Bagikan:

YOGYAKARTA - Urutan bulan Jawa merupakan bagian penting dari penanggalan tradisional yang masih digunakan hingga kini. Menariknya, metode ini tidak hanya dipakai untuk menentukan hari baik atau perhitungan adat, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan dan budaya Jawa.

Setiap bulan Jawa memiliki nama unik dengan makna tersendiri, yang erat kaitannya dengan peristiwa alam, nilai spiritual, hingga kebiasaan masyarakat. Inilah yang membuat penanggalan Jawa berbeda dan unik.

Meski zaman sudah modern, pengetahuan tentang bulan Jawa tetap relevan, terutama bagi mereka yang ingin memahami akar budaya dan tradisi leluhur.

Mengenal Penanggalan Jawa

Dilansir dari laman Calendarworld, Kalender Jawa adalah sistem penanggalan yang masih digunakan oleh masyarakat Jawa di Indonesia, bersamaan dengan dua kalender penting lainnya yaitu kalender Masehi (Gregorian) dan kalender Hijriah (Islam).

Kalender Masehi dipakai secara resmi oleh negara dan masyarakat umum, sedangkan kalender Hijriah digunakan untuk ibadah umat Islam serta penetapan hari besar keagamaan.

Kalender Jawa sendiri digunakan oleh sebagian besar masyarakat Jawa, termasuk suku Jawa, Madura, dan Sunda. Fungsinya lebih sebagai identitas budaya, simbol tradisi, sekaligus warisan leluhur yang dijaga agar tetap hidup. Umumnya kalender ini dipakai untuk keperluan budaya, spiritual, dan metafisika.

Baca juga artikel yang membahas Makna Peribahasa Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu yang Sering Disalahartikan

Sejarah Kalender Jawa

Kalender Jawa yang berlaku saat ini ditetapkan oleh Sultan Agung Mataram pada tahun 1633 Masehi. Sebelumnya, masyarakat Jawa memakai kalender Saka (Hindu) yang dimulai sejak tahun 78 Masehi dan berbasis perhitungan matahari.

Menariknya, Sultan Agung tetap mempertahankan titik awal kalender Saka, tetapi mengubah sistem hitungannya mengikuti kalender Islam yang berbasis bulan (lunar). Kalender ini kadang juga disebut dengan nama Latin Anno Javanico (AJ) atau Tahun Jawa.

Urutan Bulan Jawa

Setiap tahun Jawa (tahun lunar) sendiri dibagi menjadi 12 wulan atau bulan, dengan jumlah hari 29 atau 30, mirip dengan kalender Islam. Nama-nama bulan tersebut ada dalam bentuk krama/ngoko, yaitu:

  • Warana / Sura (30 hari)
  • Wadana / Sapar (29 hari)
  • Wijanga / Mulud (30 hari)
  • Wiyana / Bakda Mulud (29 hari)
  • Widada / Jumadil Awal (30 hari)
  • Widarpa / Jumadil Akhir (29 hari)
  • Wilarpa / Rejeb (30 hari)
  • Wahana / Ruwah (29 hari)
  • Wanana / Pasa (Puasa/Ramadhan) (30 hari)
  • Wurana / Sawal (29 hari)
  • Wujana / Sela (Dzulqa’dah) (30 hari)
  • Wujala / Besar (Dzulhijjah) (29 atau 30 hari, tergantung panjang tahun tersebut)

Siklus 12 bulan Jawa sering dimaknai sebagai simbol perjalanan hidup manusia. Bulan pertama hingga kesembilan diibaratkan sebagai masa dalam kandungan. Kemudian, bulan ke-10 yaitu Sawal melambangkan awal kehidupan manusia di dunia, sedangkan bulan ke-11, Sela, menggambarkan akhir kehidupan.

Adapun bulan ke-12, Besar, melambangkan kembalinya manusia ke asalnya. Dengan demikian, siklus bulan Jawa dipandang sebagai perjalanan utuh dari percikan awal (rijal), melalui kekosongan (suwung), hingga akhirnya kembali ke titik awal kehidupan.

Siklus Pasaran Jawa

Pasaran berasal dari kata "pasar". Siklus ini berlangsung lima hari, sesuai dengan tradisi masyarakat desa yang dulunya hanya bertransaksi di pasar pada hari-hari tertentu.

Di masa lalu, pedagang keliling akan mendatangi desa berbeda setiap harinya sesuai siklus Pasaran. Ada yang berpendapat, siklus lima hari ini diambil dari jumlah jari tangan. Berikut ini hari-hari dalam siklus pasaran:

  • Legi (Manis)
  • Pahing (Pait)
  • Pon (Petak)
  • Wagé (Cemeng)
  • Kliwon (Asih)

Nama-nama tersebut punya makna mistis dan sering dihubungkan dengan warna serta arah mata angin di antaranya:

  • Legi → Putih (Timur)
  • Pahing → Merah (Selatan)
  • Pon → Kuning (Barat)
  • Wagé → Hitam (Utara)
  • Kliwon → Perpaduan warna / Pusat

Meskipun pada masa kini pasar modern tidak lagi mengikuti siklus Pasaran, tetapi nama-nama itu masih hidup dalam budaya Jawa, misalnya Pasar Legi, Pasar Pon, dan Pasar Kliwon di Surakarta.

Dalam kepercayaan Jawa, weton (hari lahir) ditentukan dari pertemuan antara siklus Pasaran dan siklus minggu tujuh hari, yang dipercaya berpengaruh pada karakter dan nasib seseorang.

Selain pembahasan mengenai urutan bulan jawa, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di  VOI, untuk mendapatkan kabar terupdate jangan lupa follow dan pantau terus semua akun sosial media kami! 

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+