Bagikan:

SUMBA TIMUR – Menbud Fadli Zon meresmikan Rumah Ibu Bumi di Maujawa, Sumba Timur pada Sabtu 27 Desember. Hal ini menjadi langkah konkret pemerintah membangun ekosistem budaya Tenun Sumba melalui aktivasi ruang publik berbasis komunitas.

Rumah Ibu Bumi yang dikelola Yayasan Umaratu diharapkan menjadi simpul baru pelestarian wastra sekaligus penggerak ekonomi kreatif lokal. Fadli menegaskan, ruang budaya tidak hanya berfungsi menjaga tradisi, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

“Ruang publik seperti ini harus menjadi kantong kebudayaan. Tempat belajar, ruang inspirasi bagi generasi muda, sekaligus ruang pewarisan kearifan lokal dan kewirausahaan,” kata Fadli Zon dalam siaran pers, 28 Desember.

Ia menekankan pembangunan Rumah Ibu Bumi merupakan hasil kolaborasi lintas pihak, mulai dari pemerintah, komunitas budaya, swasta, hingga individu yang peduli pada pemajuan kebudayaan. Menurutnya, budaya harus diposisikan sebagai kekuatan pemersatu identitas sekaligus sumber ekonomi berkelanjutan.

“Budaya bukan sekadar potensi ekonomi, tapi identitas yang diwariskan antargenerasi. Ini sejalan dengan amanat undang-undang untuk memanfaatkan dan mengembangkan budaya menuju ekonomi budaya,” ujarnya.

Fadli juga memberi apresiasi kepada para penenun dan maestro Tenun Sumba yang telah membawa wastra lokal ke panggung global. Ia menyebut kain Sumba kini hadir di museum, koleksi internasional, hingga pasar fesyen berbagai negara.

Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra menambahkan, aktivasi Rumah Ibu Bumi selaras dengan upaya revitalisasi ruang budaya agar pelaku budaya memiliki ruang tumbuh yang berkelanjutan.

Peresmian ditandai penandatanganan prasasti dan diisi pertunjukan seni serta peragaan busana tenun. Pemerintah berharap Rumah Ibu Bumi menjadi pusat penguatan Tenun Sumba, menjaga teknik tradisional tetap hidup, sekaligus meningkatkan kesejahteraan perajin di tengah arus globalisasi.