JAKARTA - Di awal tahun 2026, Vidio mulai memberikan tontonan menarik lewat Algojo, Original Series terbaru yang memadukan aksi intens, drama emosional, dan humor segar yang dekat dengan kehidupan marjinal Jakarta.
Series ini menjadi salah satu produksi action terbesar dari Vidio, sekaligus menandai debut Arya Saloka dalam action series, sebuah momentum yang jadi kejutan menarik bagi penggemarnya.
Disutradarai oleh Rahabi Mandra dan diproduksi oleh Screenplay Films, Algojo hadir dalam 8 episode, menghadirkan dunia jalanan Jakarta sebagai arena pertarungan nasib, pilihan moral, kesetiaan, dan kemanusiaan.
Algojo berkisah tentang Arya Saloka yang berperan sebagai Zar, seorang Anjelo (pengantar-penjemput pekerja seks) yang menjalani hidup sederhana sampai sebuah insiden tiba-tiba menyeret ayahnya ke dalam bahaya. Ayahnya tanpa sengaja menyaksikan pembunuhan seorang podcaster, sehingga ia menjadi target buruan dan mengalami luka serius. Zar bertekad mencari pelaku yang telah mencelakai ayahnya.
Ketika berusaha mencari jawaban, Zar justru masuk ke lingkaran organisasi gelap yang beroperasi di bawah tanah. Sebuah kesalahpahaman fatal membuatnya berada di posisi berbahaya, hingga ia harus berhadapan dengan Frengky (Randy Pangalila), Algojo yang dikenal dingin dan taktis, serta menghadapi tekanan dari sang pemimpin, Sadino (Andy /rif).
BACA JUGA:
Ilya Aktop, Nicholas Raven, dan Ami Murti selaku Penulis menjelaskan bahwa ide awal Algojo dan Anjelo lahir dari kolaborasi banyak pihak, dengan menggali sisi unik dan tabu dari dunia ‘underground’ Jakarta yang jarang dibahas. Melalui riset langsung ke gang-gang rawan kriminal, mereka menemukan bahwa orang-orang di sana pada dasarnya sama seperti kebanyakan orang, yang berbeda hanyalah cara hidup dan pekerjaannya. Pengalaman inilah yang kemudian dirangkum dan dituangkan ke dalam skenario.
Cerita yang tertuang di series Algojo menyinggung moral abu-abu, loyalitas, dan pilihan sulit. Dan Rahabi menyatakan ada sisi menarik terkait kemanusiaan yang ingin disampaikan melalui series ini.
Melalui konflik antara pekerjaan, keluarga, dan harga diri, penonton diajak memahami bahwa keputusan para karakter selalu lahir dari tekanan hidup, bukan dari keinginan tunggal menjadi “jahat”.