Bagikan:

YOGYAKARTA – Dalam menulis sejarah, para peneliti memiliki berbagai metode salah satunya dengan historiografi tradisional. Metode historiografi tradisional ini berkaitan erat dengan sejarah masa tradisional suatu wilayah atau negara. Ciri khas dari historiografi tradisional umumnya adalah dipengaruhi oleh faktor-faktor budaya. Untuk memahami lebih lanjut simak artikel berikut ini.

Ciri Khas dari Historiografi Tradisional

Seperti diketahui, historiografi adalah bidang studi yang mempelajari bagaimana sejarah dituliskan, dipaparkan, atau dilaporkan setelah penelitian dilakukan. Dalam historiografi, para sejarawan akan melakukan penelitian hingga analisis terhadap sejarah yang ada. Setelah itu barulah sejarah dapat direkonstruksi.

Sedangkan pendekatan historiografi tradisional adalah sumber-sumber sejarah yang didapatkan dari sumber yang yang ada, dimana sumber tersebut dipengaruhi oleh budaya masyarakat kala itu. Artinya sumber sejarah bisa sangat dipengaruhi oleh pandangan pribadi atau didasarkan pada kepentingan penguasa maupun kelompok dominan.

Dalam Ciri-ciri Historiografi Tradisional, Kolonial dan Modern yang disusun oleh Hasnawati T., S.Pd, dikatakan bahwa sumber sejarah yang digunakan pada historiografi tradisional awalnya bukan untuk menuliskan sejarah, melainkan sebagai pengakuan sekaligus diperuntukan bagi keabadian penguasa.

Ada beberapa ciri-ciri historiografi tradisional yang bisa diketahui yakni sebagai berikut, dikutip dari berbagai sumber.

  • Istana sentris

Historiografi tradisional biasanya bersifat istana sentris, artinya sumber sejarah berpusat pada kehidupan di istana. Misalnya, sumber sejarah yang membahas kehidupan raja atau keluarga istana lainnya. Sedangkan kehidupan rakyat umum tidak tergambarkan dengan baik.

  • Bersifat Religio-magis

Dalam historigrafi tradisional raja akan ditulis sebagai manusia sakti yang punya kelebihan gaib atau mampu mengatur makhluk yang tak kasat mata. Penggambaran itu dilakukan agar raja mendapat kesan tertentu dari rakyatnya. Dengan begitu rakyat jadi hormat, patuh, dan tidak memberontak. Dalam beberapa sumber raja juga dianggap sebagai titisan dewa atau makhluk gaib.

  • Bersifat regio-sentrisme

Biasanya sumber hanya menekankan peristiwa atau tokoh yang berhubungan dengan daerah atau wilayah tertentu. Misalnya, sejarah yang lebih menonjolkan peran kota, provinsi, atau kerajaan tertentu dalam perkembangan sejarah suatu negara atau dunia. Contohnya adalah Babad Cirebon, Babad Bugis, Babad Banten, dan sebagainya.

  • Bersifat etnosentris

Historiografi tradisional ditulis dengan menekankan atau menonjolkan suku bangsa dan budaya yang ada di wilayah kerajaan. Artinya sumber hanya menjelaskan hal-hal yang berdekatan dengan kerajaan atau keraton. Sedangkan cakupan di luar kerajaan tidak disinggung.

  • Bersifat psiko-politis sentrisme

Historiografi tradisional juga ditulis oleh pujangga atau tokoh-tokoh tertentu yang sarat akan muatan psikis raja. Biasanya sumber-sumber ini menjadi alat politik raja untuk melanggengkan kekuasaannya. Sumber ini biasanya dipengaruhi oleh ideologi atau kepentian politik dari raja atau kelompok yang dominan sehingga pasti terjadi bias.

Itulah beberapa ciri khas dari historiografi tradisional. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.