YOGYAKARTA - Setiap kita membawa cerita masa kecil di balik senyum dan sikap dewasa. Namun, kadang pengalaman sulit di masa kanak-kanak seperti kekerasan, pengabaian, perceraian orang tua, atau hidup dalam kekacauan rumah tangga bisa membentuk pola kepribadian dan perilaku yang terus terbawa hingga dewasa. Menariknya, pola-pola tersebut bukan tanpa makna. Sering kali pola ini muncul sebagai “pelindung” untuk menghadapi rasa sakit dan kehilangan di masa lalu. Berikut ini, pola perilaku yang secara psikologis ada hubungannya dengan luka batin masa kecil.
1. Rentan emosi negatif
Salah satu pola yang sering muncul adalah kecenderungan tinggi terhadap emosi negatif, atau dalam istilah psikologi disebut neuroticism. Orang dengan latar belakang masa kecil yang penuh tekanan cenderung lebih mudah merasa cemas, sedih, marah, atau panik. Sekali emosi itu muncul, mereka bisa kesulitan untuk kembali tenang seperti sebelumnya. Menurut psikolog Seth J. Gillihan, Ph.D., ini bisa jadi cara otak dulu belajar agar tetap “siap siaga” menghadapi kemungkinan buruk. Namun di masa dewasa, respons intens seperti itu bisa membuat hidup terasa berat dan melelahkan.
2. Kemarahan dan agresi
Selanjutnya, pola kemarahan dan agresi bisa berkembang sebagai bentuk pertahanan diri. Karena kesulitan mengekspresikan rasa sakit dengan aman saat kecil, sebagian orang belajar bahwa marah atau bersikap agresif adalah cara untuk melindungi diri dari ancaman atau pelecehan. Impulsifitas dan kemarahan, baik secara verbal maupun fisik, bisa muncul tanpa disadari ketika emosi negatif muncul. Jelas Gillihan dilansir Psychology Today, Jumat, 5 Desember, kebiasaan ini juga bisa menjadi warisan dari apa yang dulu disaksikan atau dialami di lingkungan rumah. Meskipun demikian, pola ini bisa menyebabkan konflik terus-menerus dalam hubungan dan kesepian batin.
3. Sulit bergaul
Bagi sebagian orang yang pernah terluka di masa kecil, membangun hubungan dengan orang lain terasa sulit dan melelahkan. Mereka mungkin lebih memilih “jalan sendiri” daripada bekerja sama atau bersikap kooperatif dengan orang lain. Sulitnya bergaul ini bisa muncul dari rasa tidak percaya, rasa terluka, atau keengganan membuka diri kembali. Akibatnya, mereka bisa kerap mengalami konflik atau merasa terasing dalam interaksi sosial. Meskipun demikian, pola ini sering kali menjadi pelindung agar tidak mudah dikecewakan atau disakiti lagi.
4. Mengejar pencapaian sebagai pelarian
Pola lain yang mungkin muncul adalah fokus berlebihan pada pencapaian eksternal seperti karier, status, atau kekayaan. Bagi orang yang tumbuh dalam ketidakstabilan, meraih kesuksesan materi atau sosial bisa terasa seperti cara untuk membuktikan nilai diri atau menutup rasa tidak aman dari masa lalu. Dorongan untuk “sukses besar” bisa jadi muncul dari kebutuhan kompensasi atas trauma emosional.
Namun ketika pencapaian menjadi tujuan utama, sering muncul tekanan batin, kecemasan berlebihan, atau perasaan bahwa pencapaian apapun masih terasa kurang. Ini bisa membuat kebahagiaan terasa sulit dicapai, karena fokusnya bukan pada “hidup bermakna”, melainkan “terlihat berhasil”.
5. Kurang terlibat dengan kehidupan
Menariknya, meski ada dorongan kuat untuk sukses secara eksternal, banyak orang dengan latar belakang luka batin justru mengalami kesulitan untuk benar-benar terlibat atau merasa punya tujuan dalam hidup. Mereka bisa merasa sulit menemukan aktivitas yang memberi makna, merasa kurang antusias, dan sering merasa hampa meskipun tampak “sukses” dari luar. Kesulitan menyelesaikan tugas, kesulitan merasa bangga atas pencapaian, atau sering merasa hidup terasa monoton adalah beberapa ekspresi dari pola ini. Kehidupan sosial-nya pun bisa terasa dingin atau jauh, yang kadang memilih sendiri agar tidak mudah terluka lagi.
BACA JUGA:
Mengenali pola-pola ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri melainkan sebagai langkah sadar untuk memahami bahwa luka batin masa kecil bisa meninggalkan jejak dalam kepribadian dan perilaku dewasa. Pesan Gillihan, penting diingat bahwa pola-pola ini seringkali muncul sebagai bentuk pelindung diri. Dengan pemahaman dan dukungan, perilaku ini bisa diubah. Jika Anda merasa pola ini menghantui, pertimbangkan untuk berbagi dengan orang tepercaya atau profesional, agar proses penyembuhan bisa mulai berjalan. Masa kecil Anda mungkin membekas, tapi masa depan Anda tetap bisa Anda bentuk dengan penuh harapan.