JAKARTA - Sepanjang tahun 2025, dunia hiburan Tanah Air diramaikan dengan kabar kurang menyenangkan yaitu perceraian. Beberapa pasangan artis yang selama ini dikenal harmonis dan jauh dari gosip, justru mengejutkan publik karena memutuskan untuk berpisah.
Salah satu kabar paling menghebohkan datang dari Raisa dan Hamish Daud. Setelah delapan tahun menikah, pelantun "Serba Salah" itu resmi mengajukan gugatan cerai terhadap sang suami.
Publik pun dibuat terkejut, karena selama ini keduanya dikenal sebagai pasangan selebriti yang romantis dan nyaris tanpa isu miring.
Di media sosial, potret kebersamaan mereka tampak sempurna, penuh cinta dan tawa. Namun seperti banyak hubungan lain, kenyataan di balik layar bisa sangat berbeda.
Menurut Psikolog asal Amerika Serikat, Mark Travers, banyak pernikahan yang runtuh bukan karena pengkhianatan atau kekerasan, tetapi justru karena masalah-masalah kecil yang dibiarkan menumpuk.
“Masalah sepele seperti kurang komunikasi, kehilangan empati, atau tidak lagi mendengarkan pasangan bisa jadi awal retaknya hubungan,” ujarnya, dikutip dari laman Psychology Today.
Ia menambahkan cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan rumah tangga. Hubungan yang langgeng memerlukan usaha sadar, komunikasi terbuka, dan komitmen jangka panjang untuk terus bertumbuh bersama.
Berikut 4 masalah sederhana yang sering diabaikan, namun bisa perlahan menghancurkan pernikahan serta bagaimana pasangan mengatasinya.
1. Tak Memahami Hubungan Tidak Selalu Seimbang
Banyak orang berpikir hubungan ideal berarti segala hal harus seimbang 50:50. Padahal keseimbangan sejati dalam hubungan bersifat dinamis. Ada kalanya satu pihak sedang lemah dan pasangannya harus lebih kuat. Namun jika situasi ini berlangsung terlalu lama tanpa komunikasi, bisa muncul rasa lelah dan tidak dihargai.
Psikolog menyarankan agar pasangan rutin melakukan refleksi dengan berbicara tentang perasaan masing-masing dan menyesuaikan ekspektasi.
Hubungan yang tahan lama bukan bebas konflik, tetapi mampu beradaptasi dan berkompromi ketika menghadapi perbedaan.
“Kompromi bukan berarti selalu mengalah, tetapi mencari titik tengah agar dua-duanya tetap merasa didengar,” jelas Travers.
2. Kurangnya Kepercayaan dan Kejujuran Emosional
Kepercayaan adalah pondasi utama dalam pernikahan. Tanpa itu, hubungan mudah diguncang oleh kecemasan, rasa curiga, atau sikap menghindar.
Pasangan dengan komunikasi terbuka dan kejujuran emosional cenderung memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang lebih tinggi.
Dalam hubungan jangka panjang, kepercayaan dibangun bukan hanya lewat kesetiaan, tetapi juga kejujuran terhadap diri sendiri dan pasangan. Selain itu, berani menyampaikan apa yang dirasakan tanpa takut dihakimi.
“Kalau pasangan mulai menyembunyikan perasaan demi menghindari pertengkaran, itu awal dari jarak emosional,” ujar Travers.
“Sedikit demi sedikit, hubungan kehilangan kedekatan dan maknanya," tambahnya.
3. Kehilangan Identitas Diri
Ungkapan “kamu melengkapiku” mungkin terdengar romantis, tapi bisa menjadi jebakan. Hubungan yang sehat justru tumbuh dari dua individu yang sudah lengkap secara pribadi.
Ketika seseorang kehilangan jati diri, berhenti mengejar minat, hobi, atau pertemanan demi pasangan, lambat laun muncul rasa hampa dan kehilangan arah. Pasangan yang mempertahankan rasa identitas pribadi memiliki hubungan yang lebih stabil dan bahagia.
“Pasangan yang bahagia biasanya punya ruang untuk dirinya sendiri. Mereka saling mendukung pertumbuhan, bukan membatasi,” ungkap Travers.
Dengan begitu, cinta menjadi tempat berkembang, bukan tempat kehilangan diri.
BACA JUGA:
4. Kurang Mindfulness dalam Menghadapi Konflik
Setiap hubungan pasti punya konflik, tapi cara menghadapinya yang menentukan arah hubungan. Pasangan yang sering berdebat untuk menang justru memperbesar jurang emosional.
Sebaliknya, pasangan yang mengelola emosi dengan kesadaran penuh (mindfulness) bisa menyelesaikan konflik tanpa merusak kedekatan.
Pasangan yang berlatih mindfulness hadir penuh dalam percakapan dan menahan reaksi negatif agar memiliki hubungan yang lebih intim serta langgeng.
“Mindfulness membantu kita berhenti bereaksi dan mulai merespons dengan empati,” jelas Travers.
"Saat konflik terjadi, dengarkan dulu, baru menjawab.” tambahnya.