Bagikan:

JAKARTA - Niken Anjani jadi salah satu pemeran dalam film garapan sutradara Herwin Novianto, Shutter, yang diproduksi Falcon Pictures dan akan tayang perdana di bioskop pada 30 Oktober.

Bukan sekedar tontonan mencekam yang hanya menawarkan ketegangan supranatural, adaptasi ulang dari film Thailand karya Banjong Pisanthanakun ini juga mengusung pesan sosial yang relevan dengan realitas saat ini, utamanya isu kekerasan seksual di lingkungan akademik.

Niken sendiri mengaku pernah menjadi korban pelecehan seksual dan bullying semasa anak-anak. Pengalaman pahit itu coba ia hilangkan dari ingatan, dan ia tidak ingin ada korban-korban lain seperti dirinya.

“Kita juga bertambah umur dan kita pengen move on. Kita kepengin bergerak, enggak mungkin di lubang itu-itu aja,” kata Niken seusai gala premiere film Shutter di Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 24 Oktober

Keinginan untuk menyuarakan ruang aman bagi semua orang, kata Niken, menjadi alasan kuat atas keterlibatannya dalam film ini. Baginya, tidak perlu waktu panjang untuk menerima tawaran main di film Shutter.

“Bisa dibilang salah satu alasan kenapa saya berani dan mau mengambil film Shutter dengan karakter Lilis, karena saya merasa sebagai seniman dan pekerja seni, saya bisa berkontribusi, bisa menyuarakan, bisa mengekspresikan perasaan traumatis, sedih, marah dan kecewa dari korban bullying,” katanya.

“Mudah-mudahan pesannya bisa sampai ke penonton: yaitu kalau perbuatan baik pasti akan mendapatkan karma yang baik dan perbuatan buruk juga akan mendapatkan karma yang buruk, sehingga orang-orang bisa lebih peduli dan bisa menciptakan ruang yang aman dan nyaman. Pokoknya #SafespaceForAll," tambah sang aktris.

Adapun, narasi utama Shutter berpusat pada tokoh Darwin (diperankan Vino G. Bastian), seorang juru foto muda. Kehidupannya mendadak terbalik usai ia dan kekasihnya, Pia (Anya Geraldine), terlibat dalam kecelakaan tragis. Mereka menabrak seorang wanita asing di jalanan sepi pada malam hari, yang mana menjadi awal mimpi buruk tanpa akhir.

Setelah kejadian itu, Darwin dihantui oleh bayangan aneh yang selalu muncul dalam setiap jepretan kameranya. Sosok perempuan yang sama, yang terus menatap dari balik kegelapan, lantas ditelusuri oleh Pia.

Pia menemukan fakta bahwa entitas tersebut bukan sekadar arwah penasaran, melainkan korban dari kejahatan yang terjadi di masa lampau, yang melibatkan praktik penyalahgunaan kekuasaan di lingkungan kampus.

Investigasi tersebut kemudian membongkar rahasia gelap yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Darwin. Rahasianya mencakup kisah pelecehan seksual di lingkungan akademik, isu ketidaksetaraan gender, dan minimnya sistem pelaporan yang memadai, yang memaksa banyak korban memilih bungkam.

Lebih jauh, Shutter membawa misi penting untuk mendesak terciptanya ruang aman bagi semua orang. Melalui inisiatif kampanye #SafespaceForAll, film ini berusaha mengingatkan masyarakat bahwa pelecehan seksual adalah masalah sistemik, bukan sekadar urusan pribadi, yang harus dihadapi secara kolektif.

Produser Falcon Pictures, Frederica, menegaskan bahwa film ini dirancang untuk memberikan pengalaman berlapis bagi penonton. "Di permukaannya ini adalah film horor mencekam. Tapi di balik itu, Shutter menyimpan pesan tentang keadilan dan keberanian untuk bersuara. Kami ingin penonton bukan hanya takut, tapi juga tersentuh dan berpikir," ujar Frederica.

Sebagai informasi, suasana mencekam Shutter juga diperkuat lewat lagu tema berjudul “Di Batas Malam”, yang dibawakan oleh Danilla Riyadi. Lagu ini menjadi benang emosional yang mengikat kisah sekaligus menghadirkan dimensi keindahan di tengah kengerian.

Film ini juga turut dibintangi oleh Rangga Nattra, Dewi Gita, Michelle Tahalea, Angie Ang, dan Nugie. Sementara, suasana mencekam Shutter juga diperkuat lewat lagu tema berjudul “Di Batas Malam”, yang dibawakan oleh Danilla Riyadi. Lagu ini menjadi benang emosional yang mengikat kisah sekaligus menghadirkan dimensi keindahan di tengah kengerian.