Bagikan:

JAKARTA - Hampir 10 tahun sejak Adhsity Zara berkarier di dunia hiburan. Asam garam dalam berkarier bukan hal baru yang ia jalani, namun di antara itu semua, ia merasakan besarnya support system yang ternyata ia butuhkan.

Begitu juga dalam film terbarunya, Bertaut Rindu yang disutradarai Rako Prijanto. Dalam film ini, ia beperan sebagai Jovanca, sosok karakter yang mengalami konflik dengan orang tuanya. Meski mengalami konflik, Jovanca selalu berusaha ceria untuk orang-orang di sekitarnya, termasuk Magnus yang diperankan Ari Irham.

“Karakter aku cewek yang pemberani, dia tahu cara mengejar mimpinya, tahu menempatkan dirinya di mana, dia sangat ambisius dan sangat peduli sama teman-temannya, sedikit centil,” kata Zara saat mengunjungi kantor VOI beberapa waktu lalu.

“Aku langsung jatuh cinta ketika baca skripnya. Jadi skripnya itu memang sangat dalam dari setiap scene-scenenya apa lagi dari mulai ke masalahnya. Aku merasa relate dan aku merasa ya ini proyek yang cukup personal buat aku karena tentang orang tua dan anak,” lanjutnya.

Berbicara soal impian dan mimpi, aktris kelahiran 21 Juni itu sempat mengungkap cita-cita masa kecilnya adalah menjadi koki dan penyanyi. Akan tetapi, ia tidak pernah menyangka lebih banyak bekerja di bidang akting seperti sekarang ini. Lagi pula ia merasa bahwa berakting membuatnya merasakan berbagai pengalaman, termasuk menjadi koki.

Eksklusif Adhisty Zara (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Adhisty Zara (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

“Mimpi aku memang jadi penyanyi tapi untuk bisa ada di sini sekarang, gak pernah kepikiran jalannya bisa nyampe sini. Ternyata kalau kita sungguh-sungguh jalanin mimpi kita, bisa lebih jauh lagi.” kata Zara.

“Dulu aku kebingungan untuk menentukan apa cita-cita aku, karena pengin semuanya! Jadi aku ikutin dulu, kakakku mau gini, aku juga mau. Bisa. Beruntungnya aku dikasih sama Allah jadi aktor, jadi bisa cobain hal-hal yang sebenarnya gak mungkin aku cobain sendiri,” katanya.

Bicara karakter Jovanca, sekilas tidak ada yang berbeda dari karakter yang ia pernah mainkan sebelumnya. Akan tetapi, aktris 22 tahun ini menjelaskan ada kontras antara dirinya dengan Jovanca baik secara sifat mau pun perjalanan karakternya.

“Yang menantang itu mungkin semangatnya. Jovanca itu anaknya berapi-api banget, semangat dia selalu ada di sini, semangatnya gak pernah turun sedangkan kalau aku moody-an. Ketika syuting, Jo itu bukan aku, bukan aku, bukan aku jadi untuk ngejaga si semangatnya itu yang susah karena semua adegannya konsisten dan dia ngomong dengan semangat dan ada masanya dia on fire,” jelas Zara.

Support System Terbaik

Eksklusif Adhisty Zara (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Adhisty Zara (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

Alumni grup JKT48 ini merasa adanya dukungan menjadi sumber semangat untuk ia terus berkarya. Berkarier sejak usia muda tidak jarang membuatnya terlibat dengan hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, Zara mengungkap orang tuanya berusaha hadir untuk mendukungnya terus menjalani aktivitasnya.

Support system itu sangat sangat dibutuhin sama aku dan semua orang. Support system aku saat ini keluarga aku dan semua sahabat-sahabat terdekat yang selalu ada. Aku ngerasa selalu butuh mereka kapan pun karena kita gak ada yang tahu, hari ini bisa aja sejam lagi aku bete atau gimana dan yang aku punya orang-orang terdekat yang gak akan judge aku ketika aku lagi gak baik baik aja,” jelasnya antusias.

“Alhamdulillah selalu ada mama aku, papa aku, adik-adik, kakakku, biar pun kita suka berantem tapi dia juga support system cuma caranya yang berbeda dan ada juga pacarku dan sahabatku. Menurutku, support system itu sangat ngaruh ke hidup kita, kita ngerasa aman dengan ada nya support system jadi tenang jalanin hari-harinya,” kata Zara.

