tampil sebagai penengah yang mengutamakan kedamaian dan stabilitas.

Peran KPGA Tedjowulan bukan hanya soal jabatan, tetapi lebih kepada menjaga satu hal yang lebih berharga daripada tahta, keutuhan dan marwah Keraton Surakarta itu sendiri. Di tengah hiruk-pikuk suksesi, Tedjowulan hadir sebagai sosok yang menjaga agar keraton tetap menjadi simbol kebudayaan dan sejarah Jawa, terlepas dari perebutan kekuasaan. Selain itu, baca juga Menteri Kebudayaan Serahkan SK Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta

Jadi setelah mengetahui profil KPGA Tedjowulan, simak berita menarik lainnya di VOI.ID, saatnya merevolusi pemberitaan!