Bagikan:

YOGYAKARTA - Pengetahuan mengenai penggunaan huruf kapital itu penting, karena satu kesalahan kecil bisa mengurangi profesionalisme tulisan Anda.

Jangan khawatir, artikel ini akan membimbing dan membahas tuntas semua aturan huruf kapital yang benar. Dengan panduan ini, Anda pasti akan menguasainya dan terhindar dari kesalahan penulisan.

Memahami Penggunaan Huruf Kapital yang Benar

Huruf kapital adalah penanda penting dalam tata bahasa. Penggunaan yang tepat akan membuat tulisan Anda lebih jelas, profesional, dan mudah dipahami. Dilansir dari laman Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia, berikut aturan-aturannya beserta contoh-contohnya!

Awal Kalimat

Setiap kalimat baru dimulai dengan huruf kapital pada huruf pertamanya. Ini adalah aturan dasar yang memastikan struktur tulisan Anda rapi.

Contoh:

  • Bulan sabit menggantung indah malam ini.
  • Ayo, kita jelajahi hutan misterius itu bersama!

Nama Diri dan Julukan: Selalu Kapital!

Nama-nama spesifik, baik itu orang maupun julukan yang melekat padanya, selalu diawali dengan huruf kapital. Ini berlaku untuk nama lengkap maupun panggilan.

Contoh:

  • Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional)
  • Albert Einstein
  • Sang Pemimpi (sebutan untuk seseorang yang visioner)
  • Nyimas Melon (nama panggilan unik)

Nama Orang yang Menjadi "Jenis" atau "Satuan": Huruf Kecil Saja!

Jika nama orang sudah berubah fungsi menjadi nama jenis benda, hewan, atau satuan ukuran, maka huruf kapital tidak digunakan.

Contoh:

  • Pesawat terbang menggunakan 20 watt listrik saat lepas landas.
  • Kami memancing beberapa ikan mujair di danau itu.

Teori, Hukum, dan Rumus dari Nama Orang

Ketika nama orang menjadi bagian dari nama teori, hukum, atau rumus ilmiah, huruf kapital tetap digunakan. Ini adalah bentuk penghargaan atas penemuan mereka.

Contoh:

  • Kami mempelajari teori Darwin tentang evolusi.
  • Hukum Archimedes menjelaskan prinsip daya apung.

Baca juga artikel yang membahas Aturan Penulisan Nama Ilmiah untuk Mahluk Hidup, Bagaimana Pencatatannya?

Kata Penghubung Keturunan: Hati-hati dengan Kapital!

Kata-kata seperti bin, binti, boru, dan van yang bermakna 'anak dari' ditulis dengan huruf nonkapital, kecuali jika menjadi bagian awal nama atau jika 'dari' merupakan kata tugas yang memulai nama.

Contoh:

  • Ali bin Abu Bakar sedang berkunjung.
  • Fatimah binti Abdullah seorang penulis novel.
  • Maria boru Simanjuntak adalah dosen saya.
  • Vincent van Gogh adalah pelukis terkenal.

Petikan Langsung: Awal Kalimat Baru!

Pada petikan langsung, huruf kapital digunakan pada huruf pertama kalimat yang dikutip secara langsung.

Contoh:

  • Ayah bertanya, "Kapan kita akan berangkat ke sana?"
  • "Mereka sudah tiba di tujuan," bisik Sarah pelan.

Agama, Kitab Suci, dan Tuhan

Nama agama, kitab suci, dan sebutan untuk Tuhan (termasuk kata ganti dan singkatan) selalu diawali huruf kapital.

Contoh:

  • Umat Buddha merayakan Waisak.
  • Kitab Al-Qur'an adalah pedoman umat Islam.

Gelar Spesifik yang Diikuti Nama

Gelar kehormatan, kebangsawanan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang langsung diikuti nama orang, serta gelar akademik yang melekat pada nama, ditulis dengan huruf kapital.

Contoh:

  • Raja Sultan Hasanuddin
  • Kiai Haji Ahmad Dahlan

Gelar atau Jabatan sebagai Sapaan

Ketika gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, atau jabatan digunakan sebagai sapaan langsung, maka huruf kapital wajib digunakan.

Contoh:

  • Selamat pagi, Dokter!
  • Terima kasih atas bantuannya, Ibu Presiden.

Jabatan dan Pangkat dengan Nama/Pengganti

Unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, atau yang digunakan sebagai pengganti nama orang, instansi, atau tempat, ditulis dengan huruf kapital.

Contoh:

  • Presiden Joko Widodo
  • Gubernur DKI Jakarta

Bangsa, Suku, Bahasa, dan Aksara

Nama bangsa, suku, bahasa, dan aksara ditulis dengan huruf kapital pada huruf pertamanya. Ini menunjukkan identitas dan keunikan.

