Bagikan:

JAKARTA - Belakangan ini olahan salmon terbaru bernama candied salmon menjadi tren di media sosial, terkhususnya TikTok. Candied salmon sebenarnya merupakan hidangan berupa salmon yang diawetkan, diasapi, lalu diglasir dengan gula atau sirup maple selama proses pengasapan.

Di tengah tren candied salmon yang semakin populer saat ini, banyak pengguna TikTok yang membuatnya sendiri dan membagikan pengalaman makan mereka ke publik. Namun, sebagian dari mereka melakukan proses pembuatan candied salmon yang tidak dengan benar, sehingga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.

Mengutip dari laman Food and Drug Administration (FDA), mengolah salmon asap harus dilakukan dengan benar dan sesuai anjuran. Ini karena salmon asap tidak dimasak, melainkan hanya diproses untuk pengawetan yang membuatnya rentan terkontaminasi bakteri Listeria monocytogenes.

Bakteri tersebut menjadi penyebab infeksi serius bernama listeriosis. Penyakit ini dapat menyebabkan gejala ringan seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, kaku leher, gangguan keseimbangan, dan masalah pencernaan.

Namun, pada kasus berat, infeksi bakteri tersebut bisa menyebar ke otak atau aliran darah dan menimbulkan sepsis, pneumonia, bahkan kematian jika ditangani terlambat.

Pada kelompok tertentu, seperti ibu hamil, lansia di atas 65 tahun, serta orang dengan imunitas renah seperti pasien kanker tidak disarankan mengonsumsi salmon asap langsung dari kemasan. Salmon harus dimasak hingga suhu 74 derajat celcius sampai bakterinya mati.

Selain itu, proses pengasapan pada salmon yang dilakukan kurang tepat juga dapat menghasilkan sejumlah senyawa yang berpotensi karsinogenik, yang berkaitan dengan penyakit kanker. Seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), nitrosamin, amina hetersiklik, hingga kontaminan logam berat seperti arsenik dan cadmium.

Dengan dampak bahayanya tersebut, maka disarankan untuk mengonsumsi candied salmon atau salmon asap sebaiknya dipastikan pengolahannya dilakukan dengan benar dan salam porsi wajar.

Pengolahan candied salmon yang benar melibatkan proses marinasi (curing) yang tepat, dan pemasakan dengan metode panas (hot smoking) atau pengeringan/pemanggangan suhu rendah, untuk memastikan keamanan pangan dan tekstur yang diinginkan.

“Orang-orang juga dapat lebih mengurangi risiko dengan menjaga ikan asap dingin yang siap dimakan (5 derajat celcius atau di bawahnya), selalu menggunakan produk pada tanggal penggunannya, mengikuti intruksi penyimpanan pada label, dan memasaknya sampai sangat panas,” ujar pejabat kepala insiden di FSA, Dr. Caroline Handford, dikutip dari BBC.