Bagikan:

YOGYAKARTA - Banyak orang tua merasa bersalah ketika suara mereka tiba-tiba meninggi saat menghadapi anak yang sulit diarahkan. Banyak pula panduan parenting modern yang mengingatkan bahwa berteriak dapat merusak emosi dan perkembangan anak. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya hitam-putih.

Menurut penjelasan seorang psikolog yang khusus tentang kesehatan psikologi anak, Emily Edlynn, Ph.D. dilansir Psychology Today, Senin, 8 Desember, konteks dan cara berteriak sangat berpengaruh terhadap dampaknya. Karena itu, penting memahami kapan hal ini masih dapat dimaklumi dan kapan harus dihindari.

Berteriak sering memiliki makna berbeda bagi tiap keluarga. Ada orang tua yang sekadar menaikkan volume suara agar pesan terdengar jelas, namun tanpa kemarahan. Ada pula yang berteriak sebagai luapan emosi yang sudah menumpuk. Perbedaan makna ini membuat penilaian terhadap kebiasaan berteriak tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

panduan parenting sehat tentang berteriak pada anak yang wajar atau merusak
Ilustrasi panduan parenting sehat tentang berteriak pada anak yang wajar atau merusak (Freepik/DC Studio)

Dalam observasinya, Edlynn menyebut bahwa orang tua bisa menaikkan suara karena kelelahan, stres, atau merasa tidak didengar setelah berulang kali memberikan instruksi. Emosi yang menumpuk dapat membuat reaksi spontan lebih sulit dikendalikan. Bila teriakan tidak disertai kata-kata kasar, penghinaan, atau ancaman, serta hanya terjadi sesekali, dampaknya cenderung berbeda dengan teriakan yang bernada agresif. Terutama jika hubungan keluarga pada dasarnya hangat dan penuh cinta, satu atau dua kali suara meninggi tidak akan langsung merusak kedekatan yang sudah terbangun.

Sebaliknya, berteriak dapat menjadi berbahaya jika berubah menjadi pola komunikasi yang penuh kemarahan dan menyakiti hati. Bila orang tua sering menghina, merendahkan, atau mengancam lewat teriakan, hal tersebut dapat memicu rasa takut berkepanjangan pada anak. Anak bisa merasa rumah tidak lagi menjadi tempat aman. Dalam jangka panjang, anak bisa belajar bahwa kasih sayang selalu terkait dengan suara keras dan ketakutan, sehingga hal ini memengaruhi kemampuan mereka dalam menjalin hubungan yang sehat ketika dewasa.

Konflik dan emosi di dalam keluarga sebenarnya merupakan hal yang wajar. Jika setelah konflik orang tua mampu meminta maaf dan memperbaiki suasana, justru anak dapat belajar mengenai cara mengelola perbedaan pendapat dengan sehat. Anak memahami bahwa setiap orang dapat membuat kesalahan, namun kedekatan bisa dipulihkan dengan komunikasi yang baik dan saling menghargai.

Kesimpulannya, berteriak sesekali tidak menjadikan seseorang sebagai orang tua yang buruk. Yang lebih penting adalah menjaga agar rumah tetap menjadi lingkungan aman dan penuh perhatian. Orang tua juga perlu menyadari batas emosinya, berhenti sejenak ketika mulai merasa kewalahan, lalu kembali berkomunikasi dengan tenang. Bila teriakan sudah menjadi kebiasaan yang menyakitkan dan merusak hubungan, maka diperlukan perubahan pola komunikasi dengan mencari dukungan atau strategi baru dalam mengasuh anak.

Penting sekali dipahami, bahwa parenting bukan tentang kesempurnaan. Parenting adalah tentang berkesadaran, tanggung jawab, dan cinta yang selalu diperbarui setiap hari.