Contoh:

  • Seni ukir Jawa sangat indah.
  • Mempelajari bahasa Mandar.

Turunan dari Nama Bangsa, Suku, Bahasa, Aksara: Jangan Kapital!

Jika nama bangsa, suku, bahasa, atau aksara berubah menjadi bentuk dasar kata turunan (misalnya imbuhan), maka huruf kapital tidak digunakan.

Contoh:

  • Proses pengindonesiaan istilah asing berjalan lancar.
  • Gaya berpakaiannya sangat keinggris-inggrisan.

Tahun, Bulan, Hari, dan Hari Raya

Nama tahun, bulan, hari, serta hari besar atau hari raya ditulis dengan huruf kapital pada huruf pertamanya.

Contoh:

  • Peringatan Hari Pahlawan jatuh pada bulan November.
  • Perayaan Idul Fitri.

Peristiwa Sejarah Spesifik

Nama peristiwa sejarah yang spesifik dan unik ditulis dengan huruf kapital.

Contoh:

  • Pertempuran Ambarawa adalah momen penting.
  • Sumpah Pemuda memperkuat persatuan bangsa.

Peristiwa Sejarah Umum: Huruf Kecil Cukup!

Jika peristiwa sejarah tidak digunakan sebagai nama spesifik, melainkan sebagai deskripsi umum, maka huruf nonkapital digunakan.

Contoh:

  • Mereka belajar tentang proklamasi kemerdekaan di sekolah.
  • Dampak perang dunia sangat menghancurkan.

Nama Geografi

Nama geografi, termasuk benua, negara, pulau, gunung, sungai, dan wilayah administrasi, selalu diawali huruf kapital.

Contoh:

  • Mengunjungi Gunung Rinjani di Pulau Lombok.
  • Selatan Jawa memiliki pantai-pantai indah.

Unsur Geografi Umum

Jika unsur geografi tidak diikuti nama diri (yaitu bersifat umum), maka ditulis dengan huruf nonkapital.

Contoh:

  • Anak-anak suka berenang di sungai.
  • Kami menyeberangi selat untuk mencapai pulau seberang.

Nama Geografi yang Jadi Nama Jenis: Huruf Kecil Saja!

Nama diri geografi yang sudah menjadi nama jenis (misalnya nama buah, makanan, atau benda yang berasal dari suatu tempat) ditulis dengan huruf nonkapital.

Contoh:

  • Dia menyukai jeruk bali yang manis.
  • Kami membeli kacang bogor sebagai oleh-oleh.

Catatan: Nama yang disertai nama geografi dan merupakan nama jenis dapat dikontraskan atau disejajarkan dengan nama jenis lain dalam kelompoknya.

Contoh:

  • Di bengkel, kami menggunakan kunci inggris, kunci pas, dan kunci roda.
  • Berbagai jenis batik yang dijual adalah batik solo, batik pekalongan, dan batik parang.

Nama Geografi untuk Asal Daerah: Kapital Lagi!

Ketika nama geografi digunakan untuk menyatakan asal daerah suatu produk, makanan, atau tarian, huruf kapital digunakan.

Contoh:

  • Membeli batik Cirebon yang indah.
  • Menyantap bubur Manado yang lezat.

Nama Negara, Lembaga, Dokumen Resmi: Huruf Kapital di Setiap Kata Penting!

Huruf pertama semua kata (termasuk unsur bentuk ulang utuh) pada nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen resmi, ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata tugas.

Contoh:

  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  • Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Judul Karya dan Nama Media Massa: Aturan Ejaan yang Ketat!

Setiap kata (termasuk unsur bentuk ulang utuh) di dalam judul buku, karangan, artikel, makalah, dan nama media massa, ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata tugas yang tidak berada di awal.

Contoh:

  • Dia membaca novel "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata.
  • Artikel itu diterbitkan di majalah "Dunia Sastra".

Singkatan Gelar dan Pangkat: Simpel dan Jelas!

Huruf pertama unsur singkatan nama gelar dan nama pangkat ditulis dengan huruf kapital.

Contoh:

  • B.A. (Master of Business Administration)
  • (Dokter Gigi)

Kata Kekerabatan dan Sapaan Lain: Tanda Penghormatan!

Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan (bapak, ibu, kakak, adik) dan kata atau ungkapan lain yang digunakan sebagai sapaan, ditulis dengan huruf kapital.

Contoh:

  • "Apakah Bapak sudah makan?" tanya pelayan.
  • "Silakan masuk, Kakak," ajak anak itu.

Selain penggunaan huruf kapital, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Ingin tahu informasi menarik lainnya? Jangan ketinggalan, pantau terus kabar terupdate dari VOI dan follow semua akun sosial medianya! 

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+