JAKARTA - Sudah mandi dua kali sehari, pakai sabun antibakteri, bahkan memakai deodoran, tapi tetap saja bau badan tidak kunjung hilang?
Ternyata, masalah bau badan tidak selalu berarti Anda kurang bersih. Menurut para ahli, ada banyak faktor lain di luar kebersihan tubuh yang bisa menyebabkan munculnya bau badan, meskipun Anda sudah menjaga kebersihan dengan baik.
Bau badan sebenarnya bukan berasal dari keringat itu sendiri, melainkan dari bakteri yang memecah protein dalam keringat menjadi asam. Proses inilah yang menciptakan aroma tak sedap, terutama di area seperti ketiak, selangkangan, dan lipatan tubuh lainnya.
Kelenjar keringat terbagi menjadi dua jenis:
- Kelenjar Apokrin: Terdapat di area berbulu seperti ketiak dan selangkangan. Keringat dari kelenjar ini mengandung lemak dan protein yang mudah diuraikan oleh bakteri, menyebabkan bau menyengat.
- Kelenjar Ekrin: Tersebar di seluruh tubuh dan menghasilkan keringat yang lebih encer untuk mengatur suhu tubuh, namun tidak menimbulkan bau signifikan.
Berikut beberapa alasan mengapa bau badan bisa tetap muncul meski sudah mandi dan menjaga kebersihan, seperti dilansir dari Very Well Health.
1. Perubahan Hormon
Selama masa pubertas, kehamilan, atau menopause, perubahan hormon dapat memengaruhi aktivitas kelenjar keringat. Hormon yang meningkat dapat membuat produksi keringat lebih banyak dan berbau tajam.
2. Pola Makan
Makanan tertentu seperti bawang putih, bawang bombay, brokoli, kubis, kembang kol, serta makanan pedas dan berkafein bisa memicu bau badan. Kandungan sulfur dan senyawa tajam dari makanan tersebut akan dikeluarkan melalui keringat.
3. Stres dan Kecemasan
Ketika stres, tubuh memproduksi lebih banyak keringat dari kelenjar apokrin. Keringat ini lebih pekat dan cenderung berbau. Inilah sebabnya bau badan bisa makin terasa ketika sedang gugup atau tegang.
BACA JUGA:
4. Pemilihan Pakaian
Pakaian berbahan sintetis seperti poliester, spandeks, atau rayon dapat memerangkap keringat dan panas. Hal ini menciptakan lingkungan lembap yang ideal bagi pertumbuhan bakteri penyebab bau.
5. Obesitas
Orang dengan berat badan berlebih cenderung memiliki lebih banyak lipatan kulit, yang dapat memerangkap keringat dan memudahkan bakteri berkembang biak.
6. Penyakit Tertentu
Kondisi medis seperti diabetes, hipertiroidisme, infeksi kulit (seperti trikomikosis aksilaris), hingga gangguan ginjal atau hati bisa mengubah aroma tubuh. Misalnya, bau seperti amonia atau urin bisa menjadi tanda gangguan fungsi ginjal.
7. Efek Samping Obat
Beberapa obat seperti antidepresan, antiinflamasi non-steroid (NSAID), hingga suplemen tertentu (seperti omega-3) dapat menyebabkan peningkatan produksi keringat atau mengubah aroma tubuh.
Jika Anda sudah menjaga kebersihan namun bau badan tetap muncul, berikut beberapa tips tambahan yang bisa dicoba:
- Gunakan sabun antibakteri atau sabun dengan benzoil peroksida untuk mengurangi jumlah bakteri pada kulit. Setelah berolahraga atau banyak berkeringat, jangant tunda untuk mandi.
- Gunakan pakaian dari bahan yang menyerap keringat seperti katun, linen, atau serat alami lainnya.
- Cukur atau waxing area ketiak untuk mengurangi penumpukan bakteri.
- Kurangi konsumsi makanan penyebab bau badan.
- Gunakan deodoran dan antiperspiran atau pilih produk kombinasi. Bila perlu, konsultasikan penggunaan produk yang diresepkan dokter.
- Konsultasi ke dokter bila bau badan muncul tiba-tiba, berubah drastis, atau disertai gejala lain.