Bagikan:

JAKARTA - Pendidikan tak hanya berbicara soal akademik, tetapi juga tentang bagaimana membentuk karakter dan jiwa kepemimpinan sejak dini.

Di sekolah, nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kepedulian, serta kemampuan berpikir kritis menjadi fondasi penting agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berintegritas.

Apalagi di dunia yang kini penuh dengan distraksi digital, membentuk karakter anak agar memiliki empati dan jiwa kepemimpinan menjadi tantangan sekaligus kebutuhan mendesak. Sekolah berperan penting menanamkan nilai-nilai moral dan kepemimpinan yang akan menjadi bekal anak menghadapi kehidupan global.

Nilai-nilai leadership atau kepemimpinan perlu ditanamkan kepada anak sejak dini agar mereka kelak bisa mandiri dan memiliki wawasan global.

"Untuk memiliki jiwa leadership, anak-anak sekarang perlu digembleng dengan mental yang baik di tengah gempuran media sosial yang masif,” ungkap Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Bustanil Arifin, Rezy Arifin, dalam Peringatan 100 Tahun Bustanil Arifin di kompleks Sekolah Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Rezy mengatakan, pesan moral tentang leadership selalu ditekankan oleh kakeknya, Menteri Koperasi periode 1983–1993 Bustanil Arifin. Menurutnya, almarhum Bustanil Arifin selalu menekankan pentingnya moralitas, tenggang rasa terhadap siapa pun tanpa memandang latar belakang agama atau kepercayaan, serta semangat untuk tidak mencari musuh.

"Nasionalisme dan global mindset juga menjadi nilai penting yang diwariskan agar generasi muda Indonesia mampu bersaing dengan bangsa lain," jelasnya.

Menurut Rezy, Bustanil Arifin bukan hanya pendiri sekolah Al-Izhar, tetapi juga seorang penanam nilai pada generasi muda dalam membentuk karakter yang berkualitas.

"Melalui peringatan satu abad ini, kami ingin mengingatkan kembali pendidikan sejati lahir dari kasih, integritas, dan komitmen untuk membangun manusia Indonesia yang utuh. Warisan beliau bukan hanya gedung dan lembaga, melainkan cara berpikir bahwa belajar adalah ibadah dan mencerdaskan bangsa adalah panggilan," ujarnya.

Mengenang nilai dan warisan Bustanil Arifin
Mengenang nilai dan warisan Bustanil Arifin menanamkan jiwa kepemimpinan pada generasi muda. (dok. Ist)

Membentuk karakter anak sejak dini di lingkungan sekolah

Di kesempatan yang sama, Prihanti Handayani, Kepala Departemen Operasional Pendidikan KB–SD Al-Izhar, mengatakan, pendidikan karakter adalah proses yang hidup, tidak sekadar teori dalam pelajaran, tetapi dibangun melalui kebiasaan sehari-hari anak di sekolah. Sehingga selain akademis, anak-anak juga diharapkan memiliki perilaku yang baik.

Prihanti menjelaskan, nilai-nilai seperti kedisiplinan, kepedulian, kerapian, dan kegemaran membaca menjadi pilar penting yang terus diperkuat.

"Keempat hal itu akan membentuk dasar kepemimpinan yang kokoh karena anak yang berkarakter baik akan mampu bertahan dan membawa manfaat di masa depan.

Penanaman jiwa kepemimpinan dilakukan bertahap sesuai usia anak. Di kelompok bermain misalnya, anak mulai belajar berinteraksi di luar rumah dan mengenal lingkungan baru. Saat di taman kanak-kanak, mereka dibiasakan dengan rutinitas dan tanggung jawab kecil. Di sekolah dasar, anak mulai belajar mengatur waktu dan kegiatan secara mandiri.

Sedangkan saat beranjak remaja, karakter mereka diarahkan agar mampu memimpin diri sendiri dan teman-temannya.

"Kami ingin saat mereka lulus, mereka sudah siap berinteraksi dan memimpin lingkungan di luar sekolah,” jelas Prihanti.

Namun, tantangan pendidikan karakter kini semakin besar di tengah derasnya arus informasi digital. Anak-anak tumbuh di era media sosial yang serba cepat dan terbuka, kadang tanpa filter. Anak-anak sekarang sangat terbuka terhadap informasi, kadang tanpa penyaring.

"Dalam menjaga fokus belajar, pihak sekolah menerapkan kebijakan tanpa penggunaan gawai selama jam pelajaran. Anak-anak diajak untuk berinteraksi langsung, berpikir kritis, dan belajar dengan pendekatan mendalam agar memahami makna dari setiap materi yang dipelajari," tambahnya.

Sekolah juga memberi ruang kebebasan bagi siswa, terutama di jenjang remaja, agar mereka belajar bertanggung jawab atas pilihannya. Melalui diskusi dan pembelajaran berbasis proyek, mereka dilatih menilai informasi dari berbagai sudut pandang.

"Mereka belajar bahwa tidak semua informasi itu benar. Dari situ muncul nilai tanggung jawab,” ujar Prihanti.

Keberhasilan pendidikan karakter sejatinya juga tak lepas dari sinergi dengan orang tua. Sekolah, kata Prihanti, tidak bisa berjalan sendiri. Misalnya saja setiap tahun, sekolah melibatkan orang tua dalam berbagai kegiatan, mulai dari menjadi narasumber sesuai profesinya hingga mendongeng untuk anak-anak. Sekolah juga kerap membantu orang tua mengenali bakat anak yang mungkin tidak tampak di rumah.

"Kadang di sekolah kami melihat potensi yang belum disadari orang tua. Kami bantu arahkan agar bisa dikembangkan bersama,” katanya.

Kepemimpinan sejati dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri. Karena itu, nilai-nilai disiplin, empati, dan tanggung jawab yang ditanamkan sejak dini diharapkan bisa menjadi bekal seumur hidup.

"Sekolah hanya delapan jam. Sisanya adalah pendidikan dari keluarga dan masyarakat. Karena itu, sinergi sangat penting agar nilai-nilai yang kami tanamkan bisa terus tumbuh di rumah,” tutupnya.