Bagikan:

JAKARTA - Cuaca yang semakin tak menentu, panas yang tiba-tiba berubah menjadi hujan deras disertai angin kencang, kini sering disebut sebagai dampak dari perubahan iklim. Namun, dampak itu sendiri sulit dirasakan secara langsung.

"Udara bertambah panas, tiba-tiba hujan deras, badai, angin, itu sekarang orang bilang dampak dari perubahan iklim. Dampak perubahan iklim sendiri seperti apa tak bisa ditangkap, tak bisa dilihat, tak kasat mata," ujar Dra. Jo Kumala Dewi, M.Sc., Kepala Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup (PPGLH), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Rabu,6 Agustus 2025.

Jo Kumala menegaskan perubahan iklim bukan karena 'alam marah', melainkan hasil dari perilaku manusia sendiri.

"Bukan alam marah jadi badai. Berdasarkan penelitian ya ini dari ulah manusia itu sendiri. Perilaku yang kurang ramah lingkungan,” tegasnya.

Mengubah kebiasaan manusia bukan hal yang mudah, apalagi jika sudah terbiasa membuang sampah sembarangan atau tidak memilah sampah sejak lama.

“Bagaimana mengubah perilaku manusia? Tentu susah, apalagi lansia tidak terbiasa menaruh sampah anorganik dan organik. Itu mesti berpikir dulu agar terbiasa,” katanya.

Sebagai upaya membentuk kebiasaan baru yang ramah lingkungan sejak dini, pemerintah terus menggalakkan program Adiwiyata, yaitu program pendidikan berbasis lingkungan yang diterapkan di sekolah-sekolah.

"Program Adiwiyata ini mendorong sekolah dari SD, SMP, SMA/SMK agar kurikulumnya berbasis lingkungan, sarana dan prasarananya juga ramah lingkungan. Ada bentuknya, seperti tanaman hidroponik. Itu fisik lebih mudah dilihat. Tapi tanpa sadar, siswa bisa saja buang sampah sembarangan,” jelas Jo Kumala.

Lebih dari 300 ribu sekolah di Indonesia, namun baru sekitar 10 persen yang mengikuti program Adiwiyata secara aktif.

"Masa depan generasi kita hadapi lingkungan yang terus berubah, jadi harus dimulai sedini mungkin,” imbuhnya.

Untuk itu, hari ini KLHK melalui PPGLH, bekerja sama dengan Bakti Barito dan LabSosio Universitas Indonesia, meluncurkan dua alat ukur baru, yaitu Instrumen Perilaku Peduli Lingkungan Hidup Sekolah (IPPLHS), dan Instrumen Program Peduli dan Budaya Lingkungan Hidup Sekolah (IPPBLHS).

Kedua instrumen ini dirancang untuk membantu sekolah mengevaluasi sejauh mana perilaku peduli lingkungan telah diterapkan oleh siswa maupun seluruh warga sekolah. Jo Kumala menjelaskan bahwa indikatornya disesuaikan dengan jenjang pendidikan.

"Untuk siswa SD, indikatornya fokus pada pemahaman dasar dan perilaku sederhana yang diamati di sekolah. Untuk SMP, indikatornya lebih kompleks dengan pemahaman dan partisipasi aktif. Sedangkan untuk SMA, lebih kompleks lagi, menekankan pemikiran kritis dan kemampuan untuk bertindak nyata,” jelasnya.

"Melalui alat ukur ini, kita bisa melihat apakah pendidikan lingkungan yang kita berikan sudah efektif, dan bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan ke depan,” tambahnya.

Dian A. Purbasari, Direktur Bakti Barito, menekankan pentingnya alat ukur yang objektif.

"Kita perlu alat ukur yang obyektif dan bisa menunjukkan hasil nyata agar seluruh pemangku kepentingan di ekosistem dapat melihat dan merasakan evaluasi secara obyektif, sehingga dapat meningkatkan kinerjanya secara terarah,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan uji coba awal atau pilot survey dari alat ukur ini sudah dilakukan tahun lalu di beberapa sekolah dasar di Jawa Barat.

Sementara itu, Dr. Sulastri Sardjo dari tim peneliti LabSosio UI menyatakan bahwa pendekatan berbasis data sangat penting dalam membangun kerja sama lintas sektor.

"Dengan pendekatan berbasis data, kita bisa memperkuat kerja sama antara sekolah, pemerintah, lembaga sosial, dan kampus. Tujuannya satu, mencetak generasi yang benar-benar peduli lingkungan." ujarnya.

Dengan dimulainya penggunaan dua alat ukur ini, diharapkan program Adiwiyata bisa menjadi lebih terukur, efektif, dan menjangkau lebih banyak sekolah di seluruh Indonesia. Karena masa depan bumi bergantung pada generasi muda yang sejak dini terbiasa hidup berdampingan dan menjaga lingkungan dengan bijak.