Bagikan:

JAKARTA - Intermitten fasting adalah pengaturan pola makan dengan cara berpuasa, yaitu menggunakan jeda waktu untuk bisa mengonsumsi makanan. Umumnya dilakukan dalam waktu 16 jam berpuasa, dan 8 jam untuk mengonsumsi makanan.

Namun, ada orang yang melakukan intermitten fasting secara ekstrim, dengan menekan waktu makan lebih singkat dibanding waktu puasanya. Ini sering dilakukan untuk mengurangi berat badan dengan lebih cepat.

Intermitten fasting yang berlebihan tersebut sangat tidak disarankan oleh dokter. Dokter spesialis penyakit dalam di Eka Hospital Permata Hijau, Pandu Tridana Sakti, mengatakan bahwa intermitten fasting yang dilakukan secara berlebihan bisa menyebabkan tubuh lemas, karena tidak memiliki asupan makanan untuk dibentuk menjadi energi.

“Intermitten fasting jangan berlebihan. Ketika nggak makan sama sekali dan tidak punya cadangan energi yang cukup untuk dikeluarkan saat berpuasa tersebut, maka bisa bikin ngedrop (tubuh),” kata Dokter Pandu, saat temu media di Semanggi, Jakarta, ditulis pada Selasa, 26 Agustus 2025.

Ketika puasa makan di intermitten fasting dilakukan terlalu lama, rasa lapar yang timbul juga akan sangat tinggi. Ini bisa membuat konsumsi makanan jadi lebiu banyak, sehingga berisiko menyebabkan resistensi insulin, yang bisa berujung diabetes tipe 2.

“Ketika di jam makan, dia makan yang over, maka langsung naik gulanya. Itu yang bisa menyebabkan resistensi insulin,” tuturnya.

Jika jam makan tidak teratur, maka insulin dalam tubuh juga akan berantakan. Kondisi dapat menyebabkan hiperglikemia (gula darah tinggi) yang berisiko merusak organ dapam tubuh.

“Jadi insulin tubuh kita tidak beraturan. Itu makanya kita makan harus teratur, sudah ada settingan dari tubuh. Tiap orang berbeda-beda,” jelasnya.

Oleh karena itu, disarankan untuk memiliki jam makan teratur, dan jika menjalankan intermitten fasting tidak dengan jam puasa yang terlalu lama. Ini dilakukan agar kadar insulin dalam tubuh tetap baik, maka dapat mencegah diabetes.

“Misal sudah biasa sarapan, terus diet dan nggak sarapan, itu akan bikin lemas pagi hari itu, karena insulin keluar tapi tidak ada makanan yang masuk. Jadi gula yang ada di tubuh menurun. Jam makan sangat berpengaruh,” pungkas Dokter Pandu.