Zara bahkan masih melibatkan orang tua ketika memilih proyek yang ia akan perankan. Sifat ini merupakan salah satu kesamaan Zara dengan Jovanca dalam film ‘Bertaut Rindu’.

Eksklusif Adhisty Zara (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Adhisty Zara (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

“Kalau pilih proyek itu aku sangat menjunjung tinggi ridho orang tua. Jadi yang pertama itu pasti tanya mamam dulu. Pasti dikurasi dulu sama mama papa aku. Aku selalu diskusi dengan baca skrip, mama baca aku baca, kita diskusi dan kemudian kita tentukan. Salah satu yang penting itu cerita. Aku sangat menggunakan hati aku, jadi ketika aku baca skripnya dari novel. Aku baca novelnya dulu, aku baca skripnya kalau sudah ada skripnya,” lanjut sang aktris.

“(Aku) sama kayak Jovanca? Sama banget lagi! Persis! Jovanca itu selalu bilang “Aku mama mama mama, semuanya untuk ibunya” bahkan dia sempat ada perasaan benci sama ayah karena punya pacar baru, gak adil banget buat bunda. Jadi memang ibu gak akan pernah bisa kegantikan untuk jadi support system nomor satu. Aku kalau misal lagi berantem sama mama itu sedihnya lama karena ngerasa kehilangan karena aku orangnya suka cerita jadi apa pun aku cerita,” jelasnya.

Pembeda di Drama Remaja

Eksklusif Adhisty Zara (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Adhisty Zara (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

Bukan rahasia baru jika Adhisty Zara menjadi salah satu aktris muda yang mendominasi genre drama remaja. Dengan segudang pengalaman hampir satu dekade, ia merasa perlahan ia mulai terbuka mencari dan mengeksplorasi peran-peran baru.

“Aku merasa gitu tapi pelan-pelan belakangan ini yang belum keluar filmnya sudah mulai dapat karakter-karakter yang sangat jauh beda dari aku, mungkin seiring bertambahnya usia kan aku udah 22 tahun. Merasa sudah gede, tidak apa-apa, kan? Gak salah,” kata Zara, antusias.

Meski begitu, anak kedua dari empat bersaudara ini merasa karakter dalam film drama remaja akan berbeda dengan sendiri. Zara juga memiliki cara tersendiri agar karakter satu dengan lainnya terlihat tidak sama, begitu juga ketika ia membuat film Bertaut Rindu.

“Misalnya dapat sebuah karakter, aku suka bikin biodata karakter. Ini kan tidak ada di skrip jadi aku bikin sendiri. Itu untuk pegangan aku biar beda dari karakter-karakter aku sebelumnya. Karena aku tahu aku sadar aku maininnya drama romance; gimana caranya biar tetap menarik, mungkin dari cari ngomongnya, dari cara jalannya. Mungkin detail kecil yang aku bedain,” jelasnya.

Tidak jarang, dengan banyaknya peran Zara dalam genre drama remaja membuat warganet sering menghubungkan kehidupan pribadinya bahkan tidak jarang membicarakan apa yang di luar dari konteks filmnya. Zara mengakui awalnya ia pernah berada di posisi yang mudah reaktif, namun seiring waktu, ia mulai belajar untuk memilah apa yang mau direspons.

Eksklusif Adhisty Zara (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Adhisty Zara (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

“Aku sadar betul seperti yang kalian semua suka omongin ke aku. Risiko, katanya. Risiko pekerjaan jadi aktor jadi artis untuk dikomenin, perlahan-lahan aku terima. Gitu dulu. Mungkin ya masih kecil jadi kaget, cuman aku sadar sekarang, hidup itu punya pilihan,” respons Zara.

“Saat ini pilihan aku untuk gak baca itu semua lagi, jadi hidup aku lebih tenang, lebih santai, aku tetap dengerin mereka yang kasih masukan ke aku tapi gak bawa ke hati karena capek mikirin aku harus sesuai ekspektasi mereka. Yang aku lakukan sekarang adalah kasih yang terbaik di setiap proses yang aku jalanin dan aku yakin hasilnya baik juga jadi untuk merespons menanggapi itu semua aku terima saja,” kata Zara menutup percakapan hari itu.