JAKARTA - Pendidikan merupakan landasan utama dalam membangun masa depan bangsa. Dalam konstitusi Indonesia, hak memperoleh pendidikan telah dijamin sepenuhnya, dan negara berkewajiban memastikan setiap warganya mendapatkan akses yang layak untuk mengenyam ilmu.
Namun, kenyataan di lapangan masih menunjukkan kesenjangan dalam dunia pendidikan belum sepenuhnya teratasi. Banyak anak-anak Indonesia yang harus berjuang ekstra demi mendapatkan pendidikan yang seharusnya menjadi hak mereka.
Melihat kenyataan tersebut, aplikasi sosial Belas Kasih menginisiasi langkah konkret dengan menggandeng publik figur yang memiliki kepedulian nyata terhadap dunia pendidikan. Sosok yang dipilih adalah Damar Rizal Marzuki, seorang akademisi sekaligus publik figur, yang juga merupakan putra dari aktor Epy Kusnandar.
Damar tidak hanya dikenal lewat layar kaca, tetapi juga melalui kiprahnya di dunia pendidikan dan kemanusiaan. Ia berhasil menuntaskan studi hingga tingkat magister dan kini aktif mengabdi sebagai dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Komitmennya terhadap dunia pendidikan ditunjukkannya lewat aksi, bukan hanya wacana.
"Saya percaya pendidikan adalah jembatan untuk memutus rantai kemiskinan, memperluas wawasan, dan membangun karakter bangsa. Banyak anak di luar sana yang punya semangat besar, tapi terkendala akses dan biaya. Itu yang membuat saya tak bisa tinggal diam," ujar Damar, dari keterangan resmi Belas Kasih.
BACA JUGA:
Sebagai Duta Kasih Pendidikan, Damar Rizal tidak sekadar menjadi simbol. Ia akan terlibat aktif dalam program-program Belas Kasih, mulai dari kampanye literasi digital, pelatihan keterampilan bagi pelajar dari keluarga prasejahtera, hingga penggalangan dana beasiswa dan kegiatan mentoring di berbagai daerah tertinggal.
"Sebagai Duta Kasih Pendidikan lantaran saya seorang warga negara yang percaya setiap orang berhak untuk belajar dan berkembang, tanpa batas. Dan realitas yang kita temukan hari ini, masih banyak anak-anak generasi penerus bangsa yang putus sekolah dari mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi, karena mahalnya biaya pendidikan di negeri ini," tutur Damar.
"Saya enggak tahu siapa yang salah. Namun tugas kita bukan mencari-cari kesalahan. Tapi berbuat bersama, untuk memperbaiki kesalahan. Mengambil peran serta secara aktif dan kongkret dalam mengentaskan masyarakat yang miskin pendidikan menjadi masyarakat yang terdidik, terpelajar, dan memiliki kualitas unggul dalam bersaing di kancah global," tambahnya.
Pihak Belas Kasih pun menyambut baik peran serta Damar. General Manager Belas Kasih, Satrio Purnomo, mengungkapkan penunjukan ini dilandasi oleh rekam jejak dan dedikasi Damar dalam dunia pendidikan.
"Kami melihat sosok Damar bukan hanya dari popularitasnya, tetapi dari konsistensinya dalam dunia pendidikan. Kami percaya, melalui peran Duta Kasih Pendidikan, ia dapat menjadi inspirasi nyata bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab negara, tapi tanggung jawab kita bersama," jelas Satrio.
"Karenanya bagi kita yang peduli akan pendidikan dan satu visi dengan Damar, Duta Kasih Pendidikan, mari kita sama-sama mendownload aplikasi Belas Kasih di Google Play Store, dan menyalurkan donasi kita ke aplikasi yang kredibel, akuntabel di mata publik," lanjutnya.
Kondisi pendidikan di pelosok masih jauh dari kata layak. Tak sedikit anak-anak Indonesia yang belajar tanpa buku, duduk di lantai tanah, dan menempuh jarak jauh hanya untuk pergi ke sekolah. Ketimpangan ini bukan hanya menyedihkan, tetapi juga menjadi alarm bahwa kita semua harus turut serta dalam perubahan.
Melalui aplikasi Belas Kasih, masyarakat bisa berkontribusi dalam berbagai bentuk, mulai dari donasi, menjadi relawan pengajar, hingga menyumbangkan sarana pendidikan. Setiap langkah, sekecil apa pun, memiliki potensi besar untuk mengubah masa depan bangsa.