Bagikan:

JAKARTA – Mengambil peran sebagai seorang ibu bukan hal baru bagi Michelle Ziudith, namun menjadi ibu tunggal di era tahun 90-an dalam film Alas Roban memberikan tantangan tersendiri.

Berperan sebagai Ibu Nursita, Michelle harus menghidupkan karakter ibu yang tegas, jauh dari citra ibu milenial yang lembut dan penuh kompromi. Ia menggali memori masa kecilnya sendiri untuk mendapatkan "rasa" didikan orang tua zaman dahulu yang disiplin.

"Aku harus mengeksekusi karakter ibu tahun 90-an. Jadi aku kasih rasa yang berbeda dari peran ibu-ibu sebelumnya. Aku ingat dulu umur 5 tahun sudah bisa baca, sholat, dan ngaji. Didikannya kenceng banget. Nah, ketegasan itu yang aku bawa ke karakter Ibu Nursita terhadap Gendis," jelas Michelle saat bertandang ke kantor VOI, belum lama ini.

Karakter Nursita digambarkan sebagai ibu yang mendidik anaknya yang buta parsial agar bisa mandiri sekeras apapun keadaannya.

Namun, tantangan terberat Michelle di film ini bukan hanya soal emosi, melainkan fisik. Dalam naskah, banyak adegan yang mengharuskan Michelle menggendong Fara Shakila, lawan mainnya yang berperan sebagai Gendis.

Mengingat usia Fara yang sudah beranjak besar, bobot tubuhnya hampir menyamai Michelle, ditambah lagi ukuran sepatu dan baju mereka yang ternyata sama.

Demi totalitas peran, Michelle melakukan persiapan fisik yang tidak main-main. Sebelum syuting dimulai, ia rutin pergi ke pusat kebugaran (gym) dengan satu tujuan spesifik yaitu melatih kekuatan kaki dan punggung agar kuat menggendong beban seberat manusia dewasa. Ia bahkan meminta pelatih pribadinya (PT) untuk memfokuskan latihan pada area tersebut.

"Aku bilang ke PT-ku, 'Aku harus gendong orang seumuran aku'. Aku latihan angkat beban, cobain angkat galon, semuanya aku cobain. Karena medannya hutan, kita nggak tahu ada batuan, jalan menurun, atau licin. Mata kaki aku harus kuat," ungkap Michelle.

Dedikasi ini ia lakukan agar tidak cedera dan mampu menjaga keamanan Fara saat adegan lari-larian di tengah hutan Alas Roban.

Selain persiapan fisik, membangun chemistry dengan Fara Shakila juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Michelle menuturkan bahwa Fara adalah sosok yang sangat pendiam dan pemalu saat pertama kali bertemu.

Fara yang sangat berdedikasi, datang ke lokasi reading lengkap dengan buku skenario dan langsung fokus, membuat Michelle harus putar otak untuk mencairkan suasana.

Michelle menerapkan "ritual" khusus setiap kali bertemu Fara.

"Aku biasain setiap hari kalau ketemu itu harus peluk dulu. Sampai sakit. Jadi harus kenceng banget peluknya. Pas pulang juga gitu, baru setelah itu dia mau ngobrol dan cerita-cerita," kata Michelle.

Uniknya, di lokasi syuting, dinamika mereka justru terbalik. Michelle mengaku dialah yang sering mengalami perubahan suasana hati (mood swing) karena kelelahan dan tekanan peran, sementara Fara justru selalu ceria.

Fara sering kali menjadi penyemangat tersirat bagi Michelle. Ketika Michelle sedang lelah atau takut, keceriaan Fara yang mengajak bermain mampu sedikit meredakan ketegangan.

"Fara itu nggak mood swing. Dia ceria terus. Kalau lihat ibunya (Michelle) lagi tiduran capek, dia lewat-lewat senyum. Akhirnya aku yang luluh, 'Nak mau main? Ya udah ayo'," cerita Michelle.

Kerja keras fisik dan emosional Michelle Ziudith ini bisa disaksikan penonton mulai 15 Januari 2026.