YOGYAKARTA – Membacakan dongeng sebelum tidur untuk anak-anak terbukti memiliki manfaat yang baik. Manfaat membacakan cerita dongeng pada anak adalah meningkatkan imajinasi, meningkatkan rasa empati, hingga mengajarkan nilai moral secara efektif. Sayangnya kadang orang tua kehabisan dongeng yang dibacakan. Agar kebiasaan tersebut bisa terus berlanjut, orang tua bisa membacakan dongen sebelum tidur pendek yang telah kami rangkum.
Dongeng Sebelum Tidur yang Pendek
Ada beberapa dongen pendek sebelum tidur khusus anak. Berikut ini beberapa cerita yang bisa dibacakan, dilansir dari website resmi Bed Time Short Stories.
- Kisah 3 kambing Kecil
Pada suatu waktu, hiduplah tiga kambing kecil. Saat mereka sudah cukup besar, mereka memutuskan untuk mencari keberuntungan dan membangun rumah masing-masing. kambing pertama membuat rumah dari jerami, karena mudah dan cepat.
kambing kedua, kakaknya, membuat rumah dari ranting kayu. Ia juga cepat selesai dan tidak perlu bekerja keras. Namun, kambing ketiga, yang paling tua dan paling bijak, memilih untuk membangun rumah dari batu bata. Ia tidak keberatan bekerja keras, karena ingin rumahnya kuat dan aman. Ia tahu di hutan dekat situ ada serigala jahat yang suka menangkap dan memakan kambing kecil.
Setelah ketiga rumah selesai, mereka menyanyi dan menari dengan gembira sepanjang hari. Tapi ketika kambing pertama baru saja sampai di pintu rumahnya, serigala besar dan jahat muncul dari hutan!
kambing kecil itu takut sekali dan langsung bersembunyi di dalam rumah jeraminya. Namun serigala itu menghembus dan meniup sekuat-kuatnya, hingga rumah jerami itu roboh dalam sekejap! Melihat rumahnya hancur, kambing kecil pertama berlari cepat ke rumah kakaknya yang terbuat dari ranting kayu.
Serigala jahat itu mengikuti mereka sampai ke rumah kedua. Ia kembali meniup dan menghembus dengan sangat kuat, dan dalam waktu singkat, rumah ranting itu pun roboh! Kedua kambing kecil itu kini sangat ketakutan, lalu mereka lari secepat mungkin ke rumah kakak tertua mereka, yang dibuat dari batu bata yang kuat.
Serigala besar yang jahat mencoba meniup dan menghembus sekuat-kuatnya untuk merobohkan rumah ketiga. Tapi rumah batu bata itu sangat kuat, sehingga tidak bergeming sedikit pun. Serigala itu terus mencoba selama berjam-jam, namun tetap tidak berhasil. Ketiga kambing kecil itu aman dan tenang di dalam rumah.
Akhirnya, serigala punya rencana licik ia memanjat atap dan mencoba masuk lewat cerobong asap. Tapi kambing tertua yang cerdik sudah menyiapkan panci besar berisi air mendidih di bawah cerobong. Saat serigala itu jatuh ke dalamnya, ia terbakar air panas dan mati.
Dua kambing yang lebih muda merasa menyesal karena dulu malas dan membangun rumah yang lemah. Mereka pun akhirnya membangun rumah dari batu bata, sama seperti kakak mereka. Sejak saat itu, ketiga kambing kecil hidup bahagia selamanya di rumah mereka yang kuat dan aman.
BACA JUGA:
- Peri Permen yang Baik Hati
Di sebuah kerajaan yang jauh, hiduplah seorang peri permen yang sangat baik hati dan penyayang terhadap anak-anak. Di rumahnya selalu ada berbagai macam permen berwarna-warni. Ia biasa memberikan permen kepada anak-anak yang berperilaku baik.
Setiap hari, peri permen berkeliling ke seluruh dunia, mengunjungi desa demi desa untuk melihat apakah anak-anak di sana baik atau tidak.
Jika anak itu baik hati, ia akan memberinya permen. Tapi kalau anak itu nakal, peri permen akan memberinya pelajaran agar berubah menjadi lebih baik.
Suatu hari, peri permen pergi ke sebuah desa bernama Rose. Di sana, ia menyamar menjadi seorang nenek tua. Ia memakai pakaian yang robek-robek dan duduk di bawah pohon di pintu masuk desa.
Tak lama kemudian, dua anak bernama Joan dan Mai sedang berjalan menuju toko untuk membeli roti bagi ibu mereka. Ketika melewati jalan, mereka melihat nenek tua itu pingsan di pinggir jalan.
Joan ingin menolong, tapi Mai menahannya dan berkata,
“Jangan dekati dia, kak! Nenek itu kelihatan kotor sekali! Nanti kita bisa tertular penyakit.”
NamunJoantidak peduli. Ia berlari ke arah nenek itu dan berkata dengan lembut,
“Nenek, apakah Nenek baik-baik saja?”
Nenek tua itu menjawab, “Aku lapar sekali, Nak. Aku sudah tiga hari tidak makan apa pun.”
Mendengar itu, Joanmemberikan roti yang hendak dibeli untuk ibunya.
Mai langsung berkata, “Ibu pasti marah padamu, Kak!”
Nenek tua itu berterima kasih kepada Joan. Setelah selesai makan, ia berjalan pergi dengan tongkatnya.
Ketika mereka pulang ke rumah, Mai menceritakan semuanya kepada ibu. Tapi ibu tidak memarahi mereka. Ia malah tersenyum dan berkata,
“Tidak apa-apa kalau kita tidak punya roti. Kita masih bisa minum susu. Kakakmu, Joan, telah menolong orang yang membutuhkan, dan itu perbuatan yang sangat baik. Ia pantas diberi hadiah. Mai, kamu harus belajar dari kakakmu, ya?”
Mai menjawab, “Oh, jadi itu perbuatan baik ya, Bu? Aku akan mengingatnya!”
Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu. Ibu dan kedua anaknya membuka pintu dan menemukan sebuah keranjang penuh permen serta sepucuk surat di depan rumah.
Ibu membaca surat itu dengan suara lantang: “Aku adalah Peri Permen. Aku memberimu keranjang permen ini sebagai tanda terima kasih karena telah menolongku di pintu desa. Setelah makan permen, jangan lupa sikat gigi agar gigi tidak berlubang.”
Joan sangat senang, dan tentu saja ia tidak lupa berbagi permen itu dengan adiknya, Mai.
Sejak hari itu, Joandan Mai berjanji untuk selalu berbuat baik dan saling berbagi—seperti yang diajarkan oleh Peri Permen yang baik hati.
Itulah dua dongeng sebelum tidur. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.