Bagikan:

YOGYAKARTA – Sebagai orang tua, Anda memiliki peran penting dalam membentuk kepercayaan diri anak. Bukan hanya soal pujian berlebihan, melainkan tindakan sehari-hari yang halus namun bermakna agar anak merasa pintar dan yakin dengan dirinya. Dengan pendekatan yang penuh perhatian dan pengertian, Anda bisa membantu anak mengenali potensi diri dan mengeksplor kemampuan mereka tanpa dibatasi stereotip. Berikut enam hal yang bisa Anda terapkan agar anak tumbuh lebih percaya diri dan merasa kompeten.

1. Tidak membuat asumsi berdasarkan stereotip

Seringkali orang tua secara tidak sadar terjebak stereotip gender. Misalnya menganggap anak laki-laki kurang mahir verbal atau anak perempuan kurang cenderung ke bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik/Engeineering, dan Matematika). Padahal penelitian menunjukkan bahwa kemampuan verbal maupun sistematis pada anak laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda. Menghindari asumsi seperti ini membuka ruang bagi anak untuk tumbuh sesuai minat dan kemampuan mereka tanpa dibatasi oleh persepsi awal orang dewasa.

2. Melindungi anak dari kecemasan guru

Ada kasus di mana guru, terutama guru perempuan dalam mata pelajaran matematika, membawa kecemasan mereka sendiri ke dalam proses pengajaran, yang kemudian berdampak pada prestasi dan keyakinan anak perempuan terhadap matematika. Namun orang tua memiliki peran untuk “menyaring” pengaruh negatif tersebut dengan membantu anak memahami bahwa mereka mampu dalam bidang tersebut meskipun guru menunjukkan kekhawatiran. Dengan dukungan orang tua, anak bisa terhindar dari efek stereotip yang memperkecil potensi mereka.

cara efektif membuat anak percaya diri dengan kemampuannya
Ilustrasi cara efektif membuat anak percaya diri dengan kemampuannya (Freepik/pressfoto)

3. Menggunakan bahasa ekspresif

Bercakap dengan anak secara ekspresif, atau menggunakan kalimat yang kaya makna, emosi, dan pertanyaan terbuka, membantu anak mengembangkan kemampuan bahasa, berpikir reflektif, dan kepercayaan diri dalam berkomunikasi. Bahkan anak laki-laki yang kadang dibatasi oleh asumsi bahwa mereka kurang verbal pun dapat mendapatkan manfaat besar dari bahasa yang penuh makna dan ekspresif. Mengutip YourTango, Senin, 27 Oktober, dengan kebiasaan berbicara yang kaya dan penuh ekspresi, Anda dapat menstimulasi kemampuan verbal anak sejak usia dini dan mendukung perkembangan komunikasi mereka secara holistik.

4. Mendukung minat anak

Salah satu cara paling efektif agar anak merasa kompeten adalah dengan mendukung minat dan keingintahuan mereka sejak dini. Jika anak tertarik pada sains, matematika, atau bidang visual/spasial, dorong mereka lewat mainan edukatif atau aktivitas yang relevan agar minat tersebut tumbuh dengan positif. Dukungan ini membantu anak meyakini bahwa mereka memang bisa berkembang di bidang tersebut, tanpa dibatasi oleh stereotip bahwa bidang tertentu bukan untuk anak perempuan atau anak laki-laki.

5. Tidak meremehkan kemampuan anak

Terkadang tanpa sadar orang tua meremehkan kemampuan anak, terutama anak perempuan, dengan asumsi bahwa mereka tidak mampu melakukan aktivitas yang “risiko” atau menantang. Padahal penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki dan perempuan sebenarnya sama berani dalam menghadapi tantangan, jika diberikan kesempatan yang tepat. Dengan tidak meremehkan, Anda memberi ruang kepada anak untuk mencoba hal baru, mengambil risiko yang wajar, dan belajar dari pengalaman, sehingga percaya diri mereka tumbuh seiring kemampuan yang berkembang.

6. Membantu mengembangkan sifat empati dan kepekaan

Anak laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki potensi untuk menjadi penuh empati dan peduli terhadap orang sekitar. Namun stereotip sosial sering membuat anak laki-laki merasa bahwa perilaku peduli atau perhatian adalah “hal perempuan”. Orang tua dapat mengingatkan bahwa sifat peduli itu netral dan mendukung anak laki-laki maupun perempuan untuk mengekspresikan perasaan, membantu orang lain, atau merawat adik atau hewan peliharaan. Dengan demikian anak semakin menyadari kekuatan sifat empati sebagai bagian dari jati diri mereka dan tidak merasa terbatas oleh stereotip.

Menumbuhkan kepercayaan diri anak bukan semata soal pujian yang sering, melainkan kesadaran orang tua dalam mendukung potensi anak tanpa asumsi dan batasan stereotip. Dengan berbicara secara ekspresif, mendukung minat anak, serta memberi ruang untuk mengambil risiko dan empati, Anda membantu anak tumbuh sebagai individu yang percaya diri dengan keterampilan dan kemampuan diri sendiri.