YOGYAKARTA – Apakah Anda termasuk orang yang suka menonton film horor walau sering menutup mata saat adegan menegangkan muncul? Ternyata, rasa takut yang Anda alami punya manfaat tersendiri bagi kesehatan mental. Sebuah teori baru yang dipublikasikan pada Januari 2024 di jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences mengungkap bahwa film horor bisa membantu otak manusia berlatih menghadapi ketidakpastian.
Penelitian berjudul Surfing Uncertainty with Screams: Predictive Processing, Error Dynamics and Horror Films ini dilakukan oleh Mark Miller, Ben White, dan Coltan Scrivner, tiga peneliti yang tertarik memahami bagaimana rasa takut bisa menjadi alat belajar bagi otak. Hasilnya menunjukkan bahwa menonton film horor bukan hanya hiburan, tapi juga latihan mental yang menyehatkan.
Menurut para peneliti, otak manusia bekerja layaknya mesin prediksi yang terus menebak apa yang akan terjadi berdasarkan pengalaman sensorik. Saat prediksi itu tidak sesuai kenyataan, muncul yang disebut prediction error, dan otak akan memperbarui model internalnya agar lebih akurat di masa depan. Film horor menciptakan kondisi sempurna bagi proses ini, karena penonton mengalami kejutan dan ketegangan tanpa risiko nyata.
Dalam setiap momen tegang, lonjakan ketakutan, atau jump scare mendadak, otak Anda sedang “berlatih” menghadapi hal-hal tak terduga dengan cara yang aman. Seperti kata para peneliti dalam publikasinya yang dilansir Psypost, Jumat, 14 November, “Kami berpendapat bahwa kerangka pemrosesan prediktif dapat menjadi penjelasan menyeluruh untuk keterlibatan manusia dengan konten horor, dan hal ini membuka peluang untuk hipotesis yang jelas serta dapat diuji.”
Miller dan rekan-rekannya juga menjelaskan bahwa daya tarik film horor terletak pada keseimbangan antara hal yang dapat diprediksi dan hal yang mengejutkan. Struktur cerita yang sudah akrab, seperti karakter utama yang berjuang bertahan hidup, memberi rasa aman bagi penonton. Namun, di saat bersamaan, elemen kejutan seperti suara tiba-tiba atau alur yang tak terduga membuat otak tetap waspada. Kombinasi ini memaksa otak terus memperbarui prediksinya tanpa merasa kewalahan. Hasilnya, Anda tetap merasa tegang, tapi juga mendapatkan kepuasan ketika berhasil “menaklukkan” ketakutan itu.
Selain sebagai latihan kognitif, film horor ternyata bisa membantu meningkatkan regulasi emosi. Anda belajar merespons rasa takut dengan lebih sadar. Antara lain dengan mengenali detak jantung yang meningkat, napas cepat, atau adrenalin yang melonjak, sambil tetap tahu bahwa semuanya terjadi di ruang aman. Menurut Coltan Scrivner, yang juga dikenal karena risetnya tentang morbid curiosity atau rasa ingin tahu terhadap hal menakutkan, ketertarikan terhadap horor bisa menjadi cara alami manusia memahami risiko. Ia menjelaskan bahwa menonton film horor membantu otak membedakan antara bahaya nyata dan ancaman yang bisa dikelola. Dengan kata lain, rasa takut di layar bisa membantu Anda menjadi lebih tenang di dunia nyata.
BACA JUGA:
Meski punya bermanfaat, tidak semua orang cocok menggunakan film horor sebagai latihan mental. Bagi sebagian individu dengan riwayat trauma atau kecemasan tinggi, tontonan yang terlalu intens justru bisa memperkuat persepsi bahwa dunia ini berbahaya. Miller dan timnya menekankan pentingnya memahami batas diri sendiri karena tidak semua bentuk ketidakpastian bisa dianggap sehat. Jika setelah menonton Anda justru merasa gelisah berlebihan atau sulit tidur, itu pertanda otak sedang kelelahan menghadapi perdiction error yang terlalu besar. Seperti halnya olahraga, latihan mental lewat film horor juga perlu takaran yang pas agar hasilnya optimal.
Jadi, jika Anda suka menonton film horor, sekarang Anda tahu bahwa di balik ketegangan dan rasa takut, otak Anda sebenarnya sedang berlatih menghadapi ketidakpastian. Dengan menonton dalam kadar yang seimbang, Anda bisa memanfaatkan film horor sebagai cara seru untuk melatih otak tetap tenang di situasi tak terduga. Namun, tetaplah bijak dalam memilih tontonan agar manfaatnya terasa tanpa menambah stres.