Bagikan:

JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial diramaikan dengan munculnya sosok pria gen z yang tampil dengan gaya artsy, pegang minuman di tangan, membaca buku feminis di tempat umum, dan memakai fashion yang nyentrik, dari kupluk setengah digulung, kaus band obscure, hingga boneka labubu diikat di pinggang. Sosok ini sering disebut sebagai 'performative male' atau cowok performatif.

Fenomena ini bukan hanya soal gaya berpakaian atau selera musik, melainkan tentang bagaimana pria mencoba membentuk citra tertentu di depan publik, terutama untuk terlihat menarik di mata perempuan.

Mereka tampak seperti sosok pria yang sensitif, intelektual, dan terbuka secara emosional. Tapi sebenarnya, itu semua sering kali hanya tampilan luar.

Dilansir dari laman Esquire Magazine, cowok performatif adalah pria yang tampil nyentrik dan berbeda karena ingin terlihat keren atau menarik, bukan karena benar-benar menyukai atau memahami hal tersebut.

Misalnya, seorang pria membawa-bawa buku feminis atau kutipan dari tokoh penting, tapi tidak benar-benar membacanya. Tak hanya itu, mereka juga mengaku suka band indie tertentu padahal hanya tahu satu lagu viralnya. Semua ini dilakukan untuk menciptakan kesan tertentu, yakni pria yang berbeda, peka, dan bisa diajak ngobrol lebih dalam.

“Performative male bukan berarti cowok yang emosional atau dekat dengan sisi femininnya. Itu justru sehat. Yang dimaksud di sini adalah pria yang memakai citra tersebut sebagai topeng,” jelas Ava Whitworth, seorang Gen Z yang mengamati tren ini, dikutip dari laman Stuff.

Fenomena ini mulai populer berkat platform seperti TikTok dan Instagram. Di sana, banyak konten yang menampilkan pria dengan estetika artsy dan penuh referensi intelektual. Ada juga yang membuat sketsa lucu soal performative male sightings, alias penampakan cowok performatif di tempat umum.

Menurut Esquire, banyak pria Gen Z berusia 20-an mulai membentuk citra ini karena karakter seperti ini dianggap menarik oleh perempuan masa kini.

Alih-alih tampil macho atau dominan, pria yang terlihat ‘paham emosi’ dan punya sisi lembut justru dipandang lebih dewasa dan approachable.

Cowok-cowok ini minum matcha, bawa tote bag, baca buku feminis, tapi semuanya dilakukan secara publik, demi pengakuan sosial.

Bahkan, sempat digelar kontes “cowok performatif” di Amerika, dengan pemenangnya memegang minuman, buku feminis, gitar akustik, skateboard, dan tote bag, bahkan semuanya sekaligus.

Apakah Kamu Termasuk Cowok Performatif?

Kalau Anda mulai bertanya-tanya, “Apa saya juga termasuk cowok performatif?”, ternyata ada cara mengeceknya. Ini dia beberapa pertanyaan reflektif yang bisa dicoba:

1. Apakah Anda suka pura-pura tertarik pada sesuatu (musik, buku, film) demi terlihat keren di mata perempuan?

2. Apakah Anda minum matcha atau bawa tote bag karena ingin terlihat artsy, bukan karena Anda suka?

3. Apakah Anda merasa perlu memamerkan selera atau bacaan di tempat umum atau di media sosial?

4. Apakah Anda mengubah gaya berpakaian atau minat hanya karena ingin dianggap berbeda?

Kalau jawabannya iya untuk salah satu atau lebih, mungkin Anda sedang masuk ke kategori performative male, baik secara sadar maupun tidak.