JAKARTA - Sebuah penelitian terbaru akhirnya memberikan penjelasan ilmiah mengenai mengapa wanita biasanya hidup lebih lama dibanding pria.
Penelitian ini dipublikasikan pada 1 Oktober di jurnal Science Advances dan melibatkan pengamatan terhadap 528 spesies mamalia di seluruh dunia.
Hasilnya cukup konsisten yaitu betina hidup rata-rata 13% lebih lama daripada jantan pada 72% spesies yang diteliti.
Para peneliti dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology menemukan faktor biologis memainkan peran penting dalam umur panjang betina.
Namun perilaku sosial dan peran pengasuhan juga memberi pengaruh besar. Temuan ini bisa membantu menjelaskan perbedaan harapan hidup antara pria dan wanita pada manusia.
"Kami menemukan bahwa keunggulan betina dalam hal umur panjang merupakan bagian dari proses evolusi mamalia," ujar Fernando Colchero, penulis utama studi ini, dikutip dari laman People.
"Fenomena ini sudah berlangsung selama jutaan tahun," lanjutnya.
Secara biologis, wanita memiliki dua kromosom X, sementara pria hanya memiliki satu kromosom X dan satu Y. Perbedaan ini memberi keuntungan genetik bagi wanita.
"Struktur genetik ini berfungsi seperti backup sistem. Jika satu kromosom X mengalami mutasi atau kerusakan, tubuh masih memiliki satu salinan cadangan untuk melindungi kesehatan sel," jelas Colchero.
Sementara itu, pria yang hanya memiliki satu kromosom X tidak memiliki pertahanan yang sama, sehingga lebih rentan terhadap mutasi genetik dan penyakit tertentu.
Selain faktor genetika, peran wanita sebagai pengasuh alami juga diyakini memengaruhi umur panjang mereka.
Dalam banyak spesies mamalia termasuk manusia, betina sering berperan sebagai pelindung dan pengasuh anak.
BACA JUGA:
"Kebutuhan untuk hidup cukup lama demi membesarkan keturunan membuat betina secara evolusioner memiliki kecenderungan umur yang lebih panjang," tulis para peneliti dalam laporannya.
Dengan kata lain, alam memilih betina lebih tahan hidup, karena kelangsungan hidup anak bergantung pada kesehatan sang ibu.
Meskipun pola ini kuat di dunia mamalia, para peneliti menemukan bahwa di kelompok lain seperti burung, amfibi, dan serangga, justru jantan cenderung hidup lebih lama.
Perbedaan ini menunjukkan umur panjang tidak hanya dipengaruhi oleh genetika, tapi juga oleh perilaku dan tekanan evolusi yang berbeda pada setiap spesies.
Misalnya, rusa jantan tumbuh dengan tanduk besar untuk melawan sesama jantan demi memperebutkan pasangan.
"Ini adalah bentuk tekanan evolusi tapi juga perilaku berisiko yang bisa memperpendek umur mereka," tutur Colchero.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan kenyataan bahwa pria cenderung lebih sering melakukan perilaku berisiko dibanding wanita.
"Pria lebih mungkin mengalami kecanduan alkohol, merokok, atau menggunakan narkoba," tulis studi tersebut.
"Semua perilaku ini meningkatkan risiko penyakit mematikan seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung," lanjutnya.
Selain itu, pria juga lebih jarang menggunakan tabir surya yang menyebabkan mereka lebih rentan terhadap kanker kulit (melanoma).
Untuk mengurangi kesenjangan harapan hidup antara pria dan wanita, Colchero menyarankan agar pria meniru beberapa kebiasaan sehat yang dimiliki wanita.
"Pria bisa mengambil manfaat dengan meniru perilaku perempuan seperti lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan, menghindari risiko, dan berbagi tanggung jawab domestik secara seimbang," ujarnya.
Gaya hidup yang lebih sadar kesehatan, komunikasi sosial yang kuat, dan keseimbangan dalam kehidupan rumah tangga bisa membantu pria hidup lebih lama.