Bagikan:

JAKARTA - Tidak sedikit orang tua yang pernah menghadapi situasi ketika anak tiba-tiba mengeluh sakit kepala atau perut menjelang waktu berangkat sekolah. Pertanyaan pun muncul: apakah anak benar-benar merasa tidak enak badan, atau hanya mencari alasan untuk beristirahat di rumah? Dalam dunia parenting, kondisi seperti ini cukup umum terjadi.

Anak-anak terutama yang sudah bersekolah, mulai memahami bahwa keluhan fisik dapat menjadi cara untuk menghindari sesuatu yang tidak mereka sukai. Karena itu, penting bagi orang tua untuk dapat membedakan antara gejala penyakit sungguhan dan alasan yang dibuat-buat, agar dapat memberikan respons yang tepat tanpa mengabaikan kebutuhan emosional anak.

Kenapa Anak ‘Pura-Pura’ Sakit?

Menurut artikel di American Academy of Pediatrics (AAP), menukil laman Parents, Jumat, 7 November, ada beberapa pemicu anak pura-pura sakit karena ingin menghindari sekolah: bisa karena bullying, beban tugas yang menumpuk, atau bahkan kurangnya perhatian di rumah, misalnya ketika orang tua sering bepergian atau baru saja hadir seorang adik baru. Bisa juga motivasinya ringan seperti ingin bermain tanpa dibatasi atau menonton film favorit. 

Tanda-Tanda Anak Mungkin Tidak Benar-Benar Sakit

Berikut adalah enam indikasi yang dapat membantu orang tua memetakan: apakah penyakit anak valid atau sekadar “cuti dadakan”.

Sakit kepala tanpa bukti kuat

Anak mungkin mengomel “kepala sakit”, tetapi bila ia masih makan, bermain, tertawa, maka kemungkinan besar sakitnya tidak seserius yang diklaim. 

Sebaliknya, sakit kepala sungguhan sering disertai muntah, gangguan penglihatan, atau tidak bisa dibangunkan. 

Keluhan perut yang tak disertai tanda mendukung

Bila anak mengatakan “sakit perut”, perhatikan: apakah makan pagi masih dilahap? Apakah kulit tampak pucat, berkeringat dingin, atau pupnya mengalami diare? Tanpa gejala‐tambahan, bisa jadi ia hanya mengeluh. 

Demam yang ‘mudah’ diatur

Mengambil suhu dengan jari atau dahi saja bisa menipu. Pastikan menggunakan termometer dan tidak dilakukan langsung setelah minum/hangat atau setelah aktivitas fisik. Suhu oral ≥ 100,4°F (~38 °C) dianggap sebagai demam yang valid oleh AAP. 

Batuk yang ‘terpaksa’

Batuk riil sering datang tiba‐tiba, keras, disertai lendir. Sebaliknya, batuk yang dipaksakan terasa ‘teratur’ atau terdengar seperti diatur sendiri. 

Sakit tenggorokan tanpa konteks penyakit

Jika tak ada demam, pilek, atau batuk, bisa jadi anak hanya mencari alasan. Kendati demikian, tidak semua sakit tenggorokan semata akting, terutama bila memang disebabkan infeksi bakteri. 

Keluhan capek atau letih (malaise) yang terlalu umum

Anak mengatakan “aku nggak enak badan” bisa saja benar. Tetapi bila terus-menerus tanpa gejala jelas atau alasan jelas (sekolah baru, perubahan rutinitas), maka sebaiknya dicermati akar masalahnya. 

Apa yang Sebaiknya Orang Tua Lakukan?

  • Ajukan pertanyaan lembut, bukan tuduhan: “Apa yang membuatmu tak mau sekolah hari ini?” atau “Apakah ada hal yang membuatmu tidak nyaman?”
  • Berkomunikasi dengan guru dan staf sekolah, untuk mengetahui apakah anak menunjukkan perilaku menghindar atau kesulitan di kelas. 
  • Jangan langsung mengabaikan, karena keluhan yang sering muncul bisa menjadi sinyal adanya masalah lebih dalam misalnya gangguan belajar atau kecemasan. 
  • Tetapkan aturan: misalnya, jika tak ada demam, muntah, atau gejala nyata lainnya, maka anak tetap harus hadir ke sekolah. Hal ini mengajarkan tanggung jawab. 
  • Perhatikan perubahan rutinitas atau mood, yang mungkin menyebabkan anak lebih memilih ‘di rumah’ daripada beraktivitas.

Sebagai orang tua, Anda berada di antara dua kutub: ingin percaya bahwa anak Anda jujur ketika sakit, namun juga perlu waspada terhadap “taktik cuti” yang bisa merugikan rutinitas dan perkembangan mereka sendiri. Dengan memahami sinyal-sinyal yang telah dibahas dan mendekatinya dengan kasih sayang serta kewaspadaan, maka Anda dapat memelihara hubungan yang terbuka antara kepercayaan dan tanggung jawab. Ingatlah: tidak ada gunanya “melampaui” anak yang berpura-pura sakit dengan kemarahan, tetapi lebih efektif membukakan dialog dan menyelami kebutuhan sebenarnya di balik keluhan itu.